Penulis

Lihat Semua
David C. McCasland

David C. McCasland

David McCasland mulai menulis untuk Our Daily Bread sejak tahun 1995. Ia telah menulis sejumlah buku untuk Discovery Series Publishers dan bekerja di televisi Day of Discovery. David dan istrinya, Luann, tinggal di Colorado Springs, Colorado. Mereka memiliki empat putri dan enam cucu.

Artikel oleh David C. McCasland

Biji Helikopter

Sewaktu anak-anak kami masih kecil, mereka senang sekali berusaha menangkap “biji helikopter” yang berjatuhan dari pohon-pohon maple perak milik tetangga kami. Bentuk bijinya mirip dengan sepasang sayap. Pada akhir musim semi, biji-biji maple yang berguguran biasanya berputar-putar mirip baling-baling helikopter sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Biji itu tidak dirancang untuk terbang, melainkan untuk jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi pohon.

Apalagi!

Pada Oktober 1915, semasa Perang Dunia I, Oswald Chambers tiba di Kamp Zeitoun, pusat pelatihan militer di dekat Kairo, Mesir. Di sana Chambers melayani sebagai pembina rohani bagi para tentara Persemakmuran Inggris. Dalam salah satu kebaktian di malam hari, 400 orang memenuhi sebuah tenda pertemuan yang besar untuk mendengarkan Chambers membahas tema “Apa Manfaat Doa?”. Setelah itu, saat berbincang secara pribadi dengan para prajurit yang berusaha mencari Allah di tengah medan peperangan, Oswald sering mengutip Lukas 11:13, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Hidup Tanpa Nama

Saya sering membaca ulang esai berjudul “Working Up to Anon” (Berusaha Menjadi Anonim) karya penulis Jane Yolen, yang saya jadikan kliping dari majalah The Writer bertahun-tahun lalu. Jane berkata, “Penulis yang terbaik adalah mereka yang dari lubuk hatinya sungguh-sungguh ingin mencantumkan ‘anonim’ pada tulisan mereka. Bagi mereka, kisah yang dituliskan lebih penting daripada penulisnya.”

Menyibak Misteri

Saya selalu menyukai kelihaian dan wawasan dari Charles Schulz, sang pencipta kartun Peanuts. Salah satu kartunnya yang saya sukai muncul dalam sebuah buku tentang kaum muda di gereja. Kartun itu menggambarkan seorang pemuda yang memegang Alkitab sambil berbicara kepada temannya di telepon. Anak muda itu berkata, “Rasanya aku sudah mengambil langkah pertama untuk menyibak misteri dari Perjanjian Lama . . . Aku mulai membacanya!”

Lempeng Batu

Kota Yerusalem yang kita kenal sekarang bisa dikatakan dibangun di atas puing-puing sebagai akibat dari peperangan dan penghancuran yang berlangsung dari abad ke abad. Suatu kali dalam liburan keluarga, kami menyusuri Via Dolorosa (Jalan Penderitaan), yang menurut tradisi merupakan rute yang dilalui Yesus dalam perjalanan-Nya menuju tempat penyaliban. Panasnya cuaca hari itu mendorong kami untuk beristirahat sejenak dan turun ke ruang bawah tanah yang sejuk dari Convent of the Sisters of Zion (Biara para Biarawati Sion). Di ruangan itu, saya terpikat oleh jalan setapak kuno dari batu yang pada saat itu baru ditemukan lewat suatu penggalian. Lempeng-lempeng batu pada jalan itu diukir dengan gambar beragam permainan yang dilakukan tentara Romawi di waktu senggang mereka.

Panggilan Rohani untuk Bangun

Dahulu ada masanya saya sering melakukan perjalanan dan menginap di kota yang berbeda-beda setiap malam. Setiap kali tiba di penginapan, saya selalu meminta petugas hotel untuk membangunkan saya di pagi hari dengan menelepon pada waktu yang saya jadwalkan. Meski sudah memasang alarm saya sendiri, saya tetap memerlukan panggilan telepon untuk membangunkan saya agar siap memulai aktivitas di pagi hari.

Interupsi Ilahi

Para ahli setuju bahwa setiap hari sejumlah besar waktu yang kita miliki tergerus oleh beragam interupsi. Baik di tempat kerja atau di rumah, dering telepon atau kunjungan tak terduga dapat dengan mudah mengalihkan perhatian kita dari apa yang kita anggap sebagai tujuan utama kita.

Pakaian yang Sesuai Iklim

Saat mencabut label harga dari selembar pakaian musim dingin yang baru saya beli, saya tersenyum membaca kalimat di bagian belakang label itu: “PERINGATAN: Produk inovatif ini akan membuatmu ingin berlama-lama main di luar.” Dengan mengenakan pakaian yang sesuai iklim, seseorang dapat bertahan hidup dan bahkan berkembang dalam iklim yang buruk dan berubah-ubah.

Perhatikan Pemimpinnya

Joshua Bell, pemain biola kenamaan, memiliki cara yang tidak biasa dalam memimpin orkestra kamar Academy of St. Martin in the Fields yang terdiri dari 44 anggota. Alih-alih melambaikan tongkat, ia mengarahkan orkestranya sembari memainkan biola Stradivarius miliknya bersama pemain biola lainnya. Kepada Colorado Public Radio, Bell berkata, “Bahkan saat memainkan biola, saya dapat memberi mereka semua arahan dan tanda yang saya pikir saat ini hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri. Mereka memperhatikan tiap gerakan naik-turun biola saya, saat saya mengangkat alis, atau cara saya menggesek biola. Mereka tahu bunyi yang saya inginkan dari mereka sebagai satu orkestra.”