Aku Takut Di-PHK!
Di tengah ketidakstabilan ekonomi saat ini, banyak yang kuatir kehilangan pekerjaan.

Aku Takut Di-PHK!
Dengan ketidakstabilan ekonomi dan lingkungan kerja saat ini, banyak dari kita yang menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan. Siapa yang bisa menolong kita dan memberikan jaminan serta penghiburan, yang selalu hadir untuk menolong dan memelihara kita?
Pengetahuan yang Mulia
Teolog abad pertengahan Thomas Aquinas telah mengalami begitu banyak penderitaan karena mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencari Allah. Keluarganya sendiri pernah memenjarakannya demi menghentikan keinginannya untuk bergabung ke Ordo Dominikan, sebuah kelompok rahib yang membaktikan hidup mereka kepada kesederhanaan, pembelajaran, dan pemberitaan Injil. Setelah menghabiskan hampir seumur hidupnya mempelajari Kitab Suci dan alam ciptaan Allah, serta menulis hampir 100 judul buku, Aquinas menikmati pengalaman yang begitu intens dengan Allah sehingga ia menulis, “Saya tidak bisa menulis lagi, karena Allah telah memberiku pengetahuan yang begitu mulia sehingga semua hal yang pernah kutulis terasa seperti sia-sia.” Tiga bulan kemudian Aquinas meninggal dunia.

Bawalah kepada Allah
Sudah lebih dari satu jam Brian berada di dalam ruang praktik dokter spesialis jantung. Temannya menunggu dengan setia di ruang tunggu, sambil berdoa untuk kesembuhan dan hikmat bagi sahabatnya yang sakit. Sewaktu Brian akhirnya kembali ke ruang tunggu, ia menunjukkan setumpuk kertas yang diterimanya. Sambil menjejerkan semua rekam medisnya di atas meja, ia mendiskusikan sejumlah pilihan yang diberikan oleh dokter untuk mengobati kondisinya yang kritis. Keduanya sepakat untuk berdoa bersama dan meminta hikmat Allah untuk menentukan langkah selanjutnya. Kemudian Brian berkata, “Apa pun yang akan terjadi, aku ada dalam tangan Allah.”

Tangan yang Menolong
Pada awal 1900-an, hukum di AS melarang orang kulit hitam dan kaum imigran untuk menyewa atau membeli properti di Coronado, California. Seorang pria kulit hitam bernama Gus Thompson (yang lahir dalam perbudakan) telah membeli tanah sebelumnya dan membangun sebuah rumah penginapan di Coronado sebelum hukum yang diskriminatif tersebut diberlakukan. Pada tahun 1939, Gus menyewakan rumahnya kepada sebuah keluarga dari Asia, dan akhirnya menjual tanah itu kepada mereka. Hampir 85 tahun kemudian, setelah menjual properti tersebut, sejumlah anggota dari keluarga Asia tersebut mendonasikan keuntungan dari penjualan itu untuk membantu pendidikan para mahasiswa kulit hitam. Mereka juga berupaya untuk memberi nama sebuah gedung di San Diego State University dengan nama Gus dan istrinya, Emma.
