
Mencari Kanak-Kanak Kristus
Ketika pengajar Peter Turchi memandang sebuah peta, ia langsung membayangkan petualangan tersembunyi di dalamnya. “Meminta sebuah peta,” katanya, “sama seperti berkata, ‘Ceritakan padaku sebuah kisah.’” Gagasan itu menginspirasi saya saat mempersiapkan bahan pembinaan bertema “Iman Orang-Orang Majus” di masa Natal. Saat mempelajari peta wilayah itu, saya menemukan bahwa orang-orang majus menempuh perjalanan hampir 1.500 km, mungkin selama beberapa bulan, demi mencari Kristus, Sang Anak. Namun, yang mereka temukan bukanlah bayi di palungan, melainkan seorang balita yang tinggal bersama orangtuanya di dalam sebuah rumah. Bagaimana respons mereka setelah perjalanan sepanjang itu? “Mereka sujud dan menyembah Anak itu” (Mat. 2:11 BIMK).
Berdoa dengan Kepedulian
Seorang wanita terlihat sangat gelisah saat memeriksakan giginya ke dokter. Beban keluarga yang berat tampak jelas membayangi wajahnya. Dokter gigi yang merawatnya merasakan kegelisahan itu, lalu menanyakan keadaannya. Setelah wanita itu bercerita, sang dokter bertanya dengan lembut, “Bolehkah saya mendoakan Anda?” Kemudian, dokter higiene gigi yang masuk ke ruangan pun ikut mendoakannya. Setelah dua kali didoakan, dan perawatan giginya selesai, wanita itu meninggalkan ruangan dengan menyadari bahwa dirinya sungguh dipedulikan.
Karya Ciptaan Allah yang Indah
Bagi orangtua, kematian seorang anak pastilah menimbulkan luka yang sangat dalam. Namun, bagaimana jika kematian itu terjadi dua kali? Sungguh tak terbayangkan kepedihannya! Itulah kenyataan pahit yang dialami oleh Nick Cave, seorang musisi, penulis, dan aktor asal Australia. Pada tahun 2015, putranya yang berusia 15 tahun terjatuh dari tebing dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, anak sulungnya juga berpulang. Dalam cengkeraman duka yang begitu mendalam, bagaimana Cave dan istrinya mampu bertahan? Bagaimana seseorang tetap berdiri ketika dunia seolah runtuh?

Bangku Persahabatan
Ketika mendengar seorang pasien muda bunuh diri karena tak mampu membayar ongkos bus menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan mentalnya, Dr. Chibanda merasa sangat terpukul. Ia pun mencari cara agar perawatan tersebut dapat lebih mudah diakses. Maka lahirlah program konseling unik yang disebut “Bangku Persahabatan,” dengan para terapis yang duduk di bangku-bangku tersembunyi di ruang publik, siap mendengarkan siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Lalu, siapa yang ia latih sebagai terapis? Para nenek! “Mereka sudah tertanam dalam komunitas mereka,” ujar Dr. Chibanda. “Jadi, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk . . . membuat orang lain merasa dihormati dan dimengerti.”
![[Yesus] mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang . . . mendakwa dan mengancam kita. (Kolose 2:13-14) [Yesus] mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang . . . mendakwa dan mengancam kita. (Kolose 2:13-14)](https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2025/12/27010902/SOCIAL-POST_20260102-1-940x1175.jpg)