Dalam pasal lima dari Kitab Amos, kita menemukan ungkapan yang paling sering dikutip dan diingat dari seluruh kitabnya, suatu ungkapan yang disebut Martin Luther King Jr. sebagai perkataan seseorang yang tekun mengejar keadilan. Setelah menolak cara ibadah bangsa Israel, Allah Yahweh menuntut mereka melalui Amos: “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24).
Jika dilepaskan dari konteks kitabnya, perkataan tersebut terdengar puitis, bagaikan obat penawar bagi luka-luka dunia ini. Namun, konteksnya dalam kitab ini menunjukkan dengan jelas bahwa tuntutan Allah atas keadilan bukanlah hal yang main-main. Dalam pasal lima, Yahweh menolak seluruh ibadah Israel. Semua perayaan, persembahan, dan nyanyian mereka (ay. 21-23). Dia tidak menghendaki semua itu, karena umat yang membawa itu ke bait-Nya pulang dari ibadah itu lalu menolak bersikap adil kepada orang-orang yang miskin, tertolak, dan berkekurangan.
Kita perlu memahami bahwa keadilan yang dimengerti Israel berarti pembalasan terhadap bangsa-bangsa kafir yang menyiksa sesamanya. Namun, keadilan yang dimaksudkan Allah berarti membawa Israel kembali selaras dengan tuntutan-tuntutan dalam perjanjian-Nya. Yang utama dalam penyelarasan itu adalah bagaimana Israel memandang kaum miskin yang hidup di antara mereka.
Seperti Israel, tidak salah jika kita ingin Allah turun tangan menindak kejahatan yang kita lihat di tengah dunia.
Peringatan Amos mengandung makna keadilan yang lebih mendalam daripada yang kita pikirkan atau inginkan. Persoalan Allah dengan Israel berkisar pada kegagalan mereka untuk tetap setia dalam ikatan perjanjian mereka dengan-Nya. Yang Dia persoalkan bukan ibadah itu sendiri, karena mereka masih memelihara ritual Bait Allah dengan baik, membawa persepuluhan, melaksanakan kurban, dan beribadah hampir setiap hari. Yang dipermasalahkan adalah bagian kedua dari perintah yang utama itu, yaitu mengasihi sesama manusia (Imamat 19:18).
Sebagai umat Allah, kita dipanggil ke dalam suatu hubungan dengan Allah yang mengandung dua tuntutan: mengasihi Dia dan mengasihi sesama manusia. Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa dunia akan mengenali mereka sebagai murid-murid-Nya bukan dari ketekunan agamawi mereka atau bahkan dari pesan mereka, melainkan dari kasih mereka kepada sesama orang percaya (Yohanes 13:35).
Jika, sebagai gereja, kita gagal memperhatikan kebutuhan sesama, atau gagal memperjuangkan keadilan bagi sesama karena terhalang perbedaan warna kulit, status ekonomi, atau pilihan politik, atau tidak mempedulikan penderitaan saudara-saudari seiman kita dengan alasan “pengabaran Injil yang terpenting,” atau mendukung para tokoh agama untuk “menyelamatkan muka,” meski mereka telah terbukti menyalahgunakan kekuasaan dengan melecehkan kaum yang lebih lemah, kita patut menerima kecaman yang disampaikan Amos.
Kita tidak mungkin mempunyai hubungan yang benar dengan Allah jika pada saat yang sama kita menindas, mengabaikan, atau membungkam saudara-saudari kita yang membutuhkan keadilan. Jika terus berbuat demikian, ketika akhirnya keadilan Allah datang bergulung-gulung seperti air, kita pun akan terseret ke dalam arus penghakiman tersebut.
Dikutip dan diadaptasi dari artikel oleh Jed Ostoich, dari buklet Seri Terang Ilahi “Keadilan dan Belas Kasihan—Menghidupi Panggilan Kristen di tengah Dunia”, terbitan DHD Indonesia.
Baca Juga:
Apa saja tuntutan Allah atas kita sebagai orang percaya?
Bukankah kita semua rindu menerima belas kasihan bagi diri kita dan melihat keadilan ditegakkan di dunia? Bagaimana jika kedua hal itu sebenarnya perlu dimulai dari kita sendiri?
Dalam Seri Terang Ilahi “Keadilan dan Belas Kasihan” terimalah hikmat dari para penulis yang menjelajahi hubungan indah antara keadilan dan belas kasihan, serta bagaimana keduanya berkaitan erat dengan perintah yang terutama—mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Dapatkan buklet Seri Terang Ilahi tersebut di DHD Indonesia!
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
