Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Xochitl Dixon

Mengarungi Ombak

Saat suami saya berjalan menyusuri pantai sambil mengambil foto-foto cakrawala di Hawaii, saya duduk di sebuah batu besar, resah memikirkan kondisi kesehatan saya yang kembali memburuk. Meski masalah tetap akan ada ketika saya pulang ke rumah nanti, saat itu saya benar-benar membutuhkan ketenangan. Saya menatap ombak demi ombak menerjang batu-batu karang berwarna hitam, dan perhatian saya tertuju kepada bayangan gelap di atas ombak itu. Dengan memakai fitur zoom pada kamera, dari bentuknya saya mengenali bayangan itu sebagai seekor penyu yang mengarungi ombak dengan santai. Kedua kaki depannya terbentang lebar, tenang tak bergerak. Saya tersenyum sembari membiarkan wajah saya tertiup angin sepoi-sepoi dari laut.

Selendang Ungu

Ketika mendampingi dan merawat ibu saya di sebuah pusat rehabilitasi kanker ratusan kilometer jauhnya dari rumah, saya meminta dukungan doa dari sejumlah teman. Setelah sekian bulan berlalu, perasaan kesepian dan terpencil membuat kekuatan saya terkuras. Saya berpikir, bagaimana bisa saya merawat ibu saya dengan baik kalau saya sendiri merasa kelelahan, baik secara fisik, mental, maupun emosional?

Aman dan Tenang

Sebagai anak balita yang penuh energi, putra saya Xavier menolak untuk menenangkan diri selepas siang hari. Ketenangan itu sering membuatnya mengantuk, padahal ia tidak mau tidur. Jadi, yang ia lakukan adalah bergoyang-goyang di kursinya, meluncur turun dari sofa, meluncur di lantai kayu, bahkan berguling-guling mengitari ruangan untuk menghindari tidur siang. ”Ma, aku lapar . . . aku haus . . . aku mau ke kamar mandi . . . aku mau dipeluk.”

Nyalakan Lampunya

Ketika saya dan suami bersiap-siap untuk pindah ke kota lain, saya ingin memastikan bahwa kami tetap bisa berhubungan dengan anak-anak lelaki kami yang sudah dewasa. Saya menemukan sebuah hadiah yang unik: lampu persahabatan yang terhubung secara nirkabel dengan Internet dan dapat dinyalakan dari jauh. Sewaktu memberikan hadiah itu kepada anak-anak, saya menjelaskan bahwa lampu mereka akan menyala saat saya menyentuh lampu saya di tempat kami. Lampu yang menyala akan mengingatkan mereka pada kasih sayang dan doa saya untuk mereka. Sejauh apa pun jarak memisahkan kami, satu sentuhan pada lampu mereka akan menyalakan juga lampu di rumah kami. Meski kami tahu tidak ada yang dapat menggantikan kontak fisik dan tatap muka, kami dapat berbesar hati dengan mengetahui bahwa kami dicintai dan didoakan setiap kali lampu-lampu tersebut menyala.

Bagai Pinang dibelah Dua

Dalam sebuah acara piknik, kami bertemu dengan seorang wanita yang mengenal keluarga suami saya sejak ia masih kecil. Begitu melihat Alan dan putra kami, Xavier, wanita itu berkata, “Anakmu bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya. Matanya dan senyumnya sama persis dengan ayahnya.” Selain mengungkapkan kemiripan fisik antara ayah dan anak, wanita itu bahkan menyadari adanya kesamaan dalam kepribadian mereka berdua. Namun, meskipun mereka mirip dalam banyak hal, sebenarnya anak saya tidak mencerminkan ayahnya dengan sempurna.

Iman yang Tak Tergoyahkan

Setelah dokter mendiagnosis anak sulung mereka menderita autisme, Diane Dokko Kim dan suaminya merasa sangat sedih karena harus menghadapi kemungkinan merawat anak berkebutuhan khusus seumur hidup mereka. Dalam buku Unbroken Faith (Iman yang Tak Tergoyahkan), ia mengaku kesulitan untuk menyesuaikan impian dan harapan mereka dengan masa depan putra tercinta mereka. Namun, melalui proses yang menyakitkan ini, mereka belajar bahwa Allah sanggup menampung segala kemarahan, kecemasan, dan ketakutan mereka. Saat ini, ketika putra mereka menjelang dewasa, Diane membagikan pengalamannya untuk menyemangati para orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus. Ia memberi tahu mereka tentang janji Allah yang tidak tergoyahkan, kuasa-Nya yang tidak terbatas, dan kasih setia-Nya yang tidak berkesudahan. Ia meyakinkan mereka bahwa Allah mengizinkan kita bersedih ketika impian dan harapan kita sirna, ketika jalan kita seakan tertutup, atau ketika satu lagi babak kehidupan kita berakhir.  

Gaya Hidup Penyembahan

Ketika saya mengantre untuk mengambil sarapan di sebuah konferensi Kristen, sekelompok wanita memasuki ruang makan kami. Saya tersenyum sembari menyapa seorang wanita yang berdiri di belakang saya. Saat membalas sapaan saya, ia berkata, “Saya kenal Anda.” Sambil mengambil telur orak-arik, kami berusaha mengingat-ingat kapan kami pernah saling bertemu sebelumnya. Saya rasa ia salah mengenali saya.

Tiada Kemewahan, Hanya Kemuliaan

Hari itu, saat melihat dekorasi Natal kami yang dipenuhi hiasan-hiasan Natal yang dibuat sendiri oleh anak lelaki saya, Xavier, dan aneka ragam pernak-pernik buatan neneknya, ada perasaan tidak puas dalam diri saya. Saya tidak mengerti alasannya, karena sebelumnya saya selalu menghargai kreativitas dan kenangan yang melekat pada setiap hiasan tersebut. Lalu, mengapa ketika melihat dekorasi Natal di toko-toko, saya justru menginginkan pohon Natal dengan hiasan lampu-lampu indah yang serasi, ornamen bola-bola yang berkilauan, dan pita-pita dari kain satin?

Dalam Satu Tim

Ketika Carson Wentz, pemain quarterback tim football Philadelphia Eagle, kembali merumput setelah sembuh dari cedera parah, quarterback penggantinya, Nick Foles, dengan rela kembali ke bangku cadangan. Meski bersaing memperebutkan posisi yang sama, keduanya memilih untuk saling mendukung dan tetap yakin dengan peran mereka masing-masing. Seorang wartawan melihat bagaimana kedua atlet itu memiliki “hubungan unik yang berakar pada iman mereka dalam Tuhan,” dan hubungan itu ditunjukkan lewat cara mereka mendoakan satu sama lain. Di hadapan orang lain yang menyaksikan mereka, keduanya memuliakan Allah dengan mengingat bahwa mereka berada di tim yang sama—tidak hanya sebagai sesama pemain  quarterback Eagle, tetapi juga saudara seiman di dalam Yesus Kristus, yang sama-sama mereka wakili di lapangan.