Sauh Pengharapan Kita
Saya mengangkat sebuah gambar yang memperlihatkan orang-orang yang tidur di bawah lembaran karton pada gang remang-remang. Lalu saya bertanya kepada murid-murid kelas enam di sekolah Minggu, “Apa yang mereka butuhkan?” “Makanan,” jawab seorang murid. “Uang,” kata yang lain. “Tempat berlindung,” kata seorang anak laki-laki. Lalu seorang gadis berkata: “Harapan.”
Lepaskanlah
Pemilik toko buku tempat Keith bekerja baru dua hari pergi berlibur, tetapi Keith sudah panik. Sebetulnya semua berjalan lancar, tetapi sebagai asisten toko, Keith khawatir tidak mampu mengawasi toko dengan baik. Dengan kalut ia mengatur segala sesuatu sampai ke hal-hal yang remeh.
Ketika Anda Letih
Saya duduk dan terdiam di penghujung hari, dengan laptop terbuka di hadapan saya. Seharusnya saya senang karena sudah menyelesaikan pekerjaan hari itu, tetapi perasaan saya tidak demikian. Saya letih. Bahu saya nyeri karena mencemaskan masalah pekerjaan, dan pikiran saya penat karena memikirkan sebuah hubungan yang sedang bermasalah. Saya ingin lari dari semua itu, dan berpikir ingin menonton TV saja malam itu.
Apa Tujuan Hidup Saya?
“Saya merasa begitu tidak berguna,” kata Harold. “Saya sudah duda dan pensiun. Sementara anak-anak sibuk dengan keluarga mereka masing-masing, saya menghabiskan hari demi hari yang sunyi dengan melamun.” Sering ia berkata kepada putrinya, “Ayah sudah tua dan sudah banyak makan asam garam. Tidak ada lagi yang kukejar dalam hidup ini. Allah boleh mengambil nyawaku kapan saja.”
Saat Anda Kesepian
Pada pukul 7 malam, Hui-Liang berada di dapur, menyantap nasi dan sisa bakso ikan. Keluarga Chua, tetangganya di apartemen sebelah, juga sedang makan malam, dan suara tawa serta percakapan mereka memecah kesunyian apartemen Hui-Liang, tempat ia tinggal seorang diri sejak istrinya meninggal dunia. Hui-Liang telah belajar hidup berdamai dengan perasaan sepi. Setelah beberapa tahun, kepedihan yang dirasakannya sudah terasa biasa saja. Namun, malam itu, melihat sebuah mangkuk dan sepasang sumpit di atas mejanya membuat hatinya kembali pedih.
Anda Didengar
Dalam buku Physics, Charles Riborg Mann dan George Ransom Twiss bertanya, “Ketika sebatang pohon tumbang di suatu hutan yang sepi, dan tidak ada binatang di dekat situ yang mendengarnya, apakah pohon itu mengeluarkan suara?” Bertahun-tahun pertanyaan tersebut telah melahirkan diskusi filosofis dan ilmiah mengenai suara, persepsi, dan eksistensi. Namun, sejauh ini, belum pernah ada jawaban pasti.
Selalu Setia
Saya mudah khawatir. Dini hari adalah waktu yang sulit karena saya sering bergumul dengan pikiran saya sendiri. Untuk menghadapinya, saya menempelkan kutipan berikut dari Hudson Taylor pada cermin kamar mandi, agar saya dapat membacanya ketika sedang merasa rapuh: “Allah yang hidup itu sungguh ada. Dia telah bersabda di dalam Alkitab. Dia bersungguh-sungguh dengan perkataan-Nya dan akan setia pada semua janji-Nya.”
Kasih yang Nyata
“Aku merasa seperti kehilangan pijakan,” cerita Jojie. “Rasanya syok sekali ketika mengetahui hal itu.” Jojie baru saja mendapati bahwa ternyata tunangannya berhubungan dengan wanita lain. Hubungan Jojie sebelumnya juga berakhir dengan cara yang sama. Jadi, ketika kemudian ia mendengar tentang kasih Allah dalam sebuah kelas pendalaman Alkitab, tak ayal itu membuatnya berpikir: Apakah ada udang di balik batu? Akankah aku tersakiti bila aku percaya kepada Allah yang berkata bahwa Dia mengasihiku?
Allah, Tempat Kediaman Kita
Suatu sore ketika saya sedang joging tak jauh dari sebuah lokasi pembangunan di kompleks kami, seekor anak kucing yang kurus dan kotor mengeong dengan memelas dan mengikuti saya sampai ke rumah. Hari ini, Mickey telah menjelma menjadi kucing dewasa yang sehat dan gagah. Ia menikmati kehidupan yang nyaman di rumah kami, dan keluarga kami sangat menyayanginya. Setiap kali saya joging melewati jalan tempat saya menemukannya, saya sering membatin, Terima kasih, Tuhan. Mickey tidak lagi hidup di jalan. Dia punya rumah sekarang.