Month: April 2026

Mengikuti Jalan Allah

Selama ini, Ken selalu menghindari para buruh migran yang bekerja di kompleks apartemennya. Kebiasaan dan gaya hidup mereka yang begitu berbeda membuatnya kesal. Namun, suatu hari saat ia berdoa, timbul pikiran yang menusuk hatinya: Mereka sudah menjadi tetanggamu selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah sekali pun engkau membagikan Injil kepada mereka. Karena itu, pikirkan baik-baik sikapmu terhadap mereka.

Doa Terselubung

Setelah mengalami kekejaman di kamp konsentrasi Auschwitz, Elie Wiesel kehilangan imannya. “Di mana Engkau, Allah yang penuh kemurahan?” tanyanya, saat mengingat kekejian yang ia dan orang lain alami. “Dari kecil, aku tak berharap banyak dari sesama manusia. Namun, aku berharap banyak dari-Mu.”

Selalu dalam Penjagaan Allah

Setelah menerima selembar tiket gratis untuk menghadiri sebuah acara yang laku keras, Trina menyelipkannya ke dalam Alkitab miliknya. Tak lama kemudian, putra Trina melihatnya panik mengobrak-abrik dapur. Ketika Trina mengatakan bahwa ia kehilangan Alkitab, putranya bertanya mengapa ia mencarinya di lemari dapur. “Karena aku sudah mencarinya ke mana-mana, dan acaranya dimulai 30 menit lagi,” jawabnya. “Aku tidak ingin ketinggalan sedikit pun.” Putranya tertawa, “Tenang, Ma. Kurasa Mama sedang FOMO (fear of missing out, atau rasa takut ketinggalan).” Trina ikut tertawa. Lalu, suaminya masuk sambil membawa Alkitab. “Kau meninggalkannya di dalam mobil,” katanya.

Menunggu dan Berserah

Tidak banyak yang kita ketahui tentang Adelaide Pollard, dan mungkin itu memang yang dikehendakinya. Ia adalah hamba Tuhan yang rendah hati dan tidak mencari pengakuan bagi dirinya sendiri. Pada usia 40 tahun, Adelaide merasa terpanggil untuk melayani sebagai misionaris di Afrika. Namun, kesempatan itu tertutup baginya sehingga ia pun sangat berkecil hati. Di tengah kekecewaan, Adelaide teringat firman Tuhan: “Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku” (Yer. 18:6). Dari perenungan itu lahirlah sebuah himne dengan lirik: “Ku tanah liat Kau Penjunan.”