Penulis

Lihat Semua
Poh Fang Chia

Poh Fang Chia

Poh Fang Chia menerima Yesus sebagai Juruselamatnya di usia 15 tahun. Ia rindu menulis buku-buku yang menyentuh jiwa sesamanya. Ia mulai menulis bagi Our Daily Bread pada tahun 2014 dan melayani bersama Our Daily Bread Ministries di Singapura sebagai seorang editor penulisan.

Artikel oleh Poh Fang Chia

Hidup dengan Baik

Upacara pemakaman gratis untuk orang hidup. Jasa tersebut ditawarkan oleh sebuah lembaga di Korea Selatan. Sejak penawaran tersebut dibuka pada tahun 2012, lebih dari 25.000 orang—dari remaja hingga pensiunan—sudah ikut serta dalam acara “pemakaman orang hidup” ini. Para peserta itu berharap, dengan mempertimbangkan kematian mereka sendiri, kualitas hidup mereka akan meningkat. Pengelola jasa tersebut mengatakan, “Simulasi upacara kematian ini bertujuan memberikan kepada peserta makna sesungguhnya dari hidup mereka, membangkitkan rasa syukur, membuka ruang bagi pengampunan dan terjalinnya kembali hubungan di antara anggota keluarga dan teman.”

Tamu yang Tak Terduga

Zakheus pernah menjadi orang yang kesepian. Ketika sedang berjalan-jalan di tengah kota, ia bisa merasakan tatapan benci orang-orang yang tertuju kepadanya. Namun, hidupnya kemudian berubah total. Klemens dari Alexandria, salah seorang bapa gereja mula-mula, berkata bahwa Zakheus lalu menjadi pemimpin Kristen yang disegani dan gembala jemaat di Kaisarea. Ya, ini adalah Zakheus si kepala pemungut cukai yang pernah memanjat pohon ara untuk melihat Yesus (Luk. 19:1-10).

Pemeliharaan Allah

Kami menjelajah semakin jauh ke dalam hutan, dan semakin menjauhi desa tempat kami menetap di provinsi Yunnan, Tiongkok. Sekitar satu jam kemudian, kami mendengar suara gemuruh air yang memekakkan telinga. Kami pun mempercepat langkah hingga tiba di suatu tempat terbuka dan disambut oleh pemandangan indah berupa air terjun berwarna putih yang berjatuhan di atas bebatuan abu-abu. Pemandangan yang spektakuler!

Siapa Tahu?

Menurut cerita rakyat Tiongkok, ketika Sai Weng kehilangan salah seekor kuda yang sangat disayanginya, seorang tetangga mengungkapkan keprihatinan atas kehilangannya itu. Namun, Sai Weng justru tidak begitu peduli. Katanya, “Siapa tahu itu justru baik buatku?” Yang mengejutkan, kuda yang hilang itu kembali dengan disertai seekor kuda lain. Ketika si tetangga memberikan selamat kepadanya, Sai Weng kembali berkata, “Siapa tahu itu justru buruk bagiku?” Di kemudian hari, anak lelaki Sai Weng mengalami patah kaki karena terjatuh ketika menunggangi kuda barunya. Peristiwa itu mungkin dianggap buruk, sampai suatu hari sepasukan tentara datang ke desa mereka dengan maksud merekrut semua lelaki yang berbadan sehat dan kuat untuk ikut berperang. Karena patah kaki, anak lelaki Sai Weng tidak ikut direkrut, dan terluput dari kemungkinan tewas di medan perang.

Momen-Momen Berharga

Su Dongpo (juga dikenal dengan nama Su Shi) adalah salah seorang penyair dan pengarang esai terbesar di Tiongkok. Saat sedang berada di pengasingan dan menatap bulan purnama, ia menulis puisi untuk menggambarkan kerinduannya kepada saudara laki-lakinya. “Kami bersuka dan bersedih, berkumpul dan berpisah, sementara bulan membesar dan mengecil. Sejak masa silam, tidak ada yang tinggal sempurna,” tulisnya. “Kiranya orang-orang yang kita cintai panjang umur, dan bersama menyaksikan pemandangan indah ini meski terpisah jarak ribuan mil.”

Butuh Diselamatkan

Aldi adalah seorang remaja yang bekerja sendirian di sebuah jermal, gubuk kayu yang didirikan di tengah laut untuk menangkap ikan. Lokasinya sekitar 125 kilometer dari lepas pantai Sulawesi, Indonesia. Suatu hari, angin kencang mengguncang gubuk itu hingga terlepas dari tiang-tiang penyangganya dan terhanyut ke laut. Selama empat puluh sembilan hari, Aldi terombang-ambing di lautan. Setiap kali ada kapal lewat, ia menyalakan lampu untuk menarik perhatian para pelaut, tetapi mereka tidak melihatnya dan terus melewatinya. Sekitar sepuluh kapal melewati remaja yang kekurangan gizi itu sebelum akhirnya ia diselamatkan.

Keraguan dan Iman

Ming Teck bangun dengan sakit kepala yang parah dan mengira migrainnya kambuh. Namun, ketika turun dari ranjang, ia langsung jatuh ke lantai. Ia pun dilarikan ke rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa ia terkena serangan otak. Setelah empat bulan menjalani masa rehabilitasi, kemampuan berpikir dan berbicaranya mulai pulih, tetapi jalannya masih tertatih-tatih. Ming sering bergumul dengan perasaan putus asa, tetapi ia merasa sangat terhibur membaca kitab Ayub.

Lapar akan Allah

Seseorang yang baru percaya kepada Yesus sangat rindu membaca Alkitab. Sayangnya, ia telah kehilangan penglihatan dan kedua tangannya dalam sebuah ledakan bom. Kemudian, ia mendengar tentang seorang wanita yang membaca huruf Braille dengan bibirnya dan ingin mencoba cara tersebut. Akan tetapi, ia mendapati ternyata titik saraf di bibirnya juga sudah rusak. Namun, ia sangat bersukacita ketika mengetahui bahwa ia dapat merasakan huruf-huruf Braille dengan lidahnya! Akhirnya, ia menemukan cara untuk membaca dan menikmati Kitab Suci.

Berdoa di Tumpukan Jerami

Samuel Mills dan empat orang temannya sering berkumpul untuk berdoa bersama, memohon agar Allah mengirimkan lebih banyak orang untuk membagikan kabar baik tentang Yesus. Suatu hari di tahun 1806, setelah kembali dari persekutuan doa, mereka terjebak dalam badai petir dan berlindung di dalam setumpuk jerami. Di kemudian hari, pertemuan doa mingguan mereka dikenal sebagai Persekutuan Doa Haystack (Tumpukan Jerami), dan dari sana lahir sebuah gerakan misi ke seluruh dunia. Saat ini, Monumen Doa Haystack berdiri di Williams College di Amerika Serikat sebagai peringatan atas apa yang sanggup Allah lakukan melalui doa.