Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Mike Wittmer

Murid Yesus yang Sejati

Ketika Christian Mustad menunjukkan lukisan pemandangan karya Van Gogh miliknya kepada kolektor seni Auguste Pellerin, Pellerin hanya mengamati sejenak dan langsung mengatakan bahwa lukisan tersebut bukan asli. Lukisan tersebut lalu disembunyikan Mustad di loteng rumahnya, dan bertahan di sana sampai lima puluh tahun. Mustad meninggal dunia, dan lukisan tersebut berulang kali dievaluasi selama empat puluh tahun berikutnya. Lukisan tersebut dinyatakan palsu setiap kali dievaluasi—hingga kemudian pada tahun 2012, seorang ahli menggunakan komputer untuk menghitung kepadatan benang kanvas dari lukisan tersebut. Ia menemukan bahwa kanvas lukisan tersebut merupakan bagian dari kain kanvas yang sama dengan lukisan-lukisan Van Gogh lainnya. Selama ini, ternyata Mustad memang memiliki lukisan Van Gogh yang asli. 

Kristen yang Bijak

Pandemi yang disebabkan oleh virus Corona membuat sekolah-sekolah di seluruh dunia ditutup. Di Tiongkok, para guru menanggapi kondisi tersebut dengan menggunakan DingTalk, sebuah aplikasi digital yang memungkinkan kelas diadakan secara daring. Namun, para murid mengetahui bahwa jika peringkat DingTalk di App Store (platform penyedia aplikasi ponsel) dinilai rendah, besar kemungkinan aplikasi tersebut akan dihapus. Dalam satu malam saja, ribuan murid yang menolak untuk belajar ramai-ramai memberikan penilaian satu bintang yang membuat peringkat DingTalk anjlok. 

Siapa Nama Anda?

Konon kita menjalani hidup ini dengan menyandang tiga nama: nama yang diberikan oleh orangtua kita, nama yang diberikan orang lain (reputasi kita), dan nama yang kita berikan kepada diri sendiri (karakter kita). Nama yang diberikan orang lain kepada kita itu penting, karena “nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams. 22:1). Namun, walaupun reputasi itu penting, karakter jauh lebih penting. 

Tidak Terpatahkan dalam Tuhan

Pesawat militer yang ditumpangi Louis Zamperini jatuh ke laut dalam peperangan dan menewaskan delapan dari sebelas penumpangnya. “Louie” dan dua temannya berhasil menyelamatkan diri dengan menaiki rakit penyelamat. Mereka terapung-apung di laut selama dua bulan, melawan serangan ikan hiu, bertahan di bawah terjangan badai, menghindari tembakan dari pesawat musuh, dan menangkap serta memakan ikan mentah dan burung. Akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau dan langsung ditangkap. Selama dua tahun Louie dipukuli, disiksa, dan dipaksa bekerja sebagai tawanan perang. Kisahnya yang luar biasa itu diceritakan dalam buku berjudul Unbroken.

Mengasihi Musuh

Saya buru-buru menyelinap masuk sebelum ia melihat saya. Saya merasa malu karena bersembunyi, tetapi saya tidak ingin berurusan dengannya saat itu—atau kapan pun. Saya ingin sekali memarahinya, atau menegurnya supaya ia sadar. Walaupun saya pernah dibuat kesal oleh perbuatannya di masa lalu, sepertinya sekarang saya justru membuatnya semakin jengkel!

Siapa yang Butuh Dukungan Anda?

Clifford Williams dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan yang tidak ia lakukan. Sementara menunggu eksekusi, ia berusaha mengajukan mosi peninjauan kembali terhadap bukti-bukti yang memberatkannya. Namun, setiap petisinya selalu ditolak—selama empat puluh dua tahun. Kemudian pengacara Shelley Thibodeau mempelajari kasusnya. Ia menemukan bahwa bukan hanya tidak ada bukti yang memberatkan Williams, tetapi sudah ada orang lain yang mengaku bersalah atas pembunuhan itu. Akhirnya, pada usia ketujuh puluh enam tahun, Williams dibebaskan dari tuduhan dan dilepaskan dari penjara.

Yesus Memulihkan Kita

Meski tidak bersalah, Sam harus kehilangan pekerjaannya di pabrik. Kecerobohan dari divisi lain meninggalkan masalah pada mobil-mobil yang mereka produksi. Setelah terjadi sejumlah kecelakaan, para pelanggan merasa khawatir dan berhenti membeli mobil dari perusahaan itu. Akibatnya, perusahaan harus melakukan perampingan dan Sam terkena imbasnya. Ia ikut menjadi korban dari kesalahan orang lain. Sungguh tidak adil.

Siapakah Diri Anda?

Suatu hari, pemimpin rapat daring kami menyapa, “Selamat Pagi!” Saya membalas sapaannya, tetapi pandangan saya tidak sedang ke arah beliau. Pikiran saya justru tertuju kepada tampilan wajah saya di layar komputer. Inikah penampilanku? Saya lalu memandangi wajah-wajah lainnya yang hadir dalam rapat melalui video tersebut. Saya dapat mengenali mereka semua. Kemudian saya kembali memperhatikan penampilan saya. Rasanya aku harus menurunkan berat badanku . . . dan mencukur rambut juga.

Zona Maut

Pada tahun 2019, seorang pendaki gunung melihat matahari terbitnya yang terakhir dari puncak Gunung Everest. Ia berhasil melakukan pendakian yang berbahaya, tetapi ketinggian telah mengakibatkan menimbulkan pembekuan pada jantungnya, dan ia menemui ajalnya saat menuruni gunung. Seorang ahli medis memperingatkan para pendaki untuk tidak menganggap puncak gunung sebagai akhir perjalanan. Mereka harus segera bangkit dan turun gunung, karena mereka “sebenarnya berada di Zona Maut.”