Pernikahan Terbaik Dalam Sejarah
Sejak 800 tahun yang lalu, sebuah kebiasaan baru telah ditambahkan pada upacara pernikahan Yahudi. Pada bagian paling akhir, si pengantin pria akan menginjak sebuah gelas anggur sampai remuk. Salah satu alasan untuk kebiasaan itu adalah bahwa remuknya gelas melambangkan kehancuran bait suci pada tahun 70 M. Suami-istri baru itu perlu mengingat bahwa di saat mereka mulai membangun rumah tangga mereka, rumah Allah telah dihancurkan.
Ia yang Melayani
Aku ini bukan pembantu!” teriak saya. Pagi itu saya begitu kalut dengan banyaknya urusan rumah tangga. Selain berusaha untuk menemukan dasi biru milik suami, saya juga sedang menyuapi bayi yang terus-terusan menangis sekaligus mencari mainan milik anak kami, yang berusia 2 tahun, yang masuk ke kolong tempat tidur.
Dalam Setiap Generasi
Mungkin ada yang terkejut melihat adanya anak-anak yang tidak mengikuti teladan orangtua mereka untuk beriman kepada Allah. Yang sama mengejutkan dengan itu adalah ketika ada seseorang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus tetapi berasal dari suatu keluarga yang tidak hidup dalam iman. Dalam setiap generasi, masing-masing pribadi dihadapkan pada pilihan.
Teguran yang Lemah Lembut
Setelah berlangsungnya suatu konferensi di Nairobi, Kenya, kelompok kami kembali dari tempat acara ke penginapan guna menyiapkan diri untuk penerbangan pulang keesokan harinya. Begitu sampai di penginapan, seorang wanita dari kelompok kami mengabarkan bahwa kopernya tertinggal di tempat konferensi. Pada saat wanita itu pergi mengambilnya, pemimpin kelompok kami (yang selalu memperhatikan sesuatu dengan terperinci) mengkritik wanita itu dengan sangat tajam di depan kami.
Konsultan Pencitraan
Dalam zaman di mana media menjadi begitu marak sekarang ini, para konsultan pencitraan punya peran yang sangat penting. Para artis, atlet, politisi, dan pemimpin bisnis tampak mati-matian berusaha merekayasa tampilan mereka di mata dunia. Para konsultan yang dibayar mahal itu bekerja untuk membentuk pandangan orang akan klien mereka—walaupun terkadang ada perbedaan yang sangat besar antara citra yang ditampilkan di muka umum dengan kehidupan orang itu sesungguhnya.
Akses Kepada Allah
Teknologi telah membawa manfaat dalam banyak hal. Butuh informasi mengenai masalah kesehatan? Yang perlu dilakukan hanyalah mengakses internet dan secara instan Anda akan memperoleh sejumlah pilihan untuk memandu pencarian Anda. Anda ingin menghubungi teman? Anda cukup mengirimkan SMS, e-mail, atau pesan di Facebook. Namun teknologi juga sesekali dapat membuat frustrasi. Suatu hari saya perlu mengakses sejumlah informasi dari rekening bank saya dan muncullah sedaftar pertanyaan pengamanan. Karena saya tidak dapat mengingat jawaban yang tepat, saya pun terblokir dari rekening saya sendiri. Atau mungkin Anda pernah mengalami putusnya suatu pembicaraan penting karena baterai telepon seluler kita habis, sementara tidak ada cara lain untuk menelepon kembali sampai Anda menemukan colokan listrik untuk mengisi ulang baterai itu.
Dalam Perahu yang Sama
Ketika sebuah kapal pesiar tiba di pelabuhan, para penumpang-nya keluar sesegera mungkin. Selama beberapa hari terakhir, mereka harus menghadapi penyebaran sebuah virus dan ratusan orang telah menderita sakit karenanya. Seorang penumpang yang diwawancarai berkata, “Sebenarnya saya tak mau banyak mengeluh. Toh, kita semua ada dalam perahu yang sama.” (Ungkapan “dalam perahu yang sama” juga bisa berarti “bernasib sama”–Red.) Permainan kata yang rasanya tidak disengaja itu membuat si wartawan tersenyum.
Kasih dan Terang
Bagi mereka yang hidup di negara dengan empat musim, inilah saatnya menanami kebun sayur untuk persiapan musim panas. Ada yang memulai lebih awal dengan menanam benih di dalam ruangan supaya kondisinya dapat diawasi dan tunas tanaman dapat bertumbuh. Setelah musim dingin berlalu, mereka akan memindahkan benih muda itu ke luar ruangan. Setelah kebun sayur itu ditanami, mereka harus membersihkan tanaman liar, memupuk, mengairi, dan mencegah serangan hama pengerat dan serangga. Proses menghasilkan bahan makanan itu memerlukan kerja keras.
Buku di Balik Cerita
Jutaan orang di seluruh dunia telah menonton film Gone with the Wind (Sirna Bersama Angin), yang diputar perdana di Amerika Serikat pada 15 Desember 1939. Film tersebut berhasil memenangi 10 piala Oscar dan tetap menjadi salah satu film Hollywood tersukses secara komersial. Film itu didasarkan atas novel karya Margaret Mitchell yang terbit pada tahun 1936. Buku itu pun terjual sebanyak satu juta jilid dalam waktu 6 bulan, menerima Anugerah Pulitzer, dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Sebuah film yang sukses sering bersumber pada sebuah judul buku yang berkarakter kuat dan abadi.