Kerinduan untuk Pulang
Ethel dan Ed tinggal di daerah gurun pada pegunungan Rocky, AS. Saat mengunjungi keduanya di peternakan mereka yang penuh dengan barang kenang-kenangan, kami bercakap-cakap tentang masa kecil mereka—saat menunggang kuda di padang rumput North Dakota dan menggembalakan ternak di Montana. Kini mereka sudah berusia lanjut, dan dari cerita mereka, saya dapat mendengar kerinduan akan rumah mereka yang lama.
Berdoa dengan Janji Allah
“Tidak, kamu tidak boleh pergi ke danau,” kata saya kepada putri saya sembari menunduk di bawah wastafel untuk memperbaiki pipa bocor. “Tapi Papa berjanji kalau aku sudah menyelesaikan tugasku, aku boleh pergi,” katanya mengingatkan. Saya memang lupa sudah menjanjikan itu karena kesibukan saya. Masalah yang saya hadapi membuat saya lalai menepati kata-kata saya.
Mengikuti Yesus yang Rendah Hati
Dekat rumah kami, ada sebuah taman terkenal tempat kami sering berjalan santai bersama seorang anak laki-laki yang kami asuh. Area favoritnya adalah Taman Anak-Anak, dan di sana terdapat sebuah pintu kecil yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya, tetapi cukup rendah untuk membuat saya harus membungkuk jika ingin melewatinya. Ia tertawa riang melihat saya berlutut dan menggeliat saat melewati pintu itu untuk mengejarnya.
Mata yang Melihat Segalanya
Jason dan Pierre telah bekerja bersama selama satu dekade memasang pelapis dinding luar rumah. Mereka berdua sahabat baik, meski jarang berbicara. Saat bekerja, hampir tak ada kata yang terucap di antara mereka. Namun, mereka mengenal baik satu sama lain sehingga untuk berkomunikasi, mereka cukup menganggukkan kepala atau menggunakan lirikan mata. Isyarat-isyarat kecil seperti itu memiliki makna yang mendalam.
Penerimaan yang Murah Hati
Beberapa tahun lalu, gereja kami menerima kehadiran para pengungsi yang melarikan diri akibat perubahan kepemimpinan politik di negara mereka. Banyak keluarga pengungsi datang dengan hanya membawa sebuah tas kecil untuk menyimpan barang-barang mereka. Meski ruang yang tersedia terbatas, beberapa keluarga dalam gereja kami membuka pintu rumah mereka untuk berbagi tempat tinggal.
Misi Radikal
Diognetus, seorang penyembah berhala dari abad ke-2, memperhatikan bahwa para pengikut Kristus “bertambah jumlahnya dari hari ke hari.” Hal ini terus terjadi meski mereka mengalami penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi. Ia bertanya kepada salah seorang percaya mengapa hal itu dapat terjadi. Dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai Surat kepada Diognetus, bapa gereja mula-mula itu menjawab demikian, “Tidakkah Anda melihat bahwa semakin banyak dari mereka yang mendapat hukuman, semakin bertambah jumlah orang yang percaya? Tampaknya ini bukan pekerjaan manusia: ini adalah karya kuasa Allah.”
Juruselamat yang Bermigrasi
Pada tahun 1947, dengan bubarnya Kemaharajaan Britania di India, lebih dari 15 juta orang bermigrasi karena alasan keagamaan. Pergolakan ini diperburuk oleh banjir musim hujan dan penyebaran penyakit. Pada masa itu, lebih dari satu juta orang pengungsi meninggal dunia.
Mengenali Yesus
Sewaktu Carlotta masih kecil, ia mengira ibunya memiliki karunia istimewa dalam mengenali orang lain. Namun, sebenarnya Carlotta yang istimewa. Ia memiliki kondisi langka bernama prosopagnosia yang membuatnya tidak dapat mengenali atau mengingat wajah orang.
Ujian Iman Kita
Pada tahun 304 m, kaisar Romawi Maximianus memasuki kota Nikomedia dengan penuh kejayaan. Diadakanlah pawai yang mengumpulkan seluruh warga kota untuk bersyukur kepada dewa-dewa kafir atas kemenangan itu. Setiap orang hadir di sana, kecuali satu gereja yang dipenuhi orang-orang yang menyembah satu-satunya Allah yang benar. Maximianus memasuki gereja dengan sebuah ultimatum: siapa saja yang menyangkal imannya kepada Kristus akan terlepas dari hukuman. Seluruh jemaat itu menolak, dan akhirnya terbunuh ketika Maximianus memerintahkan agar gedung gereja tersebut dibakar bersama dengan orang-orang percaya di dalamnya.