Dia Tahu
Lea akan berangkat bekerja sebagai perawat di Taiwan. Dengan bekerja di sana, ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih baik daripada di kota Manila yang sangat terbatas dalam menawarkan kesempatan kerja. Pada malam sebelum keberangkatannya, ia berpesan kepada saudara perempuannya yang akan mengasuh putrinya yang baru berusia lima tahun. “Ia mau minum vitamin asal diberi sesendok selai kacang,” ujar Lea. “Dan jangan lupa, ia pemalu, pelan-pelan ia pasti mau bermain bersama sepupu-sepupunya. Ia juga takut gelap . . .”
Keramah-tamahan Sejati
“Kumain ka na ba?” (Sudah makan?)
Damai Sejahtera-Nya
Selama beberapa bulan, saya menghadapi politik dan intrik hebat di tempat kerja. Sebenarnya saya orang yang mudah mengkhawatirkan segala sesuatu, jadi saya heran saat itu saya justru merasa tenang. Alih-alih merasa waswas, saya justru dapat merespons keadaan itu dengan pikiran dan hati tenang. Saya tahu damai sejahtera itu hanya mungkin datang dari Allah.
Saat Tak Sanggup Lagi Melangkah
Pada tahun 2006, ayah saya didiagnosa menderita penyakit syaraf yang membuatnya kehilangan ingatan, kemampuan berbicara, dan kendali atas gerak-gerik tubuhnya. Pada tahun 2011, beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur dan dirawat oleh ibu saya di rumah. Masa-masa awal dari penyakitnya menjadi pengalaman yang kelam. Saya merasa takut, karena saya tidak tahu bagaimana harus merawat orang sakit, dan saya mengkhawatirkan kondisi keuangan serta kesehatan ibu saya.
Orang Biasa, Iman Luar Biasa
Ketika Anita meninggal dunia dalam tidur pada hari ulang tahunnya yang kesembilan puluh, kepergiannya yang tenang mencerminkan kehidupannya yang juga tenang. Sebagai seorang janda, Anita telah membaktikan diri untuk anak-anak dan cucu-cucunya, serta menjadi sahabat bagi saudari-saudari yang lebih muda di gereja.
Segala yang Anda Perlukan
Saat duduk di meja makan, saya memperhatikan keseruan yang tengah berlangsung di sekeliling saya. Paman, bibi, saudara-saudara sepupu, dan para keponakan sedang menikmati makanan dan kebersamaan di acara reuni keluarga kami. Saya juga menikmatinya. Namun, terlintas suatu pikiran yang mengusik hati saya: Kau satu-satunya perempuan di sini yang tidak punya anak, dan tidak punya keluarga sendiri.
Berdoa untuk Segala Sesuatu
Anak kucing yang kotor itu duduk tenang di lantai beton dan memandangi saya dengan cara yang elegan. Bersama beberapa saudaranya, anak kucing itu tinggal di lantai parkir bawah tanah dari gedung kantor klien saya berada. Karena merasa kasihan kepada kucing-kucing itu, saya menitipkan makanan kucing kepada seorang petugas keamanan agar kucing-kucing itu diberi makan setiap hari, dan saya juga membelikannya lagi kalau sudah habis.