Month: Juni 2025

Perencanaan yang Bijaksana

Ezdan, seorang dokter di kota kecil, mempunyai mimpi besar untuk Eleanor, putrinya yang masih muda. Ezdan berharap dapat membuka bisnis untuk memberikan pekerjaan yang layak bagi masa depan Eleanor yang menderita Down syndrome. Sempat merasa takut untuk mengejar mimpinya, Ezdan memutuskan untuk mengikuti kursus daring tentang cara memulai bisnis. Ia dan istrinya membuka toko roti di kota mereka di Wyoming, dan kemudian usaha itu berkembang pesat. “Bisnis ini telah berkembang begitu rupa, sehingga kami dapat merekrut pegawai untuk bekerja bagi kami” kata Ezdan. Setelah beranjak dewasa, Eleanor pun bekerja sebagai kasir dan ikut melayani pelanggan daring. “Semua orang di kota kami mengenal Eleanor,” kata Ezdan. Langkah imannya dalam merencanakan masa depan sang putri mencerminkan keputusannya yang bijaksana.

Pembedahan Hati

Beberapa tahun lalu, setelah bertengkar sengit, saya dan sahabat saya, Carolyn, menyelesaikan konflik kami dalam kasih. Saya mengakui kesalahan saya, dan Carolyn berdoa untuk saya. Ia menyebutkan Yehezkiel 36:26 sebagai referensi, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Saya merasa bahwa Allah sedang membedah hati saya secara spiritual, dengan mengangkat rasa takut dan kepahitan saya sembari melingkupi diri saya dalam kasih-Nya.

Bahasa Kasih

Mon Dieu. Lieber Gott. Drahý Bože. Aγαπητέ Θεέ. Dear God. Saya mendengar doa-doa dalam bahasa Prancis, Jerman, Slovakia, Yunani, dan Inggris bergema dalam sebuah gereja di kota Athena saat kami berdoa serempak dalam bahasa kami masing-masing demi jiwa-jiwa di negara kami yang membutuhkan kasih Allah. Keindahan dari pertemuan itu semakin terasa saat kami menyadari bahwa ibadah itu berlangsung pada hari Pentakosta.

Menjadi Satu

Sebuah lukisan bergaya kontemporer berjudul “That They May All Be One” (Supaya Mereka Semua Menjadi Satu) menampilkan meja polos dengan 13 cawan sederhana yang terbingkai dalam panel-panel terpisah. Kesederhanaan lukisan yang tergantung di Wolfson College, Universitas Oxford, itu menonjolkan makna penting dari peristiwa yang digambarkannya: perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya. Panel terbesarnya menampilkan sepotong roti dan sebuah cawan yang mewakili Yesus, dikelilingi oleh 12 panel lain yang melambangkan kehadiran para murid.

Tidak Ada Penderitaan yang Sia-Sia

Seorang sahabat menatap mata saya dan berkata, “Jangan sia-siakan penderitaanmu.” Pikiran saya langsung kembali ke beberapa tahun silam ketika saya memimpin ibadah untuk mengenang anak laki-laki beliau yang masih muda dan meninggal dalam kecelakaan mobil. Wanita itu mengerti apa yang ia katakan, karena ia pernah menderita. Namun, ia juga mengerti bahwa Allah dapat memakai kepedihannya itu untuk memuliakan-Nya dan membantu orang lain—sesuatu yang ia lakukan dengan sangat baik. Ketika mendengar kata-katanya, saya terhibur dan dikuatkan untuk menghadapi diagnosis kanker yang serius. Saya diingatkan bahwa Allah mendengar seruan dan keluhan saya. Dia juga selalu menyertai dalam penderitaan saya, bahkan sanggup memakai pengalaman saya untuk menolong orang lain dengan cara yang baru.