Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Patricia Raybon

Terus Maju dengan Iman

Untuk dapat berprofesi sebagai pengacara di California, AS, Maxcy Filer harus lulus ujian tingkat negara bagian yang berlangsung tiga hari berturut-turut. Bukan hanya sekali atau dua kali, Filer harus mengikuti ujian tersebut sebanyak 48 kali sebelum akhirnya berhasil. Ia mempunyai tujuan yang jelas: menjadi pembela hukum bagi kaum kurang mampu dan terpinggirkan di kota Compton yang ia cintai. Selama 25 tahun perjuangan itu—dari ujian pertama sampai lulus—Filer dan istrinya membesarkan tujuh anak, yang semuanya berhasil duduk di perguruan tinggi. Ketika akhirnya Filer disumpah sebagai pengacara, sang hakim berkata, “Tiga kata yang mewakili Maxcy Filer: ketekunan, ketekunan, ketekunan.”

Kekuatan yang Lahir dari Kesulitan

Jess sudah berusia lanjut saat pertama kalinya mendengar dongeng anak-anak tentang seorang bocah laki-laki dan seekor kupu-kupu. Ia segera memahami pelajaran dari kisah tersebut tentang kekuatan yang lahir dari kesulitan. Dalam cerita itu, si bocah laki-laki menerima kepompong kupu-kupu dan diberi tahu agar tidak membukanya. Namun, saat kepompong itu mulai bergerak dan bergetar di tangannya, ia tak bisa menahan diri. Anak itu mengambil gunting lalu merobek kepompong itu agar kupu-kupu di dalamnya dapat keluar.

Dididik dalam Kasih

Woody Cooper pernah berdiri di antara kerumunan yang mengolok-olok Dorothy Counts, seorang gadis berkulit hitam yang mendaftar ke sekolah menengah bagi siswa kulit putih di Carolina Utara. Ketika para siswa mengejek dan melemparkan sampah ke arah Dorothy, Woody tidak menegur mereka. Bahkan saat seorang siswi berteriak, “Ayo, teman-teman, ludahi dia!” Woody tetap tidak berkata apa-apa. Di kemudian hari, ia merenung, Kenapa aku tidak angkat suara sedikit pun? Padahal ia hanya siswi biasa yang ingin bersekolah. Empat puluh sembilan tahun setelah peristiwa tersebut, setelah didera rasa bersalah dan melihat dirinya dalam foto yang merekam kejadian itu, Woody memutuskan untuk menghubungi Dorothy dan meminta maaf.

Berpegang Teguh kepada Allah

Dalam kejuaraan gulat tingkat distrik di sekolah kami, anak-anak berusia delapan tahun bertanding di atas matras dengan menerapkan teknik pegangan yang cerdik untuk menjatuhkan lawan demi meraih kemenangan. Gulat adalah olahraga kuno yang menuntut strategi cermat dalam memadukan gerakan menjatuhkan, melepaskan diri, mengunci, dan berbagai teknik lain yang menghasilkan poin untuk mencapai kemenangan. Seorang gadis kecil dari kelas tiga, yang menjadi kesayangan penonton, memiliki gerakan yang sangat cepat sehingga ia dengan lincah dapat mengecoh dan menaklukkan lawan-lawannya.

Mencari Kanak-Kanak Kristus

Ketika pengajar Peter Turchi memandang sebuah peta, ia langsung membayangkan petualangan tersembunyi di dalamnya. “Meminta sebuah peta,” katanya, “sama seperti berkata, ‘Ceritakan padaku sebuah kisah.’” Gagasan itu menginspirasi saya saat mempersiapkan bahan pembinaan bertema “Iman Orang-Orang Majus” di masa Natal. Saat mempelajari peta wilayah itu, saya menemukan bahwa orang-orang majus menempuh perjalanan hampir 1.500 km, mungkin selama beberapa bulan, demi mencari Kristus, Sang Anak. Namun, yang mereka temukan bukanlah bayi di palungan, melainkan seorang balita yang tinggal bersama orangtuanya di dalam sebuah rumah. Bagaimana respons mereka setelah perjalanan sepanjang itu? “Mereka sujud dan menyembah Anak itu” (Mat. 2:11 BIMK).

Siapakah Sesamaku Manusia?

Dari ranjang rumah sakitnya, wajah Marie Coble berseri-seri menyambut kedatangan seorang kurir yang telah menyelamatkan nyawanya. Marie sempat terjatuh di jalan masuk rumahnya, kepalanya terbentur, hingga mengalami pendarahan otak. Raheem Cooper, si kurir yang menyaksikan kejadian itu, segera memberikan pertolongan dan menelepon petugas medis. Atas undangan keluarga, Raheem sering menjenguk Marie sambil membawa camilan manis untuk mendukung proses pemulihannya.

Memohon Pertolongan Allah

Ketika saya masih muda, saya berpikir sungguh tidak pantas meminta Allah untuk menolong saya agar dapat menyelesaikan tulisan pada waktunya. Pikir saya, orang lain punya masalah yang lebih besar. Masalah keluarga, gangguan kesehatan, krisis keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Saya juga pernah mengalami masalah-masalah tersebut. Namun, menyelesaikan tulisan dengan tepat waktu tampaknya terlalu sepele untuk dibawa kepada Allah. Namun, pandangan saya berubah setelah menemukan banyak contoh dalam Alkitab yang memperlihatkan bagaimana Allah menolong orang-orang tanpa memandang besar atau kecilnya kesulitan yang mereka hadapi.

Ketika Allah Mengampuni

Seorang bocah berusia empat tahun secara tak sengaja merusak kendi langka berusia 3.500 tahun dari Zaman Perunggu yang dipamerkan di sebuah museum di Israel. Namun, respons yang diterimanya sungguh tak terduga. Pihak museum memaafkan perbuatan anak itu, bahkan mengundangnya untuk kembali. Roee Shafir, juru bicara Museum Hecht, menjelaskan bahwa sikap itu akan meningkatkan perhatian dunia pada proses restorasi dan bisa jadi menumbuhkan ketertarikan si anak terhadap sejarah dan arkeologi. Dengan kata lain, tindakan itu diyakini akan membawa pemulihan dan dampak yang positif.

Memuridkan bagi Kristus

Di awal musim pertandingan, pelatih tim basket dari sekolah menengah di lingkungan kami berusaha sangat keras untuk meyakinkan para pemainnya agar berani menembak bola. “Tembak saja!” teriaknya dari pinggir lapangan. Selama ini, para pemain asuhannya lebih senang mengoper dan menggiring bola. Setelah separuh musim berlalu, barulah sejumlah besar dari mereka lebih percaya diri untuk menembak bola dan mencetak skor. Keberanian mencoba itu ternyata membawa dampak yang besar. Dengan mematuhi instruksi sang pelatih, membuang keraguan, dan berani berusaha—walau sering meleset—mereka belajar untuk menang.