Penulis

Lihat Semua

Artikel oleh Xochitl Dixon

Tanggung Jawab sebagai Pengelola

Ketika sedang berlibur, saya dan suami berjalan-jalan menyusuri pantai dan melihat sebidang besar pasir berbentuk bujur sangkar yang ditutup dengan pagar darurat. Seorang pemuda menjelaskan bahwa ia dan beberapa sukarelawan menjaga telur-telur penyu di setiap sarang itu siang malam. Begitu tukik-tukik meninggalkan sarangnya, kehadiran binatang dan manusia akan mengancam kelangsungan hidup mereka. “Bahkan dengan segala upaya kami, para ilmuwan memperkirakan hanya satu dari setiap lima ribu ekor tukik yang berhasil mencapai usia dewasa,” katanya. Namun, persentase yang suram itu tidak membuat pemuda tersebut patah semangat. Semangatnya dalam menjaga tukik-tukik itu tanpa pamrih telah mendorong saya untuk semakin peduli pada pelestarian penyu. Kini saya mengenakan liontin berbentuk penyu yang mengingatkan saya pada tanggung jawab dari Allah untuk melestarikan ciptaan-Nya. 

Melenturkan Otot-Otot Iman

Di kebun binatang, saya duduk untuk beristirahat dekat kandang kungkang. Hewan itu sedang bergelantung terbalik, dan terlihat sangat nyaman dalam posisi diam sama sekali. Saya menghela napas. Karena masalah kesehatan, tidak mudah bagi saya untuk tetap diam. Saya ingin terus bergerak dan berbuat sesuatu. Saya jengkel pada keterbatasan saya dan ingin berhenti merasa begitu lemah. Namun, setelah memperhatikan si kungkang, saya melihat bagaimana ia mengulurkan satu tangan, mencengkeram dahan lain, lalu terdiam lagi. Sikap diam membutuhkan kekuatan. Untuk dapat merasa tabah dengan gerak lambat atau bahkan sepenuhnya diam seperti kungkang tadi, saya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan otot yang luar biasa. Untuk mempercayai Allah dalam setiap musim kehidupan saya yang sulit, saya butuh kekuatan supernatural.

Perjamuan Kudus di Bulan

Ketika Eagle, modul bulan dari Apollo 11, mendarat di area yang disebut Sea of Tranquility pada permukaan bulan tanggal 20 Juli 1969, para penjelajah ruang angkasa mengambil waktu beberapa saat untuk memulihkan diri sebelum menginjak permukaan bulan. Astronot Buzz Aldrin telah mendapat izin untuk membawa roti dan anggur supaya ia dapat melakukan perjamuan kudus. Setelah membaca Alkitab, ia mencicipi makanan pertama yang pernah dimakan manusia di bulan. Di kemudian hari, ia menulis: “Saya menuangkan anggur ke dalam cawan yang diberikan gereja saya. Oleh gravitasi bulan, cairan anggur tersebut bergulung pelan dengan indahnya menaiki dinding cawan.” Lewat perjamuan kudus yang dilakukannya di bulan, Aldrin menyatakan imannya pada pengorbanan Kristus di kayu salib dan jaminan akan kedatangan-Nya yang kedua.

Pemeliharaan Allah

Bersama ibunya, Buddy yang berusia tiga tahun pergi ke gereja setiap minggu untuk membantu menurunkan bahan makanan dari truk yang melayani pembagian makanan. Suatu hari, setelah mendengar ibunya bercerita bahwa truk tersebut rusak, Buddy berkata, “Aduh . . . bagaimana mereka bisa membagi makanan?” Ibunya menjelaskan bahwa gereja harus mengumpulkan uang untuk membeli truk baru. Buddy tersenyum. “Aku punya uang,” katanya, seraya meninggalkan ruangan. Ia kembali dengan membawa stoples plastik berhias stiker warna-warni berisi uang receh, yang berjumlah 38 dolar lebih sedikit. Meski uang Buddy tidak banyak, Allah menggabungkan persembahannya dengan persembahan dari jemaat lain untuk membeli truk pendingin yang baru, sehingga gereja dapat terus melayani komunitas mereka.

Melihat Pelangi Harapan

Dalam suatu liburan pada bulan Oktober, saya terpaksa mendekam di kamar selama beberapa hari untuk memulihkan diri dari sakit kronis. Suasana hati saya pun jadi semendung langit kala itu. Ketika saya akhirnya bisa keluar dan berjalan-jalan ke suatu mercusuar bersama suami, awan kelabu masih menghalangi sebagian besar pemandangan yang ada. Namun, saya tetap berusaha mengambil beberapa foto pegunungan yang mendung di tengah langit kelabu.

Pengharapan yang Menembus Badai

Pada musim semi tahun 2021, beberapa orang pemburu badai di Texas, Amerika Serikat, merekam video dan memotret sebuah pelangi yang muncul di sebelah tornado. Dalam salah satu rekaman video, tangkai-tangkai gandum yang panjang merunduk ditiup angin kencang yang berpusar. Pelangi yang indah membentang di kaki langit yang kelabu dan melengkung ke arah tornado. Video lain menampilkan orang-orang di tepi jalan sedang menyaksikan pelangi lambang pengharapan itu berdampingan gagah dengan pusaran awan berbentuk corong.

Selalu Layak untuk Dibagikan

Setelah menjadi orang percaya, saya menyampaikan kabar baik tentang Tuhan Yesus kepada ibu saya. Beliau menolak untuk percaya kepada Yesus, bahkan kemudian mendiamkan saya selama satu tahun. Pengalaman buruk yang dialaminya dengan orang-orang yang mengaku pengikut Tuhan membuatnya tidak mudah percaya. Saya terus mendoakan ibu saya dan berusaha menghubunginya tiap minggu. Roh Kudus menghibur dan terus memelihara hati saya sementara ibu saya masih kukuh pada sikapnya. Ketika akhirnya beliau mau menjawab telepon saya, saya bertekad untuk terus mengasihinya dan membagikan kebenaran Allah kepadanya setiap kali muncul kesempatan. Berbulan-bulan setelah kami berbaikan, beliau berkata saya berubah. Hampir satu tahun setelah itu, ia pun menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, dan, karena itu, hubungan kami terjalin semakin erat.

Mengambil Risiko untuk Mengasihi

Setelah seorang sahabat mengakhiri persahabatan kami yang sudah terjalin selama sepuluh tahun tanpa penjelasan apa-apa, saya kembali kepada kebiasaan lama dan menjaga jarak dengan orang lain. Dalam proses menyembuhkan luka hati itu, saya membaca buku The Four Loves (Empat Jenis Kasih) karya C. S. Lewis. Menurut Lewis, kasih membutuhkan kerentanan. Ia berkata, “tidak ada jaminan yang aman” ketika seseorang mengambil risiko untuk mengasihi. Ia berpendapat, mengasihi “apa pun [akan membuat] hati tersayat dan mungkin saja hancur.” Kata-kata itu mengubah cara pandang saya terhadap peristiwa ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya (Yoh. 21:1-14), yang terjadi setelah Petrus menyangkal Dia bukan hanya satu kali, tetapi sampai tiga kali (18:15-27).

Sungguh Besar Kasih Allah 

Ketika seorang teman meminta saya berbicara tentang kesucian hidup kepada gadis-gadis remaja dalam sebuah lokakarya, saya sempat menolaknya. Sewaktu remaja, saya pernah memberontak dan bergumul bertahun-tahun dengan luka batin yang diakibatkan oleh perilaku saya yang amoral. Setelah menikah dan mengalami keguguran saat mengandung anak pertama, saya mengira Allah menghukum saya karena dosa-dosa masa lalu itu. Ketika akhirnya menyerahkan hidup kepada Tuhan Yesus di usia tiga puluh, saya mengakui dosa-dosa saya dan bertobat . . . berkali-kali. Namun, masih saja rasa bersalah dan malu menghantui saya. Bagaimana mungkin saya bercerita tentang kasih karunia Allah, apabila saya sendiri tidak bisa sepenuhnya menerima kasih karunia-Nya yang luar biasa itu? Syukurlah, seiring berjalannya waktu, Allah mengenyahkan kebohongan yang membelenggu saya kepada masa lalu sebelum saya bertobat. Oleh kemurahan-Nya, akhirnya saya rela menerima pengampunan yang telah ditawarkan Allah kepada saya selama ini.