Sabar terhadap Satu Sama Lain
Beberapa hari lalu, saya berhenti di belakang sebuah mobil di suatu persimpangan jalan dan memperhatikan stiker berwarna cerah yang terpasang di jendela belakangnya, yang bertuliskan: “Pengemudi Baru. Mohon Bersabar.” Dengan banyaknya tindakan membabi buta di jalanan yang kita dengar (atau alami sendiri), stiker itu menjadi pengingat yang sangat baik agar kita dapat bersabar terhadap sesama pengemudi lainnya.

Allah Menyertai di Segala Usia Kita
Sebuah penelitian dari Denmark menjelajahi fenomena yang dialami oleh kebanyakan dari kita: seringnya kita menganggap diri lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Hasil temuannya menawarkan sebuah konstanta—berapa pun usia kita sekarang ini, kita semua melihat diri kita 20 persen lebih muda dari yang sebenarnya. Seseorang yang berusia 50 tahun cenderung membayangkan dirinya berusia 40 tahun. (Bayangkan skenario lucu ketika seorang anak berpikir, “Hore, usiaku sepuluh tahun, tetapi kekuatan dan penampilanku seperti anak berusia delapan tahun!”)

Kemurahan Hati dalam Yesus
Semasa gerakan perjuangan hak-hak sipil di AS, Leah Chase, juru masak terkenal asal New Orleans, melakukan apa yang ia bisa untuk mendukung gerakan itu. Ia pun memasak dan memberi makan para pendemo yang sedang berunjuk rasa menuntut kesetaraan hak. Ia berkata, “Saya hanya menyediakan makanan. Orang-orang itu sedang memperjuangkan sesuatu, dan mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi di luar sana. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka di jalanan. Akan tetapi, ketika ada di sini, mereka tahu saya akan memberi mereka makan. Itulah yang dapat saya lakukan bagi mereka.”

Dilema Spiritual
Dalam satu hari, umumnya orang mengecek ponselnya sebanyak 150 kali. Bayangkan sejenak hal tersebut. Ada yang menyita perhatian kita, dan bisa jadi hal itu tidak membawa kebaikan bagi kita. Itulah yang diyakini Tristan Harris. Ia adalah salah satu narasumber dalam film yang dibintangi oleh tokoh-tokoh ternama di bidang teknologi, yaitu mereka yang memperkenalkan kita kepada “media sosial.” Akan tetapi, alih-alih memberikan pujian, mereka justru menyuarakan peringatan, dengan menyebut realitas kita hari ini (dan juga menamai filmnya) sebagai The Social Dilemma (Dilema Sosial). “Kita adalah produknya. Perhatian kita adalah produk yang diperjualbelikan kepada para pemasang iklan.” Kita tentu memberikan perhatian kita kepada sesuatu yang kita anggap berharga atau layak. Namun, tidak jarang apa yang kita berikan perhatian itu bisa jadi sesuatu yang akhirnya kita puja.
Bagaimana Perasaan Allah terhadap Anda?
Kita sering membahas tentang apa yang Allah pikirkan dan katakan. Namun, pernahkah kita mencari tahu bagaimana perasaan Allah terhadap kita?
