Oleh Lam Kuo Yung
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” –1 Petrus 4:10
Ketika mengunjungi gereja seorang teman, saya bertemu dengan jemaat yang sangat hidup dan bersemangat melakukan berbagai pelayanan untuk memenuhi setiap kebutuhan yang ada. Sebagian pelayanan mereka tergolong besar dengan relawan yang banyak, tetapi ada pula pelayanan yang dilakukan oleh satu orang. Yang menarik, seluruh pelayanan itu dikerjakan oleh relawan. Saya pun bertanya kepada gembalanya bagaimana semua itu bisa terjadi. Jawaban beliau mengejutkan sekaligus menggembirakan.
Ketika mulai memimpin gereja tersebut beberapa tahun lalu, istrinya baru melahirkan dan ia menjadi satu-satunya staf gereja. Karena itulah banyak anggota gereja tergerak untuk ikut melayani (bila tidak begitu, tidak ada pelayanan yang bisa dilakukan).
Karena melihat kesibukan sang gembala, para anggota gereja yang melayani itu berusaha tidak mengganggunya dengan terlalu banyak pertanyaan. Mereka memilih untuk terus melayani dan melakukan apa yang mereka pikir baik bagi komunitas mereka. Dari sanalah muncul budaya pelayanan yang spontan menurut karunia rohani masing-masing orang. Saat ini, meskipun anak-anak sang gembala sudah dewasa, anggota-anggota gereja telah terbiasa mengambil inisiatif dengan melayani sesuai karunia-karunia mereka, sehingga bentuk-bentuk pelayanan baru pun terus berkembang.
Itulah kisah “kebetulan yang indah”—sesuatu yang berawal dengan kekacauan tetapi berakhir manis. Tak ada yang meragukan bahwa semua itu berjalan dengan baik karena anugerah Allah. Namun, tidak bijaksana jika kita mencoba meniru pengalaman pendeta itu. Adalah lebih baik jika kita menerapkan prinsip-prinsip Alkitab yang kita saksikan dalam pengalaman gereja tersebut.
Prinsip #1
Karunia rohani harus digunakan untuk kepentingan bersama.
Rasul Paulus mengajarkan, “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1 Korintus 12:7). Allah tidak pernah memberikan karunia hanya demi kepuasan pribadi seseorang. Karunia itu selalu dimaksudkan untuk dinikmati bersama. Oleh karena itu, karunia rohani mungkin dapat dipahami sebagai kesanggupan apa pun yang diberikan kepada seorang anggota gereja Tuhan, oleh Roh Kudus, demi manfaat seluruh tubuh Kristus.
Tuhan Yesus pernah menceritakan perumpamaan mengenai tiga hamba yang masing-masing menerima sejumlah uang dari tuan mereka yang akan berangkat ke negeri yang jauh. Mereka diperintahkan untuk menginvestasikan uang mereka selama tuannya pergi. Dua hamba dengan rajin mengembangkan uang tersebut, sementara hamba ketiga malas dan mengubur uangnya. Ketika tuan mereka pulang, hamba yang rajin menerima hadiah, sedangkan hamba yang malas dihukum dengan keras (Matius 25:14-30).
Setelah mendengar cerita tersebut, kita mungkin bertanya mengapa sang tuan memperlakukan hamba ketiga begitu keras. Padahal jumlah uang yang dikembalikan kepadanya tidak berubah. Namun, jika kita memahami bahwa uang dalam perumpamaan ini mewakili karunia-karunia rohani, kita tahu betapa besarnya kesalahan yang telah dilakukan si hamba. Uang fisik yang dikubur tetaplah berwujud uang, tetapi karunia rohani yang dikubur akan hilang selamanya. Allah berhak marah ketika hamba-Nya menyia-nyiakan karunia pemberian-Nya.
Oleh karena itu, jangan pernah mengubur karunia rohani Anda. Bila ada pelayanan di gereja yang memungkinkan Anda menggunakan karunia Anda, bergabunglah. Bila pelayanan seperti itu tidak ada, mintalah izin untuk memulainya. Atau, langsung saja gunakan karunia Anda untuk memberkati orang lain, tidak perlu harus menunggu sampai suatu pelayanan dimulai. Karunia rohani tidak harus dipakai dalam pelayanan formal saja. Karunia apa pun yang digunakan adalah pelayanan itu sendiri. Apa pun pelayanannya, kita tidak boleh menyia-nyiakan karunia yang telah diberikan Roh kepada kita.
Prinsip #2
Karunia rohani yang digunakan akan membuat komunitas bertumbuh.
Kata dalam bahasa Yunani untuk “karunia” adalah charisma, dan akar katanya adalah charis, yang artinya “anugerah”. Jadi, ketika Rasul Paulus menulis, “Kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus” (Efesus 4:7), ia bermaksud mengingatkan kita bahwa semua orang percaya telah menerima karunia rohani dari Kristus. Tidak ada orang Kristen yang tidak diberi karunia rohani.
Lebih lanjut, sang rasul berkata, “Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Efesus 4:11-12). Di sini, kita melihat bahwa pertumbuhan gereja terjadi ketika seluruh anggota komunitas menggunakan bersama-sama segala karunia yang diberikan Kristus kepada mereka. Mereka yang menerima karunia mengajar harus mengajar, dan mereka yang menerima karunia pelayanan harus melayani.
Begitu memahami prinsip tersebut, kita akan jauh lebih berhati-hati membangun gereja dengan cara menambah jumlah staf untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kita. Kegiatan gereja yang meningkat mungkin membuat organisasi bertumbuh, tetapi tidak komunitasnya.
Langkah yang lebih alkitabiah adalah dengan mendorong setiap anggota gereja komunitas untuk menghargai dan menggunakan karunia yang mereka terima dari Allah. Hanya ketika setiap bagian bergerak aktif, seluruh tubuh Kristus akan berfungsi dengan baik.
“Tidak seorang pun mendapat karunia lebih atau kurang daripada yang lain. Setiap pribadi dikaruniai dengan kepenuhan rahmat, meskipun rahmat itu berbeda-beda wujudnya bagi masing-masing orang. Meski demikian, rahmat itu tetap sama bagi semua.” –Marva Dawn
Prinsip #3
Karunia rohani harus dihormati oleh seluruh komunitas.
Ada tujuan di balik setiap karunia rohani yang diberikan Allah. Oleh karena itu, para pemimpin gereja harus peka mengenali karya Allah dalam diri setiap umat-Nya, dan memperlengkapi masing-masing dari mereka untuk mengembangkan karunianya.
Pemimpin dipanggil untuk menjadi gembala, bukan manajer. Kita tidak boleh memanfaatkan orang hanya demi mengejar pertumbuhan organisasi yang kita dambakan. Alih-alih, kita harus bertanya kepada Allah, bagaimana sebaiknya kita menganyam segala karunia yang diberikan-Nya kepada komunitas kita agar dapat membentuk satu permadani yang akan menyatakan kemuliaan-Nya.
Dengan kata lain, kita membangun gereja lokal kita dengan mengerahkan karunia-karunia yang telah Allah tempatkan di antara kita. Kita tidak begitu saja mencontoh cara pertumbuhan gereja lain, meski gereja tersebut sangat sukses dalam konteks mereka sendiri.
Kita akan dibuat terheran-heran oleh kreativitas Allah, ketika gereja kita bertumbuh dengan menggunakan beraneka ragam karunia yang terdapat dalam komunitas kita. Setiap gereja akan menjadi gereja yang unik. Ketika Allah menyatukan semua jemaat-Nya, kita akan menjadi seperti padang rumput indah di musim semi, yang dihiasi ribuan bunga bermekaran yang indah dan menakjubkan!
Jadi, apakah karunia rohani yang Anda miliki? Apakah karunia Anda telah digunakan dengan baik bagi pekerjaan Tuhan? Bila Anda tidak tahu karunia Anda, saya anjurkan agar Anda bertanya kepada saudara-saudari seiman yang lebih matang dan mengenal Anda dengan baik. Mereka yang sering berinteraksi dengan Anda tentu tahu karunia-karunia yang Anda miliki. Lakukanlah apa pun yang Anda bisa untuk mengembangkan dan menggunakan karunia-karunia Anda. Jangan menyia-nyiakannya.
Semoga Anda dan gereja Anda menikmati berkat yang melimpah ketika Anda dengan setia melayani Allah dan sesama dengan karunia rohani pada diri Anda!
Renungkan:
- Menurut pengamatan Anda, karunia apa saja yang terdapat dalam komunitas Anda? Adakah karunia-karunia yang belum tergali dalam komunitas Anda?
- Bagaimana karunia-karunia tersebut dapat menjadi berkat bagi orang lain dan berguna untuk membangun tubuh Kristus?
Dikutip dan diadaptasi dari buku Hidup Bersama: Menghayati Kembali Arti Hidup sebagai Komunitas Keluarga Allah oleh Lam Kuo Yung, terbitan PT Duta Harapan Dunia.
Baca Juga:
Hidup Bersama: Menghayati Kembali Arti Hidup sebagai Komunitas Keluarga Allah
Banyak masyarakat dan gereja masa kini yang tampaknya kurang menghayati arti hidup bersama dalam sebuah komunitas. Kita hidup, beribadah, bekerja, dan bersenang-senang sebagai keluarga yang berjalan sendiri-sendiri. Namun, orang Kristen dipanggil untuk hidup sebagai satu tubuh Kristus.
Bagaimana kita dapat kembali kepada tujuan komunitas yang alkitabiah? Bagaimana kita dapat berbagi dan mendukung satu sama lain? Bacalah buku Hidup Bersama dan hayati kembali pengalaman hidup, bertumbuh, dan melayani dalam komunitas keluarga Allah.
Pelayanan Our Daily Bread Ministries di Indonesia didukung terutama oleh persembahan kasih dari para pembaca, baik individu maupun gereja di Indonesia sendiri, yang memampukan kami untuk terus membawa hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup kepada banyak orang di dalam negeri.
