Gaya Hidup Penyembahan
Ketika saya mengantre untuk mengambil sarapan di sebuah konferensi Kristen, sekelompok wanita memasuki ruang makan kami. Saya tersenyum sembari menyapa seorang wanita yang berdiri di belakang saya. Saat membalas sapaan saya, ia berkata, “Saya kenal Anda.” Sambil mengambil telur orak-arik, kami berusaha mengingat-ingat kapan kami pernah saling bertemu sebelumnya. Saya rasa ia salah mengenali saya.
Tiada Kemewahan, Hanya Kemuliaan
Hari itu, saat melihat dekorasi Natal kami yang dipenuhi hiasan-hiasan Natal yang dibuat sendiri oleh anak lelaki saya, Xavier, dan aneka ragam pernak-pernik buatan neneknya, ada perasaan tidak puas dalam diri saya. Saya tidak mengerti alasannya, karena sebelumnya saya selalu menghargai kreativitas dan kenangan yang melekat pada setiap hiasan tersebut. Lalu, mengapa ketika melihat dekorasi Natal di toko-toko, saya justru menginginkan pohon Natal dengan hiasan lampu-lampu indah yang serasi, ornamen bola-bola yang berkilauan, dan pita-pita dari kain satin?
Dalam Satu Tim
Ketika Carson Wentz, pemain quarterback tim football Philadelphia Eagle, kembali merumput setelah sembuh dari cedera parah, quarterback penggantinya, Nick Foles, dengan rela kembali ke bangku cadangan. Meski bersaing memperebutkan posisi yang sama, keduanya memilih untuk saling mendukung dan tetap yakin dengan peran mereka masing-masing. Seorang wartawan melihat bagaimana kedua atlet itu memiliki “hubungan unik yang berakar pada iman mereka dalam Tuhan,” dan hubungan itu ditunjukkan lewat cara mereka mendoakan satu sama lain. Di hadapan orang lain yang menyaksikan mereka, keduanya memuliakan Allah dengan mengingat bahwa mereka berada di tim yang sama—tidak hanya sebagai sesama pemain quarterback Eagle, tetapi juga saudara seiman di dalam Yesus Kristus, yang sama-sama mereka wakili di lapangan.
Memberi yang Terbaik
Saat memasuki sebuah rumah penampungan tunawisma di lingkungan kami, di hadapan kami ada setumpuk sepatu hasil sumbangan. Pimpinan tempat itu mengundang persekutuan kaum muda kami untuk membantu menyortir timbunan sepatu bekas itu. Kami menghabiskan waktu sepanjang pagi mencari pasangan sepatu-sepatu tersebut dan menjejerkannya di lantai beton. Di akhir kegiatan itu, kami membuang lebih dari setengah sepatu yang ada karena kondisinya sudah terlalu jelek untuk bisa dipakai lagi. Walaupun tempat penampungan itu tidak bisa melarang orang memberi barang-barang yang sudah rusak, tetapi mereka menolak membagikan sepatu-sepatu yang sudah tidak layak pakai.
Tak Ada Rintangan yang Terlalu Sulit
Sebagai pemimpin tim, saya mengajak murid-murid saya ke sebuah wahana halang rintang. Kami menginstruksikan para siswa untuk mengenakan perangkat keselamatan dan memanjat dinding setinggi 2.5 meter. Mereka yang sudah memanjat terlebih dahulu harus menyemangati pemanjat berikutnya agar mengandalkan perangkat keselamatan mereka, sambil terus memanjat tanpa melihat ke bawah. Salah seorang siswa menatap tantangan di depannya sambil bergumam, “Aku tidak mungkin bisa.” Setelah meyakinkannya bahwa tali dan sabuk pengaman yang dipasangkan kepadanya sangat kuat, kami pun menyemangati dan menyorakinya saat ia memanjat dinding sampai ke puncak.
Doa di Tepi Pantai
Dalam sebuah perjalanan wisata untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua puluh lima, saya dan suami membaca Alkitab di tepi pantai. Ketika para pedagang lewat dan menawarkan suvenir dagangan mereka, kami mengucapkan terima kasih tetapi tidak membeli apa-apa. Salah seorang penjual bernama Fernando tersenyum ketika ditolak dan sempat bersikeras agar kami membeli suvenir untuk teman-teman kami. Ketika saya kembali menolak tawarannya, Fernando berkemas-kemas dan beranjak pergi . . . sambil masih tersenyum lebar! “Semoga Tuhan memberkatimu hari ini,” kata saya.
Bertumbuh Bersama
Dalam suatu pertandingan bisbol, suami saya, Alan, menempati posisi lapangan di bawah lampu sorot. Ketika bola dipukul tinggi oleh lawan menuju sudut lapangan yang gelap, Alan berlari secepat mungkin untuk menangkapnya. Karena matanya tertuju pada bola, ia tidak melihat ada pagar besi di depan dan menabraknya! Malam itu, saya menanyakan keadaannya. Sambil mengusap-usap pundaknya yang sakit, ia berkata, “Seandainya saja tadi teman-temanku memperingatkan kalau aku sedang berlari ke arah pagar.” Suatu tim baru berfungsi baik bila anggota-anggotanya bekerja sama. Cedera Alan bisa saja dihindari apabila rekan setimnya memperingatkannya lebih awal.
Kenangan akan Kasih Setia Allah
Ketika anak laki-laki saya yang sudah dewasa menghadapi situasi sulit, saya mengingatkannya tentang kasih dan pemeliharaan Allah ketika ayahnya sempat diberhentikan dari pekerjaannya. Saya menceritakan kembali masa-masa ketika Allah menguatkan keluarga kami dan memberi kami damai sejahtera ketika ibu saya berjuang dan akhirnya kalah melawan leukemia. Sambil menyoroti kisah-kisah kesetiaan Allah di dalam Alkitab, saya menegaskan bahwa Allah selalu menepati janji-Nya. Saya mengajak anak saya mengenang kembali bagaimana Allah menolong keluarga kami dan dapat diandalkan dalam suka maupun duka. Dalam keadaan apa pun, baik dalam pergumulan maupun sukacita, penyertaan, kasih, dan anugerah Allah terbukti cukup.
Allah Mengerti
Setelah pindah rumah, Ryan, putra Mabel yang berusia tujuh tahun, mengeluh saat bersiap-siap mengikuti kamp musim panas di sekolah barunya. Mabel menyemangati dan meyakinkan anaknya bahwa ia tahu perubahan itu tidak mudah. Namun, pagi itu, tidak biasanya Ryan terlihat begitu muram. Mabel pun bertanya, “Apa yang mengganggu pikiranmu, Ryan?”