Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Tim Gustafson

Pada Waktunya

Pintu mobil ambulans hampir tertutup—dan saya ada di dalamnya. Di luar, anak lelaki saya sedang menelepon istri saya. Dengan penglihatan yang mulai kabur karena kondisi gegar otak, saya memanggil nama anak saya. Menurut ceritanya, saat itu saya sempat berkata kepadanya dengan suara lirih, “Beri tahu ibumu aku sangat mencintainya.”

Lebih dari Sekadar Simbol

Dengan sengaja, bintang bola basket Jordan Bohannon dari Universitas Iowa memelesetkan tembakan bebas yang jika masuk dapat memecahkan rekor kampus yang sudah bertahan selama dua puluh lima tahun. Mengapa ia melakukannya? Pada tahun 1993, Chris Street, bintang bola basket dari kampus yang sama, berhasil mencetak rekor dengan tiga puluh empat kali tembakan bebasnya masuk berturut-turut. Namun, beberapa hari kemudian ia tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Bohannon memilih menghormati kenangan terhadap Street dengan menolak memecahkan rekornya.

Peperangan

Di tengah dentuman senjata-senjata artileri yang mengguncang bumi, seorang prajurit muda berdoa dengan sungguh-sungguh, “Tuhan, jika Engkau menyelamatkan aku dari peperangan ini, aku akan masuk ke sekolah Alkitab seperti kemauan ibuku.” Prajurit itu adalah ayah saya. Allah menjawab doanya, dan setelah Perang Dunia ke-2 usai, ayah saya pun masuk kuliah di Moody Bible Institute dan menyerahkan dirinya melayani penuh waktu.

Berusaha Mengesankan

Dalam perjalanan karyawisata yang dilakukan oleh suatu kelas perguruan tinggi, seorang dosen sangat pangling melihat salah satu mahasiswi unggulannya. Di kelas, ia biasa memakai sepatu setinggi 15 cm. Namun, saat berjalan dengan sepatu santai, tingginya tak lebih dari 153 cm. “Sepatu bertumit itu adalah tinggi badan impianku,” katanya sambil tertawa. “Tetapi sepatu bot ini adalah diriku apa adanya.”

Hari yang Biasa Saja?

Dalam cerita Christmas Every Day karangan William Dean Howells, dikisahkan seorang gadis kecil yang harapannya terkabul, yaitu Natal sepanjang tahun. Namun, pada hari ketiga, keceriaan Natal mulai menipis. Tak lama kemudian, semua orang sudah muak melihat permen. Kalkun menjadi langka dan dijual dengan harga selangit. Kado tak lagi diterima dengan gembira karena sudah bertumpuk di mana-mana. Orang saling membentak dengan jengkel. Tahun itu terasa panjang dan menjemukan.

Pertanyaan di Hari Natal

Jauh sebelum kalender menunjukkan bulan Desember, kemeriahan Natal mulai tampak di kota kami yang terletak di wilayah utara. Pepohonan dan semak-semak di halaman sebuah klinik digantungi lampu hias warna-warni sehingga pada malam hari cahayanya berpendar memukau. Kantor lain menghias bangunannya seperti sebuah kado Natal raksasa yang megah. Ke mana pun mata memandang, terlihat jelas adanya semangat Natal—atau setidaknya kegiatan berbagai usaha yang menjajakan produknya menjelang Natal.

Kondisi yang Tidak Ideal?

Ketika jembatan yang digunakan untuk mencapai kota Techiman, Ghana, dihanyutkan banjir, penduduk New Krobo yang tinggal di sisi lain dari Sungai Tano pun terjebak. Jumlah kehadiran dalam kebaktian gereja yang digembalakan Pendeta Samuel Appiah di Techiman juga menurun drastis karena banyak anggota jemaat yang tinggal di New Krobo. Sungguh suatu kondisi yang tidak ideal.

Sang Raja Masih Berkuasa

Salah satu tajuk berita menyebutnya sebagai “hari paling mematikan bagi umat Kristen dalam beberapa dasawarsa terakhir”. Dua serangan kepada jemaat Tuhan yang sedang beribadah pada hari Minggu di bulan April 2017 itu sungguh tak masuk akal. Pertumpahan darah di dalam rumah ibadah itu sama sekali tak terjelaskan. Namun, kita dapat sedikit terhibur oleh mereka yang pernah mengalami penderitaan serupa.

Di Manakah Damai?

“Masihkah Anda mengharapkan damai?” tanya seorang wartawan kepada penyanyi Bob Dylan pada tahun 1984.