Tak Ada Penyesalan
Menjelang tutup usia, tidak ada yang menyebutkan tentang harta benda yang sering kita kejar seumur hidup kita. Itulah yang ditemukan Bonnie Ware, seorang jururawat paliatif, saat mendampingi seseorang yang sedang menuju ajalnya. Ia sengaja bertanya kepada mereka: “Apakah Anda akan melakukan sesuatu yang berbeda jika Anda dapat mengulang kembali hidup Anda?” Tema-tema yang hampir senada bermunculan, dan ia pun menyusun daftar lima penyesalan terbesar dari orang yang sekarat: (1) Andai saja saya berani menjalani hidup menurut kemauan sendiri. (2) Andai saja saya tidak bekerja terlalu keras. (3) Andai saja saya punya keberanian mengutarakan perasaan saya. (4) Andai saja saya tetap menjaga hubungan dengan teman-teman saya. (5) Andai saja saya mengizinkan diri saya merasa lebih bahagia.
![“Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya [Lea] menamai anak itu Yehuda. (Kejadian 29:35) “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya [Lea] menamai anak itu Yehuda. (Kejadian 29:35)](https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2025/04/16095459/SOCIAL-POST_20250511-80-940x1175.jpg)
Kilas Balik Seorang Ibu
“Aku benar-benar tidak suka Hari Ibu,” kata Donna, seorang ibu dari tiga anak. “Hari itu mengingatkanku pada kekurangan dan kegagalanku sebagai seorang ibu, baik dulu maupun sekarang.”

Hidup dengan Iman yang Penuh
Ribuan orang di dunia mendoakan Shiloh, putra Sethie yang berusia 3 tahun, yang sudah terbaring berbulan-bulan di rumah sakit. Ketika para dokter mengatakan bahwa “otak Shiloh tidak menunjukkan aktivitas yang berarti,” Sethie menelepon saya. “Terkadang, aku khawatir kalau-kalau aku tidak hidup dengan iman yang penuh,” katanya. “Aku tahu Allah sanggup menyembuhkan Shiloh dan mengizinkannya pulang ke rumah bersama kami. Aku pun pasrah apabila Allah menyembuhkannya dengan cara membawanya pulang ke surga.” Untuk meyakinkannya bahwa Allah sungguh mengerti melebihi siapa pun juga, saya berkata: “Kamu sudah berserah kepada Allah. Itu iman yang penuh!” Beberapa hari kemudian, Allah memanggil pulang putranya yang terkasih ke surga. Meski bergumul dalam pedihnya kehilangan, Sethie bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah berdoa bagi mereka. Ia berkata, “Aku percaya Allah itu tetap baik dan Dia tetap Allah.”

Kasih yang Sangat Mengejutkan
Pada film fantasi olahraga klasik Field of Dreams, karakter Ray Kinsella bertemu dengan mendiang ayahnya dalam wujud seorang pemuda yang atletis. Saat pertama kali melihatnya, Ray berkomentar kepada istrinya, Annie, “Aku baru bertemu dengannya bertahun-tahun kemudian saat beliau sudah lelah dengan kehidupan. Coba lihat. . . . Apa yang harus aku katakan padanya?” Adegan ini memunculkan pertanyaan: Bagaimana rasanya melihat seseorang yang kita kasihi—dan kini telah meninggal—dalam kondisi sehat dan kuat lagi?
Anak Terhilang, Salah Siapa?
Jika di dalam keluarga ada anak yang terhilang, bagaimana kita harus bersikap?
