Iman yang Berakar dalam Allah
Hati saya tergugah ketika membaca kisah bersejarah tentang kehidupan Mary McLeod Bethune, pendiri Universitas Bethune-Cookman. Kisah tentang keteguhan hati dan kepeduliannya terhadap orang lain membuat saya ingin tahu lebih banyak. Dalam salah satu kisah, diceritakan bahwa di awal tahun 1900-an, Bethune “menggambarkan” bangunan-bangunan di sekolah yang ia dirikan untuk para perempuan muda Afrika-Amerika kepada seorang pengusaha kaya. Namun, ketika pengusaha itu berkunjung ke “kampus” tersebut, ia hanya menemukan satu bangunan yang berdiri. Ternyata Bethune membagikan mimpinya kepada sang pengusaha, dengan harapan ia mau berinvestasi mendukung sekolah itu. Iman dan visi Bethune berpadu sehingga dana yang diharapkannya berhasil diperoleh. Sekolah yang dibangunnya pun berkembang hingga menjadi universitas yang menawarkan program sarjana.
Tanah yang Baik di dalam Allah
Setiap tahun, menjelang akhir musim semi, saya selalu menanam benih mentimun di kebun rumah kami. Benih itu cepat menghasilkan daun, tetapi butuh waktu cukup lama untuk menghasilkan buah. Pada suatu musim panas, setelah menyiraminya dan menunggu, saya sempat bertanya-tanya apakah buah mentimun akan benar-benar tumbuh. Saya juga berpikir, apakah saya menanam terlalu banyak benih yang terlalu berdekatan, atau tanahnya belum cukup hangat ketika saya menanamnya? Namun, suatu hari, saya melihat sebuah bulatan kecil berwarna hijau. Minggu berikutnya, muncul satu lagi. Lalu satu lagi. Dalam beberapa minggu, sulur-sulur pun berubah menjadi tanaman dengan buah yang cukup untuk membuat selada selama seminggu.
Melayani seperti Kristus
Saat mengunjungi seorang rekan yang dirawat di rumah sakit, saya terkesan dengan tindakan seorang dokter muda yang hadir bersama rekan-rekan dokter muda lainnya. Mereka sedang mendengarkan penjelasan seorang dokter senior tentang kondisi pasien. Tiba-tiba, rekan saya dengan cemas berkata bahwa ia perlu ke kamar mandi, tetapi kesulitan untuk bangun. Ia bahkan tidak sanggup menunggu perawat untuk datang membantunya.
Kepuasan Sejati di dalam Allah
Tiga puluh tahun lalu, saya mengikuti sebuah aktivitas dalam lokakarya bagi para pengangguran yang masih membekas dalam ingatan saya hingga kini. Saya dan rekan-rekan lain yang terkena PHK diminta untuk menulis pidato menjelang pensiun. Tentu saja kami merasa bingung, karena saat itu kami sedang mencari pekerjaan dan masih jauh dari usia pensiun. Namun, fasilitatornya menjelaskan tujuan dari aktivitas tersebut, “Pidato Anda kemungkinan tidak akan berkaitan langsung dengan pekerjaan Anda.” Ia menegaskan bahwa pekerjaan bukanlah pusat hidup kita. Kita mungkin menyesali pekerjaan yang hilang, tetapi sesungguhnya hidup kita jauh lebih bermakna daripada sekadar memiliki pekerjaan.
Iman Kawan-Kawan
Dalam sebuah konferensi, seorang wanita melihat kawannya yang menjadi penyaji materi hari itu tampak kurang sehat. Kawan ini bersikeras menyelesaikan tugasnya dan berjanji akan menemui dokter keesokan paginya jika masih merasa tidak enak badan. Wanita itu tidak melupakan janji tersebut, tetapi karena harus pergi lebih awal, ia meminta seorang rekan yang lain untuk mengecek keadaan kawan tadi.
Berfokus pada Allah
Suatu kali, seorang rekan kerja menelepon untuk membahas sebuah masalah. Ia sempat menanyakan kabar saya, dan saya menceritakan bahwa saya sedang mengalami infeksi sinus yang cukup menyiksa, sementara obat yang saya konsumsi belum memberikan hasil. Mendengar itu, ia bertanya, “Bolehkah aku mendoakanmu?” Setelah saya mengiyakan, ia pun menaikkan doa singkat sepanjang 30 detik kepada Allah untuk memohon kesembuhan bagi saya. Saya mengaku kepadanya, “Kadang aku lupa berdoa. Aku terlalu berfokus pada rasa sakitku hingga lupa untuk mencari Tuhan.”
Sukacita dan Kekuatan dalam Allah
Di Museum New Orleans, di antara karya-karya warna-warni dari botol plastik bekas yang dipotong menyerupai bulu dan kap lampu, seorang pemandu wisata menjelaskan alasan penggunaan bahan tersebut. Ia berkata, “Bagi sebuah kota yang telah mengalami banyak masalah, kami belajar untuk menciptakan kebahagiaan dan keindahan dari apa yang kami miliki. Kami tidak hanya berfokus pada masa-masa sulit; kami merayakan ketangguhan.”
Ucapan Syukur yang Rendah Hati
Pada suatu hari raya Thanksgiving, saya menelepon orangtua saya. Di tengah obrolan kami, saya bertanya kepada ibu saya hal apa yang paling ia syukuri. Dengan bersemangat, ia berkata yang paling disyukurinya adalah bahwa ketiga anaknya telah mengenal Tuhan. Bagi seseorang yang selalu menekankan pentingnya pendidikan seperti ibu saya, ternyata ada yang jauh lebih bernilai bagi anak-anaknya daripada prestasi belajar dan kemandirian.
Bekerja Bersama dalam Kristus
“Di mana pun Anda berada, apa pun yang Anda alami; pakailah apa yang Anda miliki dan manfaatkan sebaik-baiknya,” kata seorang pemudi dalam sebuah wawancara televisi. Kata-katanya mendorong saya untuk mendengarkan seluruh kisah hidupnya. Saya pun mengetahui bahwa ia adalah salah seorang dari enam bersaudara perempuan yang semuanya berusaha meraih gelar keperawatan. Mereka pernah menjadi tunawisma dan hidup dalam kesulitan, tetapi mereka bekerja bersama untuk mencapai tujuan mereka. Pada saat kisah itu ditayangkan, keenam saudara perempuan itu sudah hampir menyelesaikan program keperawatan di sebuah universitas lokal.