Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Patricia Raybon

Allah Kita yang Penuh Belas Kasihan

Pada suatu malam di musim dingin, seseorang melempari jendela kamar tidur seorang anak laki-laki Yahudi dengan batu. Di jendela tersebut terpasang gambar bintang Daud dan menorah sebagai lambang perayaan Hanukkah, hari raya Yahudi yang juga disebut Festival Penahbisan. Di kota Billings, Montana, tempat anak laki-laki itu tinggal, ribuan orang—banyak di antara mereka adalah orang Kristen—merespons aksi kebencian itu dengan tindakan belas kasihan. Untuk menunjukkan dukungan mereka kepada saudara-saudari Yahudi mereka yang terluka dan ketakutan, mereka beramai-ramai ikut menempelkan gambar menorah pada jendela rumah mereka masing-masing.

Kembang Api Kehidupan

Di malam Tahun Baru, ketika pertunjukan kembang api berkekuatan tinggi diselenggarakan di berbagai kota besar dan kecil di seluruh dunia, suara ledakannya sengaja dibuat sangat nyaring. Menurut pembuatnya, kembang api yang memancarkan cahaya gemerlap itu pada dasarnya memang dimaksudkan untuk “membelah atmosfer”. Ledakan-ledakan susulannya akan menghasilkan bunyi paling keras, apalagi jika diledakkan tidak jauh dari tanah.

Komentar yang Lemah Lembut 

Saya pernah berdebat dengan seseorang di Facebook. Salah besar. Entah mengapa bahwa saya merasa berkewajiban “mengoreksi” pemikiran seseorang yang tidak saya kenal mengenai topik panas yang tidak ada habisnya. Yang tersisa hanyalah caci maki, sakit hati (setidaknya bagi saya), dan hilangnya kesempatan menjadi saksi yang baik bagi Tuhan Yesus. Hanya itu yang diperoleh dari “marah-marah” dan caci-maki yang dilontarkan orang setiap hari di dunia maya. Seorang ahli etika menjelaskan bagaimana banyak orang keliru dengan menyimpulkan bahwa “marah-marah” merupakan cara yang umum untuk berdebat.

Menyelesaikan Konflik

Dalam penghormatan terakhirnya pada penguburan Hendrik A. Lorentz, seorang ilmuwan Belanda yang terkenal, Albert Einstein sama sekali tidak menyebut tentang perdebatan ilmiah di antara mereka. Ia justru mengenang Lorentz, seorang fisikawan yang dikenal ramah dan selalu memperlakukan orang lain dengan adil, sebagai pribadi yang “sangat baik hati.” Einstein berkata, “Semua orang dengan senang hati mengikutinya, karena mereka merasa ia tidak pernah ingin mendominasi tetapi hanya ingin berguna bagi orang lain.”

Pemelihara Pohon

Sebagian orang menjulukinya “pemelihara pohon.” Tony Rinaudo sebenarnya adalah penanam pohon yang bekerja bagi lembaga World Vision Australia. Ia misionaris sekaligus agronomis yang sudah tiga puluh tahun memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus sambil memerangi penggundulan hutan di Sahel, sebuah kawasan di selatan gurun Sahara, Afrika.

Hari Binatu

Saat berkendara melewati kawasan pemukiman kelas menengah ke bawah dekat gerejanya di Colorado, pendeta Chad Graham mulai mendoakan warga di sana. Kemudian ia berhenti dan masuk ke sebuah gerai binatu mandiri, lalu menemukan tempat itu sangat ramai dengan pelanggan. Salah seorang dari mereka meminta dari Graham uang logam untuk mengoperasikan mesin pengering. Permintaan sederhana itu mengilhami kegiatan mingguan bernama “Hari Binatu” yang disponsori oleh gereja Graham. Jemaat menyumbangkan uang logam dan deterjen kepada gerai itu, berdoa bersama para pelanggan, dan memberikan dukungan kepada pemilik gerai tersebut.

Kritikan Pedas

Kata-kata yang keras dapat menyakitkan hati. Teman saya—seorang penulis peraih penghargaan—merasa sulit menanggapi kritik yang ia terima. Buku barunya sudah mendapatkan banyak pujian sekaligus penghargaan. Namun kemudian, seorang pengulas di sebuah majalah terkenal memberinya pujian yang dibungkus kritikan, dengan menggambarkan bukunya sebagai novel yang ditulis dengan baik tetapi masih terdapat banyak kekurangan di sana-sini. Memikirkan hal itu, teman saya pun meminta pendapat teman-temannya, “Bagaimana saya harus menanggapinya?”

Melihat dengan Fokus

Penulis ternama Mark Twain pernah menyatakan bahwa apa pun yang kita lihat dalam hidup ini—dan cara kita melihatnya—akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan tujuan akhir kita. Menurut Twain, “Anda tidak bisa bergantung pada penglihatan ketika imajinasi Anda tidak fokus.”

Hidup sebagai Pujian bagi Allah

Sepanjang masa kecilnya, dirigen Arianne Abela selalu menyembunyikan tangan dengan cara mendudukinya. Abela lahir dengan jari-jari yang tidak lengkap atau saling melekat pada kedua tangannya. Ia juga tidak memiliki kaki kiri dan kaki kanannya tidak memiliki ibu jari. Sebagai pecinta musik dan penyanyi bersuara sopran, ia pernah berencana mengambil kuliah dalam jurusan pemerintahan di Smith College. Namun, suatu hari, pembina paduan suara memintanya menjadi dirigen, dan itu membuat kedua tangannya terlihat jelas. Sejak saat itu, ia tahu karir yang hendak ditekuninya, yang dimulai dari memimpin paduan suara gereja, hingga kini melayani sebagai pemimpin paduan suara di universitas lain. “Guru-guru saya melihat potensi dalam diri saya,” kata Abela.