Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Xochitl Dixon

Allah yang Menciptakan Segalanya

Anak saya yang berumur tiga tahun, Xavier, meremas tangan saya saat kami memasuki Akuarium Monterey Bay di California. Ia menunjuk patung paus bungkuk berukuran asli yang tergantung pada langit-langit akuarium. “Besar sekali!” serunya dengan gembira, sambil kami terus menjelajahi setiap koleksi yang ditampilkan di sana. Kami tertawa ketika sekawanan berang-berang mencipratkan air saat diberi makan. Kami berdiri membisu di depan kaca akuarium yang berukuran raksasa, terpesona oleh ubur-ubur cokelat keemasan yang menari dalam air berwarna biru elektrik. “Allah menciptakan setiap makhluk di dalam laut,” saya berkata, “sama seperti Dia menciptakan Xavier dan Mama.” Xavier berbisik, “Wow.”

Dalam Tangan Allah yang Pengasih

Ketika kondisi kesehatan saya kembali merosot, saya mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi dan keadaan yang tidak dapat saya kendalikan. Suatu hari, ketika membaca sebuah artikel di majalah Forbes, saya mengetahui bahwa para ilmuwan menemukan adanya peningkatan dalam “kecepatan rotasi Bumi” dan menyatakan bahwa Bumi terus “bergoyang” dan “berputar lebih cepat”. Mereka berpendapat bahwa “untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita mungkin perlu menghapus satu detik dari waktu global.” Kehilangan satu detik tampaknya tidak berarti, tetapi mengetahui bahwa rotasi Bumi dapat berubah adalah hal besar bagi saya. Bahkan ketidakstabilan sedikit saja bisa membuat iman saya goyah. Namun, kesadaran bahwa Allah mengendalikan segalanya telah menolong saya untuk tetap mempercayai-Nya, bagaimanapun menakutkannya ketidaktahuan saya atau rapuhnya keadaan saya.

Siklus Kasih Allah yang Agung

Sebagai seseorang yang baru percaya kepada Tuhan Yesus di usia 30 tahun, saya menyimpan banyak pertanyaan setelah menyerahkan hidup saya kepada-Nya. Ketika saya mulai membaca Alkitab, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Saya pun menghubungi seorang teman sambil mengeluh, “Bagaimana mungkin saya menaati semua perintah Allah? Saya baru saja membentak suami saya pagi ini!”

Juruselamat yang Rela

Ketika sedang mengemudi pada larut malam, Nicholas melihat ada kebakaran di sebuah rumah. Ia langsung menghentikan mobil, bergegas memasuki rumah yang terbakar, dan menyelamatkan empat orang anak. Ketika pengasuh anak yang masih remaja menyadari masih ada satu anak lagi yang terperangkap di dalam, ia langsung memberi tahu Nicholas. Tanpa ragu Nicholas masuk lagi ke dalam rumah yang dilalap api. Ketika terjebak di lantai dua bersama seorang anak perempuan berumur enam tahun, Nicholas pun memecahkan kaca jendela. Ia melompat ke luar ke tempat yang aman, tepat ketika bala bantuan tiba. Dengan mendahulukan orang lain di atas keadaannya sendiri, Nicholas berhasil menyelamatkan semua anak di rumah itu.

Menemukan Harapan

Ahli kelautan Sylvia Earle telah menyaksikan sendiri kerusakan yang terjadi pada terumbu karang. Sebagai tanggapannya, ia mendirikan Mission Blue, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengembangkan tempat-tempat khusus di seluruh dunia yang disebutnya sebagai “titik-titik harapan”. Terumbu-terumbu karang yang berusaha dilindungi itu “sangat penting bagi kesehatan laut” yang pada gilirannya juga berdampak pada kehidupan manusia di muka bumi. Lewat perawatan khusus terhadap wilayah-wilayah itu, para ilmuwan telah melihat adanya perbaikan dalam komunitas makhluk-makhluk hidup dalam air dan kehidupan spesies yang terancam punah dapat dilestarikan.

Cahaya Pengharapan

Salib merah berkilau milik ibu saya seharusnya tergantung di sebelah tempat tidur beliau di pusat perawatan kanker. Selain itu, seharusnya saya menyiapkan diri untuk mengunjunginya pada masa liburan di sela-sela jadwal perawatannya. Menikmati satu hari lagi bersama ibu saya adalah hadiah Natal yang saya dambakan. Namun, saya malah berada di rumah . . . menggantungkan salib milik beliau pada sebatang pohon Natal imitasi.

Komitmen Allah yang Menghibur

Bertahun-tahun lalu, keluarga kami mengunjungi tempat bernama Four Corners (Empat Sudut), satu-satunya wilayah di Amerika Serikat tempat empat negara bagian bertemu di satu lokasi. Suami saya berdiri di bagian bertanda Arizona. Putra sulung kami, A.J., melompat ke bagian Utah. Putra bungsu kami, Xavier, memegang tangan saya ketika kami bersama-sama menginjak wilayah Colorado. Ketika saya bergeser ke bagian New Mexico, Xavier bercanda dengan berkata, “Ya ampun, Mama meninggalkanku di Colorado!” Kami tertawa saat menyadari bahwa kami sebenarnya berada bersama sekaligus terpisah di empat negara bagian. Sekarang, setelah kedua putra kami beranjak dewasa dan tidak lagi tinggal bersama kami, saya semakin menghargai janji Allah untuk berada dekat dengan seluruh umat-Nya, ke mana pun mereka melangkah.

Merefleksikan Terang Anak Allah

Setelah pertengkaran kami, akhirnya ibu saya setuju untuk bertemu di sebuah tempat yang jaraknya lebih dari satu jam perjalanan dari rumah saya. Namun, setiba saya di sana, beliau sudah meninggalkan tempat itu bahkan sebelum saya tiba. Dalam kemarahan, saya menulis pesan untuknya. Namun, saya langsung merevisinya setelah merasa bahwa Allah mengingatkan saya untuk menanggapi dengan kasih. Setelah ibu saya membaca pesan yang sudah direvisi itu, ia menelepon saya. “Kau sungguh sudah berubah,” katanya. Allah telah memakai pesan saya untuk menggerakkan ibu saya bertanya tentang Yesus. Akhirnya, beliau menerima Dia sebagai Juruselamat pribadinya.

Celikkan Mata Hatiku

Pada tahun 2001, seorang bayi prematur bernama Christopher Duffley membuat para dokter terkejut setelah berhasil bertahan hidup. Pada usia lima bulan, ia dimasukkan ke panti asuhan sebelum akhirnya diadopsi oleh bibinya sendiri. Seorang guru menemukan bahwa pada usia empat tahun Christopher dapat bernyanyi dengan nada sempurna meski ia buta dan mengidap autisme. Enam tahun kemudian di gereja, Christopher berdiri di atas panggung dan menyanyikan lagu “Open the Eyes of My Heart” (Celikkan Mata Hatiku). Videonya ditonton oleh jutaan orang. Pada tahun 2020, ia menyatakan keinginannya untuk menjadi duta penyandang disabilitas. Ia terus membuktikan bahwa segalanya selalu mungkin ketika mata hatinya terbuka terhadap rencana Allah.