Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Monica La Rose

Kemerdekaan dalam Kasih Allah

Pernahkah Anda mendengar ungkapan “albatros membelit leher”? Frasa yang berbicara tentang beban yang menyiksa ini berasal dari puisi terkenal karya penyair Inggris Samuel Coleridge yang berjudul “Rime of the Ancient Mariner” (“Sajak Pelaut Kuno”). Dikisahkan dalam puisi tersebut, seorang pelaut menembak dan membunuh seekor burung albatros yang jinak dan tidak berbahaya. Para awak kapal percaya bahwa tindakan kejam pelaut tadi mendatangkan kutukan atas pelayaran mereka, sehingga mereka memaksanya mengenakan burung yang mati tersebut pada lehernya sebagai hukuman.

Menyaksikan Keagungan Allah

Dalam soneta “God’s Grandeur,” penyair abad ke-19 Gerard Manley Hopkins merayakan bagaimana alam ciptaan Allah dipenuhi dengan “keagungan Allah” di mana-mana. Hopkins melukiskan kemuliaan Allah yang menakjubkan, menyala, dan berkilau “bagaikan gemerlap lempengan logam yang memantulkan cahaya.” Namun, jika keindahan Allah begitu nyata, mengapa begitu banyak orang melewatkannya? Hopkins berpendapat bahwa salah satu alasannya adalah karena manusia menutupi segalanya dengan “noda” dan “bau” mereka sendiri, sehingga banyak orang tak sanggup melihat melampaui diri mereka.

Allah Yang Maha Menyediakan

Pada tahun 2024, seorang remaja bernama Keegan berhasil menangkap seekor ikan barramundi sepanjang 60 cm. Kegembiraannya yang sederhana berubah menjadi sukacita besar ketika adik perempuannya melihat suatu penanda pada ikan itu. Rupanya ikan tersebut adalah bagian dari kompetisi memancing di Australia yang berhadiah satu juta dolar! Sebelum Keegan, belum pernah ada orang yang meraih hadiah utama dari acara tahunan yang telah berlangsung sejak 2015 tersebut.

Persembahan bagi Yesus

“Kulayangkan pandangku, yang redup oleh duka / Tiada bukit abadi yang tampak di mata,” tulis penyair era Victoria, Christina Rossetti, dalam puisinya yang menyayat hati “A Better Resurrection” (Kebangkitan yang Lebih Mulia). Puisi itu menggambarkan perjuangannya untuk terus berharap di tengah rasa hampa, “terlalu lelah ‘tuk berharap atau khawatir.” Namun, Rossetti memegang teguh pengharapan yang lebih dalam daripada perasaan putus asanya. Meski ia melihat “tiada kuncup atau tunas hijau” yang menandakan kebangkitan Kristus yang memperbarui hidupnya, ia mengaku: “Kebangkitan pasti terjadi” dan berdoa, “Ya Yesus, bangkitlah di dalamku.”

Hidup untuk Yesus

Pada tahun 2023, kepolisian Kenya bertindak tegas untuk mengakhiri peristiwa “Pembantaian Shakahola,” sebuah tragedi yang menewaskan ratusan orang setelah mereka mengikuti ajaran seorang pemimpin sekte yang menyuruh mereka berpuasa sampai mati demi berjumpa dengan Yesus. Pemimpin tersebut konon berjanji akan mengikuti jejak mereka, tetapi setelah ditangkap, ia menyangkal pernah mengajarkan hal itu.

Hati yang Dilapangkan

Dalam tulisannya yang berjudul Confessions, Agustinus bergumul dengan pertanyaan: bagaimana mungkin Allah menjalin relasi dengannya? Bagaimana Sang Pencipta alam semesta dapat masuk ke dalam hatinya yang kecil dan berdosa? Ia pun memohon kepada Allah agar hal itu menjadi mungkin, dengan berdoa, “Kediaman jiwaku ini sempit. Lapangkanlah ya Allah, agar Engkau dapat memasukinya. Hatiku sudah hancur dan rusak! Perbaikilah! Ada hal-hal di dalamnya yang tidak berkenan di mata-Mu. Aku mengakui dan menyadarinya. Namun, siapa yang akan menyucikannya, atau kepada siapa aku dapat berseru, kecuali kepada-Mu?”

Bertekad untuk Berbuat Lebih Sedikit

Ketika kita memikirkan resolusi Tahun Baru, yang mungkin muncul adalah daftar ambisi muluk-muluk yang jarang tercapai—faktanya, 80 persen resolusi biasanya gugur sebelum pertengahan Februari. Penulis Amy Wilson menawarkan pendekatan yang berbeda: ia menolak gagasan bahwa kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar hidup kita berubah menjadi lebih baik. Alih-alih menambah komitmen, saran Wilson, kita perlu melihat tahun baru sebagai kesempatan untuk berbuat lebih sedikit. Kita perlu mulai “berkata tidak” kepada sejumlah “komitmen yang terlalu besar dan berkepanjangan, yang menguras waktu dan energi kita tetapi tidak memberi imbalan yang sepadan.”

Jangan Lakukan Sendiri

Ketika saya membuka panduan merakit rak buku, dengan papan-papan dan alat-alat berserakan di depan saya, saya disambut oleh serangkaian ilustrasi yang menunjukkan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak. Salah satu gambar bertanda silang besar menampilkan seseorang yang memandangi tumpukan papan dan peralatan dengan wajah bingung—sangat mirip dengan saya beberapa menit sebelumnya. Di sebelah kanan diperlihatkan cara merakit yang “benar.” Apa yang membedakan? Ada orang kedua di sana. Keduanya tersenyum sambil bekerja bersama.

Hidup bersama Yesus

Dokter Christian Ntizimira merasa Allah memanggilnya untuk menyediakan perawatan paliatif di wilayah-wilayah yang kurang terlayani di negara asalnya, Rwanda. Banyak rekannya tidak bisa melihat nilai penting dari perawatan tersebut karena “pasien-pasien itu sepertinya tidak lagi memiliki harapan.” Namun, Ntizimira mendapati bahwa bagi para pasien dan keluarga mereka, “kehadirannya menyalakan kembali harapan di tengah keadaan yang kelam.” Semangat Ntizimira dijaga oleh keyakinannya bahwa kematian dan kebangkitan Yesus sanggup memperbarui cara kita menghadapi kematian, sebab “kematian Kristus adalah sumber kehidupan.”