Sukacita yang Menetap
Pada tahun 2014, penduduk sebuah desa di Norwegia memasang rambu lalu lintas yang mendorong para penyeberang jalan untuk melakukannya dengan cara yang konyol. Tujuannya adalah untuk menghadirkan momen-momen lucu—bagi “para pejalan kaki yang konyol” dan juga mereka yang menyaksikannya—agar suasana hati semua orang menjadi lebih cerah. Kekonyolan yang sekilas itu dapat menjadi dorongan semangat sekejap bagi mereka yang sedang murung.

Sudut Pandang Allah
Pada tahun 2018, Pendeta Tan Flippin mengalami kecelakaan sepeda yang membuat ia harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang pinggul. Ketika para dokter meminta dilakukannya pemindaian CT untuk memeriksa apakah terjadi gegar otak, mereka justru menemukan tumor ganas berukuran besar di bagian depan otaknya. Penemuan tersebut membawa Flippin kepada proses pengobatan yang panjang, dengan semakin banyak massa tumor yang ditemukan dan perawatan ekstensif yang harus dijalaninya—termasuk transplantasi sumsum tulang belakang. Flippin meyakini bahwa “Allah mengizinkan kecelakaan itu terjadi agar tumor otaknya ditemukan.”
Satu dengan Kristus
Jika kita memang diselamatkan karena kasih karunia, mengapa kita perlu berbalik dari cara hidup kita yang lama? Rasul Paulus menjelaskan bahwa orang percaya telah mati terhadap dosa. Karena kita telah disatukan dengan Yesus, kita juga bersatu dengan Dia dalam kematian-Nya.

Jawaban yang Tidak Hambar
Bert meletakkan kartu debitnya di atas lembar tagihan restoran. Saat hendak mengambilnya, si pelayan restoran sempat bertanya, “Tunggu, siapa yang berkata, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ ini? Sombong sekali orang itu!” Bert menyadari bahwa pelayan tersebut bereaksi terhadap kalimat yang tercetak pada kartu nama perusahaan keuangan Kristen yang dimilikinya, yakni ucapan Yesus di Yohanes 14:6. Karena tertarik mendengar tanggapan pelayan itu, Bert kemudian menjelaskan identitas dari “orang itu” juga pengorbanan-Nya yang membawa kita kembali kepada Allah.

Mendengar Suara Allah
Pada awal abad ke-20, kota New York telah menjadi tempat yang ramai. Bunyi kereta api, mobil, dan trem yang lewat, ditambah teriakan penjual koran serta orang-orang yang lalu-lalang membuat suasana sangat berisik! Namun, suatu hari di persimpangan antara Broadway dan jalan nomor 34, seorang pria bernama Charles Kellogg berkata kepada temannya, “Hei, saya mendengar suara jangkrik.”