Penulis

Lihat Semua
David C. McCasland

David C. McCasland

David McCasland mulai menulis untuk Our Daily Bread sejak tahun 1995. Ia telah menulis sejumlah buku untuk Discovery Series Publishers dan bekerja di televisi Day of Discovery. David dan istrinya, Luann, tinggal di Colorado Springs, Colorado. Mereka memiliki empat putri dan enam cucu.

Artikel oleh David C. McCasland

Dia Mengerti dan Peduli

Ketika ditanyai apakah sikap tidak peduli dan tidak mau tahu merupakan masalah manusia di zaman modern, seorang pria dengan bercanda menjawab, “Saya tidak peduli dan saya tidak mau tahu.”

Perjalanan Iman

Sejak pertama kali terbit pada tahun 1880, novel Ben-Hur: A Tale of the Christ (Ben-Hur: Kisah tentang Kristus) karya Lew Wallace tidak pernah berhenti dicetak ulang. Di dalamnya terjalin kisah nyata tentang Yesus dengan kisah fiksi seorang bangsawan muda Yahudi bernama Judah Ben-Hur. Buku yang disebut sebagai buku rohani paling berpengaruh di abad ke-19 itu terus memikat perhatian pembacanya hingga kini.

Firman-Nya Kata Terakhir

Dawson Trotman, pendiri pelayanan The Navigators dan salah satu pemimpin Kristen yang sangat aktif di pertengahan abad ke-20, sangat menekankan pentingnya Alkitab dalam kehidupan setiap orang Kristen. Trotman menutup setiap hari dengan kebiasaan yang disebutnya “Firman-Nya Kata Terakhir”. Sebelum tidur, ia akan merenungkan sepenggal ayat atau bagian Alkitab yang telah dihafalnya, lalu mendoakan fungsi dan pengaruh firman tersebut dalam hidupnya. Ia ingin firman Allah menjadi kata-kata terakhir yang direnungkannya setiap hari.

Undangan Paling Istimewa

Sepanjang minggu yang baru lalu, saya menerima beberapa undangan lewat pos. Semua undangan untuk menghadiri seminar “gratis” tentang masa pensiun, perumahan, dan asuransi jiwa, langsung saya buang. Namun, undangan untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan dalam rangka menghormati seorang teman lama membuat saya langsung membalas, “Ya! Aku akan hadir.” Saya akan menjawab “Ya” pada undangan yang sesuai dengan kerinduan saya.

Berlari dan Beristirahat

Tajuk berita utama di sebuah surat kabar menarik perhatian saya: “Istirahat itu Penting bagi Pelari”. Dalam artikel yang ditulis oleh Tommy Manning, seorang mantan anggota tim lari gunung Amerika Serikat, disebutkan bahwa ada satu prinsip yang kadang diabaikan oleh para atlet, yakni tubuh kita memerlukan waktu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga setelah menjalani latihan. “Secara psikologis, proses adaptasi yang terjadi sebagai hasil dari pelatihan itu hanya dapat terjadi selama masa istirahat,” tulis Manning. “Itu berarti beristirahat sama pentingnya dengan berlatih.”

Terlebih Dahulu Memilih

Dalam sejumlah budaya di dunia, ketika memasuki ruangan, orang yang lebih muda diharapkan mendahulukan orang yang lebih tua. Dalam budaya lain, orang yang paling penting atau berkedudukan paling tinggilah yang memasuki ruangan lebih dahulu. Apa pun tradisi kita, adakalanya kita merasa sulit membiarkan seseorang untuk terlebih dahulu memilih hal-hal yang penting, apalagi jika kita sebenarnya memiliki hak untuk melakukannya.

Mayday!

Sinyal tanda bahaya internasional “Mayday” selalu diulang tiga kali berturut-turut—“Mayday–Mayday–Mayday”—sehingga mereka yang mendengarnya memahami dengan jelas bahwa sedang terjadi situasi yang benar-benar membahayakan nyawa. Kata itu diciptakan pada tahun 1923 oleh Frederick Stanley Mockford, seorang petugas radio senior di Bandara Croydon di London. Bandara yang sekarang sudah tutup itu pernah menjadi tujuan penerbangan dari dan ke Bandara Le Bourget di Paris. Menurut catatan Museum Maritim Nasional, Mockford menciptakan kata “Mayday” dari kata dalam bahasa Prancis m’aidez, yang berarti “tolong aku”.

Sama Seperti Kita

Charles Schulz (1922–2000) adalah pencipta komik Peanuts yang menjadi favorit banyak orang. Dalam upacara untuk mengenang Schulz, seorang teman sekaligus sesama kartunis bernama Cathy Guisewite bercerita tentang rasa kemanusiaan dan belas kasihan yang dimiliki almarhum. “Charles memberikan kepada setiap orang di dunia tokoh-tokoh kartun yang tahu betul apa yang kita rasakan, yang membuat kita merasa tidak pernah sendiri. Charles juga memberikan dirinya sebagai kartunis, dan itu membuat kami merasa tidak pernah sendiri. . . . Ia memberikan semangat kepada kami. Ia menaruh simpati kepada kami. Ia membuat kami merasa bahwa ia sama seperti kami.”

Sepenuh Hati!

Kaleb adalah seorang yang mengikut Tuhan dengan “sepenuh hati”. Ia dan Yosua termasuk dari dua belas pengintai yang menjelajahi Tanah Perjanjian dan memberikan laporan kepada Musa dan umat Israel. Kaleb berkata, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil. 13:30). Namun sepuluh pengintai lainnya mengatakan bahwa mereka tidak mungkin berhasil. Meski Allah telah menjanjikan kemenangan, yang mereka lihat hanyalah rintangan (ay.31-33).

Topik Terkait

> Santapan Rohani

Piano yang Menyusut

Selama tiga tahun berturut-turut, putra saya mengikuti resital piano. Pada tahun ketiga, saya menyaksikannya mengatur pijakan kaki dan kertas partitur lalu memainkan dua lagu. Setelah itu, ia duduk di sebelah saya sambil berbisik, “Ibu, tahun ini pianonya lebih kecil.” Saya berkata, “Bukan, itu piano yang sama dengan yang kamu mainkan tahun lalu. Kamulah yang bertambah besar! Kamu telah bertumbuh.”

Selalu Mendengarkan

Ayah saya jarang bicara. Ia mengalami gangguan pendengaran sebagai dampak dari dinas militer bertahun-tahun dan kini menggunakan alat bantu dengar. Suatu sore ketika saya dan ibu berbincang-bincang agak lama, ayah menanggapinya dengan jenaka, “Setiap kali aku menginginkan ketenangan dan kedamaian, aku cukup melakukan ini.” Sambil mengangkat kedua tangannya bersamaan, ayah mematikan kedua alat bantu dengarnya, melipat tangannya di belakang kepala, lalu menutup mata sambil tersenyum dengan tenang.

Karunia Memberi

Seorang pendeta menerapkan pepatah “Hanyut dipintasi, lulus diselami, hilang dicari” (yang berarti, menolong orang yang kesusahan) dengan memberikan tantangan yang mengejutkan kepada jemaatnya. Ia berkata, “Bagaimana jika kita melepas baju hangat yang kita pakai sekarang dan memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan?” Kemudian ia melepas baju hangatnya dan menaruhnya di depan gereja. Puluhan jemaat pun mengikuti apa yang dilakukannya. Peristiwa itu terjadi pada musim dingin, sehingga hari itu mereka pulang dengan kurang nyaman karena hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, bagi puluhan orang lain yang membutuhkan kehangatan, musim dingin itu menjadi lebih tertahankan.