Buah yang Bertahan Selamanya
Teman saya Ruel menghadiri reuni SMA yang diadakan di rumah teman sekelasnya dahulu. Rumah temannya yang terletak di tepi laut dekat Teluk Manila itu tampak megah dan dapat menampung dua ratus orang, tetapi membuat Ruel merasa kecil.
Ketika Kita Takut
Saya harus menjalani pemeriksaan kesehatan yang sudah dijadwalkan, dan meskipun tidak ada keluhan baru-baru ini, saya tetap takut melakukannya. Saya dihantui ingatan tentang diagnosis tidak terduga yang pernah saya terima di masa lalu. Walaupun tahu Allah menyertai dan saya hanya perlu mempercayai-Nya, masih saja saya merasa takut.
Allah Menebus Kepedihan Kita
Olive memperhatikan peralatan dokter gigi miliknya dimasukkan ke mobil. Temannya sesama dokter gigi membeli peralatan-peralatannya yang masih baru itu darinya. Olive sudah lama bermimpi ingin membuka praktiknya sendiri, tetapi ketika anaknya, Kyle, terlahir dengan palsi serebral, ia harus berhenti bekerja demi merawat anaknya.
Demi Kepentingan Injil
Pada tahun 1916, Nelson baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran di Virginia, Amerika Serikat, tempat kelahirannya. Di tahun yang sama, ia dan istri yang dinikahinya enam bulan sebelumnya, tiba di Tiongkok. Pada usia dua puluh dua tahun, ia menjadi dokter bedah di Love and Mercy Hospital, satu-satunya rumah sakit di daerah yang berpenduduk tidak kurang dari dua juta orang. Nelson dan keluarganya tinggal di sana selama dua puluh empat tahun, memimpin rumah sakit, melakukan tindakan operasi, dan mengabarkan Injil kepada ribuan orang. Nelson Bell semula dijuluki “iblis asing” oleh mereka yang mencurigai orang asing, tetapi ia akhirnya dikenal sebagai “The Bell (Lonceng) yang Mengasihi Orang-orang Tiongkok.” Putrinya, Ruth, kelak menikah dengan penginjil bernama Billy Graham.
Apakah Engkau Tetap Mengasihiku?
Lyn-Lyn yang berusia sepuluh tahun akhirnya diadopsi. Namun, ia merasa takut. Di panti asuhan tempatnya dibesarkan, ia sering dihukum hanya karena kesalahan-kesalahan kecil. Lyn-Lyn bertanya kepada ibu angkatnya, yang adalah teman saya, “Apakah Ibu menyayangiku?” Ketika teman saya menjawab “Ya, tentu,” Lyn-Lyn masih bertanya, “Kalau aku berbuat salah, apakah Ibu tetap menyayangiku?”
Mempercayai Nama-Nya
Sewaktu kecil, ada masanya saya takut pergi ke sekolah. Beberapa anak perempuan suka merisak saya dengan lelucon kejam. Jadi, pada jam istirahat, saya sering mendekam di perpustakaan dan membaca buku-buku cerita Kristen. Saya ingat pertama kalinya membaca nama “Yesus”. Entah bagaimana, saya tahu bahwa inilah nama Pribadi yang mengasihi saya. Pada bulan-bulan berikutnya, setiap kali saya masuk sekolah dengan perasaan takut bakal dirundung, saya berdoa, “Yesus, lindungi aku.” Saya pun merasa lebih kuat dan tenang, karena tahu bahwa Dia mengawasi saya. Seiring waktu, anak-anak perempuan itu bosan mengganggu saya dan berhenti melakukannya.
Ketika Butuh Pertolongan
Senin pagi itu, sahabat saya Chia-ming tidak berada di kantor. Ia ada di rumah, sedang membersihkan kamar mandi. Sebulan sudah aku menganggur, pikirnya, dan belum ada tawaran pekerjaan. Perusahaannya gulung tikar karena dampak pandemi COVID-19 dan kekhawatiran akan masa depan membuat Chia-ming gentar. Aku perlu menafkahi keluargaku, pikirnya. Ke mana aku dapat mencari pertolongan?
Allah Melihat Anda
Pagi hari sering membawa kegelisahan yang besar bagi teman saya, Alma, seorang ibu tunggal dengan dua anak. Katanya, “Ketika suasana masih sepi, kekhawatiran muncul dalam hatiku. Sambil melakukan urusan rumah tangga, aku tidak bisa berhenti memikirkan kondisi keuangan keluarga kami, belum lagi urusan kesehatan dan pendidikan anak-anak.”
Kesombongan dan Tipu Daya
Ya Allah Pengasih, terima kasih atas teguran-Mu yang lembut. Dengan bahu membungkuk, saya membisikkan kata-kata yang sulit terucap itu. Aku begitu arogan, karena mengira aku dapat melakukan semuanya sendiri. Selama berbulan-bulan saya menikmati keberhasilan dalam berbagai proyek di tempat kerja, sehingga tanpa sadar telah terbuai untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri dan menolak pimpinan Allah. Ketika menghadapi suatu proyek yang sulit, barulah saya disadarkan bahwa sebenarnya saya tidak sepandai yang saya kira. Hati yang pongah telah memperdaya saya untuk meyakini bahwa saya tidak membutuhkan pertolongan Allah.