Sepenuh Hati!
Kaleb adalah seorang yang mengikut Tuhan dengan “sepenuh hati”. Ia dan Yosua termasuk dari dua belas pengintai yang menjelajahi Tanah Perjanjian dan memberikan laporan kepada Musa dan umat Israel. Kaleb berkata, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil. 13:30). Namun sepuluh pengintai lainnya mengatakan bahwa mereka tidak mungkin berhasil. Meski Allah telah menjanjikan kemenangan, yang mereka lihat hanyalah rintangan (ay.31-33).
Berpikir “yang Ada Sekarang”
Bahkan bertahun-tahun setelah kami kehilangan Melissa, putri kami yang berusia 17 tahun, dalam kecelakaan mobil pada tahun 2002, saya masih sesekali berpikir “seandainya saja”. Dalam keadaan yang berduka, sangat mudah untuk membayangkan kembali peristiwa tragis malam itu dan memikirkan faktor-faktor yang andai saja berbeda mungkin akan membawa Melissa pulang ke rumah dengan aman.
Terus Berlari
Salah satu program televisi favorit saya adalah The Amazing Race. Dalam reality show itu, sepuluh pasangan dikirim ke suatu negara asing dan di sana mereka harus berlomba dengan menaiki kereta api, bus, taksi, sepeda, dan berjalan kaki, dari satu tempat ke tempat lain guna memperoleh instruksi yang mereka perlukan untuk tantangan selanjutnya. Tujuannya adalah bagi satu pasangan untuk mencapai tempat finis lebih awal dari pasangan-pasangan lainnya dan merebut hadiah sebesar satu juta dolar.
Anugerah yang Sempurna
Pengajaran Yesus tentang idealisme yang mutlak dan anugerah yang mutlak terlihat saling bertentangan.
Injil yang Viral
Proyek Viral Texts yang dilakukan oleh Northeastern University di Boston mempelajari bagaimana suatu berita cetak pada abad ke-19 tersebar melalui surat kabar—jaringan media sosial pada zaman itu. Pada era revolusi industri itu, sebuah artikel dianggap “viral” (tersebar dengan cepat dan luas) apabila dicetak ulang hingga 50 kali atau lebih. Dalam artikelnya di majalah Smithsonian, Britt Peterson mencatat bahwa sebuah artikel berita dari abad ke-19 tentang para pengikut Yesus yang dihukum mati karena iman mereka pernah dicetak ulang setidaknya 110 kali.
Pohon di Tepi Sungai
Ada sebatang pohon yang membuat iri. Karena tumbuh di tepi sungai, pohon itu tidak perlu khawatir dengan ramalan cuaca, suhu panas yang menyengat, atau masa depan yang tak menentu. Dipelihara dan disegarkan oleh aliran air sungai, pohon itu menikmati hari-harinya dengan ranting-ranting yang mengarah ke sinar matahari, akar-akar yang mencengkeram bumi, dauh-daun yang memurnikan udara, dan menyediakan tempat berteduh bagi semua yang memerlukan perlindungan dari teriknya sinar matahari.
Lebih Baik dari Piñata
Pesta ala Meksiko tidaklah lengkap tanpa piñata—sebuah wadah dari bahan karton atau tanah liat yang diisi permen atau mainan kecil. Anak-anak kemudian memukul piñata itu dengan tongkat sampai pecah agar dapat menikmati isinya.
Mercusuar
Sebuah pusat pelayanan di Rwanda bernama “Lighthouse” (Mercusuar) hadir menjadi lambang dari pemulihan. Bangunan itu berdiri di atas wilayah yang sama dengan lokasi rumah megah milik presiden yang berkuasa di Rwanda pada saat terjadinya genosida tahun 1994. Namun bangunan baru yang didirikan oleh orang-orang Kristen itu kini menjadi tempat terang dan pengharapan bersinar. Di sana terdapat sebuah sekolah Alkitab yang bertujuan untuk menghasilkan para pemimpin Kristen yang baru. Di dalamnya juga terdapat hotel, rumah makan, dan beragam pelayanan lain untuk masyarakat. Habis gelap terbitlah terang. Mereka yang membangun pelayanan tersebut berharap kepada Yesus sebagai sumber pengharapan dan penebusan sejati.
Melihat Jauh ke Depan
Saya suka menatap langit biru yang bersih dari awan. Langit adalah salah satu mahakarya indah Pencipta kita, yang diberikan-Nya untuk kita nikmati. Para penerbang tentu sangat menyukai pemandangan langit seperti itu. Ada sejumlah istilah penerbangan yang mereka pakai dalam menggambarkan keadaan langit yang sempurna untuk terbang. Namun istilah favorit saya adalah, “Anda bisa melihat jauh ke depan.”