Berani Bersuara bagi Yesus
Pada tahun 155 M, Polikarpus, seorang bapa gereja mula-mula, menghadapi ancaman hukuman mati dengan dibakar hidup-hidup karena imannya kepada Kristus. Ia menjawab tantangan mereka yang ingin menghukumnya dengan berkata: “Aku telah melayani-Nya selama 86 tahun, dan Dia tidak pernah mengecewakanku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Sang Raja yang telah menyelamatkanku?” Kata-kata Polikarpus dapat menginspirasi kita yang sedang bergumul dengan pencobaan karena iman kita kepada Yesus Kristus.

Hati yang Dilapangkan
Dalam tulisannya yang berjudul Confessions, Agustinus bergumul dengan pertanyaan: bagaimana mungkin Allah menjalin relasi dengannya? Bagaimana Sang Pencipta alam semesta dapat masuk ke dalam hatinya yang kecil dan berdosa? Ia pun memohon kepada Allah agar hal itu menjadi mungkin, dengan berdoa, “Kediaman jiwaku ini sempit. Lapangkanlah ya Allah, agar Engkau dapat memasukinya. Hatiku sudah hancur dan rusak! Perbaikilah! Ada hal-hal di dalamnya yang tidak berkenan di mata-Mu. Aku mengakui dan menyadarinya. Namun, siapa yang akan menyucikannya, atau kepada siapa aku dapat berseru, kecuali kepada-Mu?”

Kebaikan yang Tak Kasatmata
Wajah itu sebenarnya sudah ada sejak awal, tetapi tidak seorang pun menyadarinya. Ketika Sir Joshua Reynolds melukis The Death of Cardinal Beaufort pada tahun 1789, ia menyisipkan wajah Iblis dalam bayang-bayang gelap di belakang pria yang sekarat itu. Reynolds dengan jeli menggambarkan adegan dari drama karya Shakespeare yang menyebutkan kehadiran “si jahat yang sibuk dan suka ikut campur.” Namun, pendekatan literal ini tidak disukai oleh sebagian orang. Setelah Reynolds wafat pada tahun 1792, wajah itu ditimpa cat dan kemudian terlupakan. Baru-baru ini, melalui proses konservasi seni, wajah tersebut berhasil diungkap kembali dari balik lapisan cat dan pernis.
![Allah sumber segala penghiburan . . . menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur [orang lain]. (2 Korintus 1:3-4) Allah sumber segala penghiburan . . . menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur [orang lain]. (2 Korintus 1:3-4)](https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2025/12/27004358/SOCIAL-POST_20260114-940x1175.jpg)
Penghiburan dari Allah
Saya tidak sabar. Saya dan suami baru saja kembali dari pasar swalayan, dan saat kami membongkar belanjaan, saya panik mencari kantong berisi donat—tetapi tidak menemukannya. Setelah memeriksa struk belanja, saya melihat ternyata donat itu tidak terbeli. Dengan kesal saya berteriak, “Yang aku mau beli tadi cuma donat!” Lima belas menit kemudian, suami saya datang dan menyodorkan sekantong donat. Tanpa sepengetahuan saya, ia menembus jalanan penuh salju dan kembali ke toko demi memenuhi keinginan saya. Saya pun memeluknya erat, lalu dengan malu-malu berkata, “Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa demi memuaskan keinginanku!”

Berpegang Teguh kepada Allah
Dalam kejuaraan gulat tingkat distrik di sekolah kami, anak-anak berusia delapan tahun bertanding di atas matras dengan menerapkan teknik pegangan yang cerdik untuk menjatuhkan lawan demi meraih kemenangan. Gulat adalah olahraga kuno yang menuntut strategi cermat dalam memadukan gerakan menjatuhkan, melepaskan diri, mengunci, dan berbagai teknik lain yang menghasilkan poin untuk mencapai kemenangan. Seorang gadis kecil dari kelas tiga, yang menjadi kesayangan penonton, memiliki gerakan yang sangat cepat sehingga ia dengan lincah dapat mengecoh dan menaklukkan lawan-lawannya.