Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Patricia Raybon

Penyediaan Allah yang Kaya

Setelah banjir bandang akibat terjangan Badai Helene hampir menghancurkan sebuah kota kecil di Carolina Utara pada tahun 2024, seorang pendeta di sana menyadari adanya sebuah pola yang menguatkan hati. Saat ia kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang tidak ada habis-habisnya tentang kebutuhan mereka, sumbangan pun terus berdatangan tepat pada saat ia membutuhkannya. Untuk mengisi daya ponsel? Secara tak terduga, seorang pria datang membawa generator, sehingga tersedia stasiun pengisian daya di gereja. Soal kebutuhan air minum? Tiba-tiba saja ada yang mengirimkan berdus-dus botol air.

Mengasihi Anak-Anak Seperti Allah

Sepanjang musim panas, anak-anak yang tinggal di belakang rumah kami menghabiskan waktu berjam-jam bermain di ayunan mereka . . . yang berisik. Suara berderit yang ditimbulkannya tidak mengganggu anak-anak yang tidak pernah lelah memainkannya. Saya mengeluh kepada suami saya dengan mempertanyakan mengapa orangtua mereka tidak melumasi ayunan itu. Namun, saat mendoakan masalah itu, saya menyadari adanya perubahan dalam hati saya. Saya dapat melihat tawa dan sukacita anak-anak, yang terpancar dari rasa aman yang mereka temukan di halaman rumah mereka, dan juga dari kesadaran bahwa orangtua mereka hadir tidak jauh dari mereka.

Berlabuh Teguh di dalam Allah

Di pagi hari, suami saya Dan menyalakan ponsel untuk memutar lagu rohani favoritnya, “My Soul Is Anchored” (Jiwaku Berlabuh Teguh). Liriknya mengungkapkan pengharapan pada Allah di masa-masa sulit. Dan ikut menyanyikan liriknya yang memperingatkan tentang ombak yang bergulung-gulung dan gelombang air yang menghantam karang. Namun, seperti dinyatakan lagu itu, kita tidak tergoyahkan, karena Allah memegang kita erat.

Mendoakan Pertumbuhan

Setelah Lam Wai Chan pindah dari tempat kelahirannya di Singapura untuk menggembalakan sebuah gereja di Jepang, ia sempat terkejut. Jumlah jemaatnya tidak sampai 20 orang. Di dalam negara yang terkenal sebagai “kuburan bagi pelayanan misi,” dengan hanya sekitar satu persen penduduknya yang beragama Kristen dan banyak gereja yang kosong, Lam merasa “seperti mengambil alih kemudi kapal yang hampir tenggelam.” Saat berseru kepada Allah, ia merasa menerima jawaban: Persembahkan kembali gerejamu kepada-Ku.

Musim Kasih

Bunga tidak harus mekar untuk terlihat indah, kata desainer tata ruang luar ternama Piet Oudolf. Bahkan di tengah musim dingin, desain karya ahli taman asal Belanda yang meraih penghargaan itu tetap memukau dengan keindahannya. “Keindahan dapat ditemukan dalam banyak hal yang tidak terpikirkan oleh kita,” ujar Oudolf, meski ada yang mungkin tidak sependapat. “Saat saya mengatakan bahwa saya menyukai tanaman yang terlihat mati [dorman],” katanya, “saya dianggap aneh, karena pada umumnya orang tidak menyukai tanaman mati.”

Akar yang Dalam

Douglas Kent, seorang arsitek lanskap, menelusuri lingkungan Los Angeles yang hangus setelah dilanda kebakaran dahsyat tahun 2025. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: ada pohon-pohon yang tetap hidup dan menghijau, tepat di samping mobil-mobil yang meleleh dan bangunan yang terbakar. Banyak di antaranya bahkan berdaun lebat, berbuah banyak, serta memiliki batang dan cabang yang kuat. Bagaimana bisa?

Pertahanan yang Kokoh

Tim basket cucu kami yang duduk di kelas tujuh berusaha keras mencetak angka di lapangan. Mereka begitu bersemangat menyerang. Namun, setiap kali berhasil mencetak angka, pelatih segera mendesak mereka kembali ke area pertahanan untuk menjaga lawan—sesuatu yang sering kali enggan mereka lakukan. Semua ingin mencetak angka, tetapi tampaknya tidak ada yang mau bekerja keras untuk bertahan.

Melangkah Seirama

Lillian Colón, yang tumbuh besar di panti asuhan, berhasil mengalahkan 400 penari lainnya untuk meraih posisi yang sangat didambakan dalam kelompok tari ternama di dunia. Hingga usia 40-an, Lillian berpentas bersama kelompok itu dalam sinkronisasi koreografi yang kompak. Kini, sebagai pelatih tari di usianya yang ke-70, ia berusaha menanamkan pelajaran terbesar kepada para siswanya: Bekerja sama agar tetap seirama. “Di atas maupun di bawah panggung, hidup kita saling terkait erat,” katanya, “dan kita semua akan berhasil jika kita mendukung dan memperhatikan satu sama lain.”

Kuasa Kebangkitan

Tagihan listrik rumah Loretta mencapai 100 dolar, jauh lebih tinggi dari biasanya. “Tuhan pasti akan menyediakan uangnya,” ucap Loretta kepada putranya. Lalu, pada hari itu juga, ia menerima pesan singkat dari adiknya: “Kak, kamu selalu mendukungku dan aku ingin berterima kasih. Coba lihat, aku mengirimkan sesuatu kepadamu lewat pos.” Sore itu, Loretta menerima kartu hadiah, persis senilai 100 dolar. Sebagian orang mungkin menyebutnya kebetulan, tetapi bagi Loretta, itu sebuah mukjizat. Ia selalu berharap kepada Allah yang hidup untuk menyediakan kebutuhannya.