Pisang yang Berbicara
Jangan pernah menyerah. Buatlah orang lain tersenyum karena kehadiranmu. Yang penting bukanlah masa lalumu, melainkan masa depan yang akan kamu raih. Beberapa murid sebuah sekolah di Virginia Beach, Virginia, menemukan pesan-pesan tersebut dan banyak lagi pesan lain ditulis pada kulit pisang yang menjadi salah satu menu makan siang mereka. Stacey Truman, sang manajer kantin, sengaja menuliskan pesan-pesan itu pada buah tersebut, yang oleh anak-anak kemudian dijuluki sebagai “pisang yang berbicara.”
Perantara Dalam Doa
Pada suatu Sabtu sore, kami sekeluarga mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Saat pramusaji meletakkan wadah berisi hamburger dan kentang goreng renyah di atas meja, suami saya mendongak dan menanyakan namanya. Suami saya berkata, “Kami sekeluarga terbiasa berdoa sebelum makan. Adakah yang bisa kami doakan untukmu hari ini?” Pramusaji bernama Allen itu pun melihat kami dengan pandangan terkejut bercampur waswas. Ia terdiam sejenak sebelum memberi tahu kami bahwa setiap malam ia menumpang tidur di sofa dalam rumah temannya, mobilnya baru saja mogok, dan ia sendiri tidak punya uang.
Dia Tahu Semuanya
Kami memelihara Finn, seekor ikan cupang hias, di rumah kami selama dua tahun. Anak perempuan saya kerap membungkukkan badan di atas akuarium dan mengajaknya ngobrol setelah memberinya makan. Ketika ada topik tentang hewan peliharaan di taman kanak-kanaknya, ia dengan bangga bercerita tentang Finn. Pada suatu hari, Finn mati, dan putri saya sedih sekali.
Saatnya Memakai Hiasan Kepala
Pada suatu pagi di bulan Januari, saya bangun tidur dan berharap bakal melihat pemandangan suram pertengahan musim dingin seperti yang sudah terjadi berminggu-minggu: rumput coklat menyembul di sela petak-petak salju, langit kelabu, dan pohon-pohon meranggas. Namun, ada yang tidak biasa terjadi malam sebelumnya. Embun beku menyelimuti semuanya dengan kristal es. Pemandangan muram telah menjadi panorama indah yang berkilauan oleh pantulan cahaya matahari pagi, sehingga saya pun dibuat takjub.
Pelita Penuntun Kami
Di sebuah museum, saya cukup lama memperhatikan lampu-lampu kuno yang dipamerkan. Keterangan menyebutkan bahwa lampu-lampu itu berasal dari Israel. Wadah-wadah oval yang berukir dan berbahan tanah liat itu memiliki 2 bukaan—satu untuk memasukkan minyak, dan satu lagi untuk sumbu. Meskipun bangsa Israel biasa menaruhnya di ceruk dinding, tetapi lampu-lampu itu cukup kecil untuk bisa digenggam dan dibawa-bawa.
Bahan Berbahaya
Suara sirene meraung-raung semakin keras saat sebuah mobil gawat darurat menyalip mobil saya. Terang lampu sirenenya yang berpendar menembus kaca depan mobil saya dan menerangi tulisan “Awas, bahan berbahaya” pada badan mobil itu. Belakangan saya baru tahu kalau truk tersebut sedang mengebut menuju sebuah laboratorium sains karena asam sulfat seberat 400 galon yang diangkutnya mulai bocor. Para petugas harus segera menampung zat tersebut karena kemampuannya merusak apa pun yang bersentuhan dengannya.
Diikat Menjadi Satu
Seorang teman memberikan tanaman hias koleksinya yang sudah dipeliharanya selama lebih dari empat puluh tahun. Tanaman itu setinggi saya dengan daun-daun besar yang tumbuh dari tiga batang kurus yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, berat daun-daun itu menyebabkan ketiga batangnya tumbuh melengkung ke bawah. Untuk meluruskannya, saya menyangganya dengan pasak yang ditaruh di bawah pot dan meletakkan pot tersebut dekat jendela supaya sinar matahari dapat menarik daun-daun tersebut ke atas dan mengembalikan bentuk tanaman tersebut seperti semula.
Berkenan di Mata Allah
Sebuah perusahaan konsultan teknologi mempekerjakan saya setelah lulus kuliah meskipun saya tidak bisa menulis kode komputer dan belum tahu banyak soal usaha teknologi informasi. Dalam proses wawancara untuk mengisi posisi pemula, saya baru tahu bahwa ternyata perusahaan ini tidak terlalu melihat pengalaman kerja. Sebaliknya, kualitas pribadi seseorang seperti kreativitas dalam menyelesaikan masalah, ketajaman dalam menilai sesuatu, dan kesanggupan bekerja sama dalam tim adalah hal-hal yang jauh lebih penting. Perusahaan menganggap bahwa para karyawan baru dapat diajari keterampilan yang dibutuhkan selama diri mereka memiliki kualitas sesuai dengan apa yang dicari oleh perusahaan.
Cinta yang Tak Terpadamkan
Saat pertama kalinya kami melihat parit di belakang rumah kami, bentuknya hanyalah aliran kecil air di sela-sela bebatuan di tengah teriknya matahari musim panas. Papan-papan kayu yang berat berfungsi sebagai jembatan yang memudahkan kami untuk menyeberang. Beberapa bulan kemudian, hujan deras turun di daerah kami selama beberapa hari berturut-turut. Parit kecil yang jinak itu tiba-tiba berubah menjadi sungai berarus deras dengan kedalaman kurang lebih 1 meter dan lebar 3 meter! Daya laju air sempat menyapu jembatan kayu di sana hingga berpindah tempat beberapa meter jauhnya.