Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Monica La Rose

Hati yang Dilapangkan

Dalam tulisannya yang berjudul Confessions, Agustinus bergumul dengan pertanyaan: bagaimana mungkin Allah menjalin relasi dengannya? Bagaimana Sang Pencipta alam semesta dapat masuk ke dalam hatinya yang kecil dan berdosa? Ia pun memohon kepada Allah agar hal itu menjadi mungkin, dengan berdoa, “Kediaman jiwaku ini sempit. Lapangkanlah ya Allah, agar Engkau dapat memasukinya. Hatiku sudah hancur dan rusak! Perbaikilah! Ada hal-hal di dalamnya yang tidak berkenan di mata-Mu. Aku mengakui dan menyadarinya. Namun, siapa yang akan menyucikannya, atau kepada siapa aku dapat berseru, kecuali kepada-Mu?”

Bertekad untuk Berbuat Lebih Sedikit

Ketika kita memikirkan resolusi Tahun Baru, yang mungkin muncul adalah daftar ambisi muluk-muluk yang jarang tercapai—faktanya, 80 persen resolusi biasanya gugur sebelum pertengahan Februari. Penulis Amy Wilson menawarkan pendekatan yang berbeda: ia menolak gagasan bahwa kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar hidup kita berubah menjadi lebih baik. Alih-alih menambah komitmen, saran Wilson, kita perlu melihat tahun baru sebagai kesempatan untuk berbuat lebih sedikit. Kita perlu mulai “berkata tidak” kepada sejumlah “komitmen yang terlalu besar dan berkepanjangan, yang menguras waktu dan energi kita tetapi tidak memberi imbalan yang sepadan.”

Jangan Lakukan Sendiri

Ketika saya membuka panduan merakit rak buku, dengan papan-papan dan alat-alat berserakan di depan saya, saya disambut oleh serangkaian ilustrasi yang menunjukkan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak. Salah satu gambar bertanda silang besar menampilkan seseorang yang memandangi tumpukan papan dan peralatan dengan wajah bingung—sangat mirip dengan saya beberapa menit sebelumnya. Di sebelah kanan diperlihatkan cara merakit yang “benar.” Apa yang membedakan? Ada orang kedua di sana. Keduanya tersenyum sambil bekerja bersama.

Hidup bersama Yesus

Dokter Christian Ntizimira merasa Allah memanggilnya untuk menyediakan perawatan paliatif di wilayah-wilayah yang kurang terlayani di negara asalnya, Rwanda. Banyak rekannya tidak bisa melihat nilai penting dari perawatan tersebut karena “pasien-pasien itu sepertinya tidak lagi memiliki harapan.” Namun, Ntizimira mendapati bahwa bagi para pasien dan keluarga mereka, “kehadirannya menyalakan kembali harapan di tengah keadaan yang kelam.” Semangat Ntizimira dijaga oleh keyakinannya bahwa kematian dan kebangkitan Yesus sanggup memperbarui cara kita menghadapi kematian, sebab “kematian Kristus adalah sumber kehidupan.”

Allah Mengerti

Di dalam buku Dictionary of Obscure Sorrows (Kamus Penderitaan yang Tidak Mudah Dipahami), John Koenig menyusun sekumpulan kata-kata baru yang diciptakan untuk menamai perasaan-perasaan rumit yang sebelumnya tidak memiliki istilah. Bukunya mencakup kata-kata seperti dés vu, “kesadaran bahwa momen ini akan menjadi kenangan,” dan kata onism, “rasa frustrasi karena terperangkap dalam satu tubuh jasmani, yang hanya bisa berada di satu tempat pada satu waktu.” Koenig mengatakan bahwa ia bermaksud untuk menjelaskan semua hal unik dan asing yang dialami manusia pada umumnya, supaya mereka tidak merasa sendirian dalam pengalaman tersebut.

Melihat dengan Hati Allah

Setelah Chantale merayakan ulang tahunnya yang ketiga belas dengan pesta berjam-jam, tiba-tiba suara tembakan senjata memecah ketenangan desanya malam itu. Chantale dan saudara-saudaranya mematuhi perintah ibunya untuk bersembunyi dan lari ke hutan. Sepanjang malam, mereka meringkuk dengan dilindungi sebatang pohon. “Matahari muncul keesokan paginya, tetapi orangtua kami tidak,” kenang Chantale. Ia dan saudara-saudaranya menjadi yatim piatu dan pengungsi, tinggal bersama dengan puluhan ribu orang di sebuah kamp pengungsian.

Menang dengan Mengalah

“Tidak menang sebenarnya lebih berpengaruh daripada menang,” demikian pendapat Profesor Monica Wadhwa. Penelitiannya mengungkapkan bahwa orang cenderung lebih bersemangat dan termotivasi bukan pada saat mereka menang, tetapi ketika mereka nyaris menang. Kegagalan seseorang mencapai ambisinya cenderung memberikan motivasi untuk terus tumbuh dan berjuang. Sebaliknya, kemenangan yang dicapai dengan mudah cenderung melemahkan energi dan motivasi seseorang.

Pengetahuan yang Mulia

Teolog abad pertengahan Thomas Aquinas telah mengalami begitu banyak penderitaan karena mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencari Allah. Keluarganya sendiri pernah memenjarakannya demi menghentikan keinginannya untuk bergabung ke Ordo Dominikan, sebuah kelompok rahib yang membaktikan hidup mereka kepada kesederhanaan, pembelajaran, dan pemberitaan Injil. Setelah menghabiskan hampir seumur hidupnya mempelajari Kitab Suci dan alam ciptaan Allah, serta menulis hampir 100 judul buku, Aquinas menikmati pengalaman yang begitu intens dengan Allah sehingga ia menulis, “Saya tidak bisa menulis lagi, karena Allah telah memberiku pengetahuan yang begitu mulia sehingga semua hal yang pernah kutulis terasa seperti sia-sia.” Tiga bulan kemudian Aquinas meninggal dunia.

Dihormati dan Dibaca

Di rumah, kami memiliki sebuah rak yang penuh dan padat dengan buku. Saya sangat tertarik dengan buku-buku indah, terutama buku-buku bersampul keras (hardcover) yang bagus, dan dari tahun ke tahun koleksi tersebut terus bertambah. Sayangnya, saya tidak memiliki cukup waktu dan energi untuk benar-benar membaca semua buku yang saya koleksi. Buku-buku itu tetap indah, mulus, dan—sedihnya—tak terbaca.