Category  |  Santapan Rohani

Tak Pernah Berhenti Belajar

Sheryl bisa disebut sebagai seorang kutu buku. Ketika yang lain menonton televisi atau bermain video game, ia terus asyik membaca bukunya.

Itu Bukan Urusanmu

Media sosial memang bermanfaat untuk banyak hal, tetapi tidak untuk mendapatkan kepuasan hati. Setidaknya bagi saya. Meskipun niat saya baik, saya bisa merasa putus asa karena terus-menerus diingatkan bahwa orang lain telah mencapai sesuatu mendahului saya atau melakukannya dengan lebih baik. Hati saya begitu mudah kecewa, jadi saya harus berulang kali mengingatkan diri bahwa Allah telah memberikan segala yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan-Nya kepada saya.

Jangan Menjadi Lemah

Memasak bisa menjadi pekerjaan yang membosankan ketika saya mengerjakannya tiga kali sehari dari minggu ke minggu. Saya lelah harus mengupas, memotong, mengiris, mencampur, dan kemudian menunggu makanan itu selesai dipanggang, dibakar, atau direbus. Namun, saya tidak pernah bosan menyantap makanan! Menyantap makanan adalah sesuatu yang benar-benar kita nikmati sekalipun kita harus melakukannya dari hari ke hari.

Kekuatan dalam Ketenangan

Di masa-masa saya baru mengenal Tuhan, tuntutan hidup sebagai orang percaya pernah membuat saya bertanya-tanya apakah saya bisa melewati satu tahun tanpa kembali ke kehidupan saya yang lama. Namun ayat firman Tuhan ini membantu saya: “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Kel. 14:14). Itulah kata-kata Musa kepada bangsa Israel ketika mereka baru saja terlepas dari perbudakan di Mesir dan sedang dikejar-kejar Firaun. Mereka sedang merasa putus asa dan ketakutan.

Yang Tak Terduga

Fanny Kemble adalah seorang aktris Inggris yang pindah ke Amerika di awal 1800-an dan kemudian menikah dengan Pierce Butler, seorang pemilik perkebunan di bagian selatan negeri itu. Fanny menikmati kehidupan yang mewah di perkebunan tersebut, sampai ia melihat besarnya harga yang harus dibayar para budak yang bekerja di sana demi kemewahan itu.

Arus yang Mengecoh

Di buku berjudul The Hidden Brain (Otak yang Tersembunyi), penulis ilmiah Shankar Vedantam menceritakan pengalamannya berenang ke pantai. Air saat itu tenang dan jernih, dan ia merasa kuat dan bangga karena dapat menempuh jarak yang jauh dengan mudah. Lalu ia memutuskan untuk berenang menjauh dari teluk menuju laut lepas. Namun saat berusaha untuk kembali, ia tak bisa bergerak maju. Ia telah dikecoh oleh arus air. Yang membuatnya berenang dengan mudah bukanlah kekuatan-nya sendiri melainkan pergerakan air.

Nun di Bukit yang Jauh

Saya sering teringat pada masa sewaktu anak-anak saya masih kecil. Salah satu kenangan yang indah adalah tentang rutinitas kami saat bangun pagi. Tiap pagi, saya biasanya masuk ke kamar mereka, memanggil nama mereka dengan lembut, dan mengingatkan mereka bahwa sudah waktunya mereka bangun dan bersiap-siap untuk kegiatan hari itu.

Yang Terbaik

Dalam suatu kebaktian gereja, saya melihat seorang bayi yang ada beberapa baris di depan saya. Bayi itu melongok dari balik pundak ayahnya, matanya penuh keingintahuan sembari ia memandangi orang-orang yang sedang berbakti. Ia tersenyum pada beberapa orang, mengiler, dan menggigiti jari-jarinya yang gemuk, tetapi tidak berhasil menemukan ibu jarinya. Lama-kelamaan, suara sang pendeta yang sedang berkhotbah tidak lagi saya perhatikan karena mata saya berulang kali tertuju kepada si bayi yang lucu itu.

Mulai dari Sini!

Pada 6 Juni 1944, tiga tentara Amerika meringkuk di sebuah lubang bekas ledakan bom di Pantai Utah, Normandia, Prancis. Saat menyadari bahwa air pasang telah membawa mereka ke tempat yang salah di pantai itu, ketiganya langsung membuat keputusan: “Kita akan mulai bertempur dari sini.” Keadaan membuat mereka harus bergerak maju dari suatu titik awal yang sulit.