Penulis

Lihat Semua
Poh Fang Chia

Poh Fang Chia

Poh Fang Chia menerima Yesus sebagai Juruselamatnya di usia 15 tahun. Ia rindu menulis buku-buku yang menyentuh jiwa sesamanya. Ia mulai menulis bagi Our Daily Bread pada tahun 2014 dan melayani bersama Our Daily Bread Ministries di Singapura sebagai seorang editor penulisan.

Artikel oleh Poh Fang Chia

Membaur

Lee adalah pegawai bank yang rajin dan dapat diandalkan. Namun, karena ingin menerapkan imannya dengan sungguh-sungguh, ia sering harus tampil beda dalam pergaulan sehari-hari. Misalnya, ketika ia memilih untuk keluar dari ruang istirahat di kantornya saat percakapan sudah menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Dalam kelompok penggalian Alkitab yang diikutinya, ia menceritakan pergumulannya, “Aku takut kehilangan kesempatan untuk dipromosikan karena tak mau membaur.”

Jurnal Ucapan Syukur

Ketika saya baru beriman kepada Tuhan Yesus, seorang pembimbing rohani mendorong saya untuk membuat jurnal ucapan syukur. Setelah itu, saya selalu membawa buku kecil itu ke mana pun saya pergi. Terkadang saya langsung menuliskan ucapan syukur saya. Di lain waktu, saya menuliskan ucapan syukur saya di akhir pekan dalam waktu perenungan pribadi.

Natal di MacPherson

Sekitar 230 keluarga dan individu tinggal di Apartemen MacPherson Gardens, Blok 72, di lingkungan tempat tinggal saya. Setiap dari mereka memiliki kisah hidup mereka masing-masing. Di lantai sepuluh, ada seorang wanita lanjut usia yang anak-anaknya sudah dewasa, menikah, dan tidak lagi tinggal di sana. Wanita tua itu tinggal sendirian sekarang. Beberapa pintu dari tempat tinggalnya, ada pasangan muda dengan dua anak, laki-laki dan perempuan. Beberapa lantai di bawah mereka, hidup seorang pria muda yang berprofesi sebagai tentara. Ia pernah datang ke gereja, dan mungkin akan datang beribadah lagi pada hari Natal. Saya bertemu dengan setiap dari mereka pada Natal tahun lalu ketika paduan suara gereja kami bernyanyi dari pintu ke pintu di lingkungan tersebut untuk membagikan sukacita Natal.

Berpikir Sebelum Bicara

Cheung kesal dengan istrinya yang tidak berhasil mendapatkan arah ke sebuah restoran terkenal yang ingin mereka kunjungi. Keluarga Cheung sudah berencana menutup liburan di Jepang dengan menikmati santapan yang mewah dan lezat sebelum terbang pulang ke negaranya. Namun saat itu, waktu sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk menikmati hidangan tersebut. Karena frustrasi, Cheung pun mengkritik sang istri untuk perencanaannya yang tidak matang.

Matahari Bersayap Dua

Selama lima tahun, sebuah stempel kuno yang terbuat dari tanah liat dibiarkan tersimpan dalam lemari di Institut Arkeologi Yerusalem. Stempel itu ditemukan dalam penggalian di bagian selatan dari tembok kota kuno Yerusalem. Namun, penelitian awal tidak berhasil menemukan arti penting dari benda yang berusia hampir 3.000 tahun tersebut. Di kemudian hari, seorang peneliti dengan cermat mengamati huruf-huruf yang tertera pada stempel itu dan menghasilkan penemuan besar. Inskripsi yang tertulis dalam bahasa Ibrani kuno itu menyatakan: “Milik Hizkia [bin] Ahas, Raja Yehuda.”

Jawaban Simon

Refuge Rabindranath telah melayani kaum muda di Sri Lanka lebih dari sepuluh tahun. Ia sering berinteraksi dengan para pemuda hingga larut malam—bermain bersama, mendengarkan, menasihati, dan mengajar mereka. Ia menikmati pelayanannya itu, tetapi terkadang ia juga merasa kecewa ketika murid-murid yang menjanjikan ternyata meninggalkan imannya. Adakalanya ia merasa seperti Simon Petrus di Lukas 5.

Mencapai Garis Finis

Pada Olimpiade Rio 2016, perhatian dunia tertuju kepada dua atlet wanita dalam lomba lari 5.000 meter. Setelah menempuh jarak sekitar 3.200 meter, Nikki Hamblin asal Selandia Baru dan Abbey D’Agostino asal Amerika Serikat sempat bertabrakan dan sama-sama jatuh. Abbey segera berdiri kembali, tetapi ia berhenti untuk menolong Nikki. Beberapa saat setelah kedua atlet tersebut kembali berlari, Abbey mulai tertatih-tatih karena kaki kanannya cedera akibat jatuh tadi. Sekarang giliran Nikki yang berhenti dan memberi semangat kepada Abbey untuk menyelesaikan perlombaan. Ketika Abbey akhirnya melewati garis finis, Nikki telah menunggu di situ untuk memeluknya. Alangkah indahnya teladan yang mereka tunjukkan dalam saling memberi semangat!

Berani Melangkah Lebih Dahulu

Tham Dashu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Maka ia mulai pergi ke gereja—gereja yang sama dengan tempat putrinya beribadah. Namun, mereka tidak pernah pergi bersama. Di masa lalu, Tham pernah membuat putrinya tersinggung sehingga hubungan mereka pun renggang. Jadi biasanya Tham menyelinap masuk ke ruang kebaktian saat pujian sudah dinaikkan dan bergegas pergi setelah kebaktian selesai.

Adakah yang Kekal?

Seorang teman yang belum lama ini sempat melalui masa-masa yang sulit pernah menulis, “Ketika saya memikirkan tentang empat semester terakhir dari masa studi saya, begitu banyak hal yang telah berubah . . . Semua itu sangat menakutkan saya. Memang, tak ada yang bisa bertahan selamanya.”