Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Tim Gustafson

Teman yang Tidak Suportif

“Aku lebih mengenalmu daripada kamu mengenal dirimu sendiri!” Itulah pernyataan tegas seorang teman kepada saya ketika saya masih muda. Ia sebenarnya berniat baik, tetapi kehidupan saya yang rumit sebagai anak angkat dalam keluarga misionaris telah dibentuk oleh pengalaman hidup di empat benua dan budaya yang berbeda-beda. Saya pikir, ia tidak benar-benar mengenal saya.

Itu Salah Saya

Dalam sebuah film komedi lama, seorang pemrogram komputer yang ceroboh nan jenius terpilih untuk mengikuti misi berawak manusia pertama ke planet Mars. Meski terus membuat kesalahan-kesalahan konyol, ia punya kebiasaan spontan untuk berseru, “Bukan salahku!” Sewaktu awak pesawat luar angkasa itu mendarat di Mars, sang pemrogram tergelincir dari atas tangga dan jatuh ke permukaan planet, tepat sebelum rekannya menjejakkan kaki di sana. Jadi, kata-kata pertama yang terucap di Mars adalah, “Bukan salahku!”

Sungai untuk Diseberangi

Ketika Chris McCandless menyimpang dari jalan utama dan masuk ke dalam kawasan liar Alaska, ia berharap itu hanya untuk sementara. Ia menyeberangi Sungai Teklanika pada bulan April, tetapi es yang mencair pada musim panas membuat sungai itu meluap dengan arus deras yang tak terseberangi. McCandless tidak bisa kembali, dan berbulan-bulan kemudian, dalam kondisi kehabisan makanan, ia pun mati dengan tragis. Pengalamannya yang mengenaskan itu kemudian diabadikan dalam buku dan film.

Allah dari Kakak Perempuanku

Amina mengenal Yesus di sebuah negara yang melarang warganya memeluk agama Kristen. Ia pun membagikan imannya kepada adik laki-lakinya, tetapi sang adik menolaknya. Suatu hari, sang adik menderita penyakit paru-paru akut. Saat dirawat seorang diri di kamar rumah sakit yang gelap, ia sempat mengalami kesulitan bernapas. Ia belum berani mengakui Yesus sebagai Anak Allah, bahkan takut menyebut nama Kristus dengan lantang karena bisa saja terdengar oleh orang lain. Jadi, ia berdoa, “Allah dari kakak perempuanku, tolonglah aku sekarang!” Seketika juga ia dapat bernapas lega, dan ruangan itu dipenuhi terang yang tak dapat dijelaskan. Hari itu menjadi awal perjalanannya untuk percaya kepada Yesus.

Gagal Mengenali Allah

Banyak orang menjauhi George Chase. George tinggal di sebuah pondok kecil berukuran 13 meter persegi di tengah hutan yang terletak pada pertemuan Sungai Pawcatuck dan Teluk Little Narragansett, New England. Penduduk setempat tahu bahwa George tidak memiliki bak mandi—fakta yang terbukti dari aroma tubuhnya.

Dapatkah Kita Hidup Selamanya?

Masuk ke kolom komentar situs berita daring memang berisiko, tetapi menarik. Dalam komentar terhadap wawancara dengan seorang jutawan yang sedang berupaya untuk hidup selamanya di dunia ini, seorang pembaca mengunggah kutipan dari Matius 16:25: “‘Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.’ —Yesus.” Menanggapi komentar itu, pembaca lain menulis, “Bukankah ada kitab yang ditulis tentang Yesus itu?” Seorang pembaca ketiga menjawab, “Ya, buku fiksi.”

Mengenali dan Mengasihi Sesama

Hippokrates (±460–375 SM) memisahkan ilmu kedokteran dari takhayul, dan menjadikannya sebagai disiplin yang ilmiah dan dapat diteliti. Namun, ia tetap menekankan sisi manusiawi dalam pengobatan. Ia berkata, “Jauh lebih penting mengetahui orang seperti apa yang menderita penyakit itu, daripada penyakit apa yang diderita orang itu.”

Coretan Dinding yang Bernada Positif

Saat masih muda, jurnalis Sebastian Junger menjelajahi Amerika Serikat dan menulis tentang pengalamannya di sana. Pada suatu hari di tahun 1980-an, ia memasuki sebuah toilet di kawasan Florida Keys dan menemukan dindingnya dipenuhi coretan bernada kebencian—sebagian besar coretan itu ditujukan kepada para imigran Kuba. Namun, ada satu pesan lain yang mencolok dari seseorang yang tampaknya berasal dari Kuba, yang berbunyi, “Puji Tuhan, sebagian besar orang yang kutemui di negara ini begitu hangat, peduli, dan menerimaku di tahun 1962.” Junger lalu mencatat, “Hal-hal terburuk dan terbaik tentang Amerika hadir berdampingan di dinding toilet pria itu.”

Kenangan Lama yang Membekas

Awal musim dingin tahun 1941. Ibadah Minggu baru saja berakhir. Ayah saya dan saudara-saudaranya berjalan kaki pulang ke rumah, sementara ayah mereka masih berada di gereja. Namun kemudian, ketika berjalan menapaki bukit bersalju menuju rumahnya, beliau terlihat sedang menangis. Ia baru saja mendengar kabar bahwa Pearl Harbor telah dibom. Semua putranya, termasuk ayah saya, akan dipanggil negara untuk berperang. Ayah saya selalu mengenang kejadian itu dengan sangat jelas.