Cara Angka dalam Alkitab Mencerminkan Karakter Allah
Apa yang dikatakan angka-angka dalam Alkitab tentang karakter Allah—terutama ketika Dia digambarkan sedang menghitung?

Hadiah Pemberian
Dalam pidatonya kepada 1.200 lulusan universitas pada tahun 2024, pengusaha miliarder Robert Hale Jr. berkata, “Masa-masa sulit ini telah meningkatkan kebutuhan untuk berbagi, peduli, dan memberi. [Saya dan istri saya] ingin memberi kalian dua hadiah: yang pertama adalah hadiah kami untuk kalian, yang kedua adalah hadiah pemberian.” Ucapannya lalu diikuti dengan pembagian dua amplop kepada masing-masing lulusan yang tidak tahu-menahu—500 dolar untuk mereka sendiri, dan 500 dolar lagi untuk mereka teruskan kepada seseorang yang membutuhkan.
Cara Angka dalam Alkitab Mencerminkan Karakter Allah
Setiap kali menjumpai angka-angka di Alkitab, kita mungkin sering berusaha menerka apa yang diwakili oleh angka tersebut. Kita mencoba untuk memahami apakah angka itu memiliki makna penting yang tersembunyi ataukah hanya menyajikan fakta.

Sungguh Menakutkan
“Sungguh menakutkan / mencintai sesuatu yang dapat disentuh oleh kematian.” Inilah permulaan sepenggal puisi yang ditulis lebih dari seribu tahun yang lalu oleh penyair Yahudi, Judah Halevi, yang diterjemahkan pada abad ke-20. Sang penyair menjelaskan apa yang mendorong ketakutan itu: “mencintai . . . / Dan kemudian, kehilangannya.”

Iman yang Tak Tergoyahkan
Ketika Dianne Dokko Kim dan suaminya mengetahui bahwa putra mereka didiagnosis menderita autisme, ia bergumul dengan kemungkinan bahwa putranya yang menyandang disabilitas kognitif itu mungkin akan hidup lebih lama daripada dirinya. Ia berseru kepada Allah: Bagaimana keadaannya jika tidak ada aku yang merawatnya? Kemudian, Allah menghadirkan orang-orang dewasa lainnya yang juga membesarkan anak-anak penyandang disabilitas. Allah memampukan Dianne untuk menyerahkan kepada-Nya rasa bersalah yang sering meliputi hatinya, perasaannya yang tidak berdaya, dan juga ketakutan yang dialaminya. Akhirnya, dalam bukunya Unbroken Faith, Dianne menawarkan pengharapan akan hadirnya “pemulihan rohani” kepada orang-orang dewasa lainnya yang membesarkan anak-anak difabel. Saat putranya memasuki usia dewasa, iman Dianne tetap terjaga. Ia percaya bahwa Allah akan selalu menjaga dirinya dan putranya.
