Dia akan Menjawab
Saya begitu gembira ketika menemukan halaman Twitter dari bintang film Korea favorit saya. Saya pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya. Saya menuliskan pesan terbaik yang bisa saya tuliskan, lalu menunggu jawaban darinya. Saya sadar, kecil kemungkinan saya akan mendapatkan balasan. Seorang selebriti seperti dirinya bisa menerima banyak sekali surat dan pesan dari para penggemar setiap harinya. Namun demikian, saya berharap ia akan membalas pesan saya. Saya pun sangat kecewa ketika tak ada balasan yang saya terima.
Menolak Apatis
Ruangan itu sudah dihiasi beragam warna mempesona yang ditata oleh sejumlah wanita berpakaian sari. Mereka sedang bergegas menyelesaikan persiapan untuk suatu acara penggalangan dana. Para wanita asal India yang kini tinggal di Amerika Serikat itu hendak menunjukkan kepedulian mereka terhadap negara asalnya. Ketika mendengar tentang keadaan keuangan sebuah sekolah Kristen untuk anak-anak autis di India, mereka tidak sekadar mengetahui kebutuhan itu, tetapi juga memilih untuk bertindak.
Haus akan Allah
A-poe-la-pi adalah seorang tetua dari suku Akha, masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan di Provinsi Yunan, Tiongkok. Saat kami mengunjunginya dalam perjalanan misi baru-baru ini, A-poe-la-pi berkata bahwa ia tidak hadir dalam kegiatan penggalian Alkitab mingguan yang kami adakan karena hujan sangat deras. Ia memohon, “Dapatkah kalian membagikan firman Tuhan kepada saya?” A-poe-la-pi buta huruf sehingga persekutuan mingguan itu penting baginya. Saat kami mem-bacakan Alkitab, ia pun menyimak dengan sungguh-sungguh. Ketekunannya mengingat-kan saya bahwa ketika kita sungguh-sungguh menyimak isi Kitab Suci yang diilhamkan Allah itu, kita sedang menghormati-Nya.
Terang yang Lemah Lembut
Wang Xiaoying (dibaca Shao-ying) tinggal di wilayah pedesaan di propinsi Yunnan, Tiongkok. Karena masalah kesehatan, suaminya tak bisa bekerja di ladang dan memberatkan keadaan keluarga. Sang mertua menganggap masalah itu disebabkan oleh iman Xiaoying kepada Allah. Ia pun memperlakukan Xiaoying dengan kejam dan memaksanya untuk menganut kembali kepercayaan tradisi leluhur.
Bukan Kekhawatiranku
Ada seorang pria yang selalu khawatir tentang segala sesuatu. Suatu hari teman-temannya mendengar pria itu bersiul riang dan terlihat sangat santai. “Apa yang terjadi?” tanya mereka sambil keheranan.
Mukjizat Hujan
Para penduduk desa di wilayah perbukitan di propinsi Yunnan, Tiongkok, hidup dalam kondisi yang sulit. Makanan pokok mereka adalah jagung dan beras. Namun pada bulan Mei 2012, musim kemarau yang sangat berat melanda wilayah itu dan membuat tanaman di sawah mereka layu. Warga mulai cemas, dan banyak praktik takhyul mereka lakukan dengan maksud untuk mengakhiri kemarau. Saat semua usaha itu gagal, mereka mulai menyalahkan lima orang Kristen yang tinggal di desa itu dan menuduh mereka telah membuat marah roh leluhur.
Tidakkah Allah Peduli?
Mengapa seorang pengemudi yang mabuk bisa selamat dari kecelakaan tanpa terluka sedikit pun sementara korban yang tidak mabuk justru terluka parah? Mengapa orang jahat hidup makmur sementara orang baik menderita? Seberapa sering Anda dibingungkan oleh hal-hal yang terjadi di dalam hidup Anda sehingga Anda terdesak untuk berseru, “Tidakkah Allah peduli?”
Kekuatan Bersama
Seorang pria yang hendak menaiki kereta api di Perth, Australia, tiba-tiba tergelincir dan tungkai kakinya terjebak dalam celah di antara gerbong kereta dan peron. Belasan penumpang segera berusaha menyelamatkan pria itu. Hanya dengan menggunakan kekuatan otot, mereka berusaha mencondongkan gerbong kereta menjauh dari peron, dan pria yang terjebak itu pun bebas! Di suatu wawancara, David Hynes, juru bicara perusahaan kereta api, berkata, “Semua orang segera turun tangan. Kekuatan bersamalah yang menyelamatkan seseorang dari luka parah yang mungkin dideritanya”.
Mau Marah Rasanya!
Saat membaca sebuah pesan singkat di ponsel saya, hati saya menjadi panas dan saya mulai naik pitam. Nyaris saja saya membalasnya dengan sebuah pesan yang bernada pedas, tetapi kemudian suara hati saya mengingatkan saya untuk bersikap tenang dan menanggapinya esok hari saja. Keesokan paginya setelah tidur malam yang nyenyak, masalah yang sebelumnya sangat mengganggu saya itu sekarang tampak begitu sepele. Saya telah membesar-besarkannya hanya karena saya tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan saya sendiri. Saya tidak rela apabila kenyamanan diri saya harus dikorbankan demi menolong orang lain.