Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Sheridan Voysey

Kabar Baik

Pada tahun 1941, ketika kekuasaan Hitler mulai meluas ke seluruh Eropa, novelis John Steinbeck diminta membantu upaya perlawanan yang sedang berlangsung. Ia tidak diminta untuk berperang atau mengunjungi pasukan di garis depan, melainkan untuk menulis sebuah cerita. Hasilnya adalah novel The Moon Is Down, yang bercerita tentang wilayah yang tadinya damai tetapi kemudian diserang oleh suatu rezim yang jahat. Novel tersebut diproduksi oleh percetakan bawah tanah dan disebarluaskan secara diam-diam ke negara-negara yang diduduki Nazi. Pesan yang ingin disampaikan oleh novel itu: Pasukan Sekutu akan datang, dan dengan mencontoh tokoh-tokoh dalam novel itu, para pembaca dapat membantu meraih kemerdekaan mereka. Melalui novel The Moon Is Down, Steinbeck membawa kabar baik kepada orang-orang di bawah cengkeraman Nazi—kabar bahwa pembebasan mereka sudah dekat.

Maksud dari Penderitaan

“Jadi, maksud Anda, belum tentu saya yang bersalah?” Perkataan wanita itu mengejutkan saya. Saya baru saja menjadi pembicara tamu di gerejanya, dan kami sedang membahas materi yang saya bagikan pagi itu. “Saya mengidap penyakit kronis,” kata wanita itu, “dan saya sudah berdoa, berpuasa, mengaku dosa, dan melakukan semua yang disuruh supaya saya bisa sembuh. Tetapi saya masih saja sakit, jadi saya pikir, ini semua pasti salah saya.”

Saatnya Berkorban

Pada Februari 2020, ketika krisis COVID-19 baru mulai merebak, saya tertegun membaca tulisan seorang kolumnis surat kabar. Penulis itu ingin tahu, apakah kita bersedia mengisolasi diri, mengubah kebiasaan dalam bekerja, bepergian, dan berbelanja agar orang lain tidak tertular dan menjadi sakit? ”Yang diuji di sini tidak hanya sumber daya kesehatan masyarakat,” tulisnya, “tetapi juga kerelaan diri kita untuk mendahulukan orang lain.” Tiba-tiba saja, kebajikan menjadi kebutuhan yang dicari di mana-mana. 

Tak Terbatas

Saya terduduk di pujasera sebuah pusat perbelanjaan, dengan tubuh yang tegang dan perut yang mulas karena memikirkan setumpuk pekerjaan yang mendesak untuk segera diselesaikan. Sambil mengunyah burger, saya melihat orang-orang di sekitar saya juga bergegas-gegas, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Betapa terbatasnya kita semua, pikir saya, terbatas dalam hal waktu, tenaga, dan kemampuan.

Keutuhan Hidup di dalam Kristus

Dalam sebuah film terkenal, diceritakan bagaimana seorang agen olahraga yang sangat ambisius berkarier mendapati pernikahannya berada di ujung tanduk. Dalam upaya untuk merebut kembali hati istrinya, pria itu menatap mata sang istri dan berkata, “Kaulah belahan jiwaku.” Pesan romantis itu sejalan dengan filsafat dalam mitologi Yunani kuno, yang menyatakan bahwa setiap manusia sebenarnya belum mencapai keutuhan hidup sampai ia menemukan sosok lain yang dapat disebut sebagai belahan jiwanya.

Tidak Membalas Dendam

Pagi itu, seorang petani mengendarai truknya dan mulai memeriksa tanaman di tanah pertaniannya. Ketika ia sampai di ujung tanahnya, darahnya mendidih. Lagi-lagi ada orang memanfaatkan lokasi tanah pertaniannya yang terpencil untuk membuang sampah secara ilegal di sana.

Yang Terbesar

Cuthbert adalah tokoh iman yang sangat dicintai di Inggris bagian utara. Selain berhasil memenangkan banyak jiwa di wilayah tersebut, Cuthbert juga menjadi penasihat bagi raja-raja dan membawa pengaruh bagi negara; sehingga setelah kematiannya, dibangunlah kota Durham untuk menghormatinya. Namun, bukan itu saja bukti kebesaran Cuthbert.

Mengatasi Iri Hati

Dalam film Amadeus, komponis veteran Antonio Salieri memainkan sejumlah karya musiknya dengan piano untuk seorang imam yang datang mengunjunginya. Sambil menahan malu, sang imam mengakui bahwa ia tidak mengenali lagu-lagu yang dimainkan. “Bagaimana dengan yang ini?” tanya Salieri, sambil memainkan melodi yang langsung akrab di telinga. “Saya baru tahu kalau itu karya Anda,” kata sang imam. “Ini bukan karya saya”, jawab Salieri. “Itu karya Mozart!” Film itu kemudian mengungkapkan bagaimana kesuksesan Mozart ternyata membangkitkan iri hati yang sangat kuat dalam diri Salieri—bahkan membuatnya ikut berperan dalam menyebabkan kematian Mozart.

Doa yang Penuh Keyakinan

Setelah berusaha selama bertahun-tahun untuk memiliki anak, Richard dan Susan sangat gembira ketika Susan akhirnya hamil. Namun, masalah kesehatan Susan menyebabkan kehamilannya berisiko, sehingga Richard terjaga setiap malam berdoa untuk istri dan anaknya. Suatu malam, Richard merasa bahwa ia tidak perlu terlalu gigih berdoa, karena ia yakin Allah sudah berjanji akan menyertai dalam segala sesuatu. Namun, seminggu kemudian Susan mengalami keguguran. Richard sangat terpukul. Dalam hati ia bertanya-tanya, Apakah mereka kehilangan bayi itu karena ia kurang gigih berdoa?