Harta Bapa Kita
Saya mempunyai sebuah pisau lipat tua yang sudah usang dan tergerus oleh waktu. Bilah pisaunya sompek dan gagangnya penuh goresan, tetapi itu adalah salah satu harta ayah saya, disimpan di dalam sebuah kotak di atas lemari hingga ia memberikannya kepada saya. “Ini salah satu dari beberapa barang yang Ayah miliki dari kakekmu,” katanya kepada saya. Kakek saya meninggal ketika ayah saya masih muda, dan Ayah menghargai pisau tersebut karena ia menghargai ayahnya.
Bagaimana Perasaan Allah terhadap Anda?
Kiranya kisah ini mengobarkan kembali kasih dan komitmen Anda kepada satu Pribadi istimewa yang mengasihi Anda.

Menolak Menggerutu kepada Allah
Sebagai jawaban atas doanya, Alex dapat melunasi biaya perawatan giginya dengan sumber dana yang tidak terduga dari asuransi kesehatannya. Namun, masih ada perawatan lain yang ia butuhkan. Dari mana lagi saya mendapatkan uang untuk itu? Alex menggerutu. Kejengkelan akan besarnya biaya yang harus ia keluarkan memenuhi pikirannya.

Semuanya Sudah Diampuni
Dalam salah satu cerita pendeknya, Ernest Hemingway mengisahkan tentang seorang ayah asal Spanyol yang rindu untuk dapat bersatu kembali dengan sang putra yang telah menjauh darinya. Ia memasang iklan di surat kabar lokal dengan tulisan: Paco, temui Ayah di Hotel Montana pada hari Selasa siang. Semuanya sudah diampuni. Ketika ayah tersebut tiba, ia menemukan kerumunan orang sedang menunggu. Delapan ratus Paco telah menanggapi iklan tersebut, dan mereka semua mendambakan pengampunan dari ayah mereka.

Kemenangan dari Kebaikan Hati
Ketika Jackie Robinson, pemain kulit hitam pertama di Liga Utama Bisbol modern, bertanding di Shibe Park, Philadelphia, tanggal 9 Mei 1947, Doris yang berusia 10 tahun berada di tribun atas bersama ayahnya. Ketika seorang pria tua berkulit hitam berjalan menuju kursi di sebelah mereka, ayah Doris membuka percakapan untuk berkenalan dengan pria tersebut. Doris mengatakan bahwa percakapan kedua pria tentang skor pertandingan bisbol itu membuat ia merasa lebih dewasa. Di kemudian hari, ia berujar, “Aku takkan pernah lupa bapak itu dan juga senyum di wajahnya.” Interaksi yang menyenangkan antara Doris, seorang gadis muda berkulit putih, dan pria tua baik hati dari keturunan budak tersebut menjadikan hari itu istimewa.