Month: Juni 2025

Teguh dalam Kehendak Allah

Film perang keluaran tahun 1957 berjudul The Bridge on the River Kwai (Jembatan di atas Sungai Kwai) sangat populer sehingga para penggemar berbondong-bondong mengunjungi kota Kanchanaburi di Thailand untuk menyaksikan sendiri jembatan besi tersebut. Mereka menemukan jembatannya, tetapi itu bukan di atas Sungai Kwai. Ternyata film tersebut keliru mencantumkan nama sungainya! Namun, tak lama kemudian, bagian dari Sungai Mae Klong itu dinamakan Kwae Yai (Kwai) supaya sesuai dengan ekspektasi orang banyak.

Dalam Pelukan yang Tak Terlihat

Kita bukan lagi anak kecil, tapi jika kita sadari, betapa sering hati kita pun meronta akan hal yang sama: takut. Takut pada apa? Mengapa? Bagaimana?

Allah Mengirimkan . . . Ngengat?

“AaaaAAAAHHHK!” putri saya menjerit. “AyaaAAHH! Cepat ke SINI!”

Satu dalam Kristus

Phillis Wheatley, penyair kulit hitam pertama yang diterbitkan bukunya, menggunakan tema-tema alkitabiah untuk meyakinkan orang-orang percaya agar menghapuskan praktik perbudakan. Wheatley, yang lahir sekitar tahun 1753 di wilayah barat Afrika, dijual ke pedagang budak ketika masih berusia tujuh tahun. Setelah berhasil membuktikan diri sebagai pelajar yang berprestasi, akhirnya ia memperoleh pembebasannya pada tahun 1773. Dalam puisi dan surat-suratnya, Wheatley mendesak para pembacanya untuk menghayati asas kesetaraan bagi semua orang sebagaimana ditegaskan dalam Alkitab. Ia menulis, “Allah telah menanamkan dalam hati setiap manusia suatu nilai kecintaan pada kebebasan, sehingga kita tidak tahan menghadapi penindasan dan mendambakan pembebasan; dan . . . nilai yang sama hidup dalam diri kita.”