Month: November 2025

Hitunglah Berkatmu

Semasa kecil, saya menyukai lagu himne lawas “Count Your Blessings” (Hitung Berkatmu, kppk 50) Lagu tersebut menguatkan mereka yang sedang diterjang “gelombang kehidupan” dan merasa “takut dan putus asa” untuk “hitung berkat satu per satu.” Bertahun-tahun kemudian, ketika suami saya, Alan, sedang patah semangat, ia sering meminta saya untuk menyanyikan lagu tersebut kepadanya. Saya kemudian mengajaknya untuk menghitung berkat-berkat yang sudah diterimanya. Dengan melakukannya, pikiran Alan dapat teralihkan dari pergumulan dan keragu-raguan, serta dipusatkan kembali kepada Allah dan hal-hal yang dapat disyukuri.

Memohon Pertolongan Allah

Ketika saya masih muda, saya berpikir sungguh tidak pantas meminta Allah untuk menolong saya agar dapat menyelesaikan tulisan pada waktunya. Pikir saya, orang lain punya masalah yang lebih besar. Masalah keluarga, gangguan kesehatan, krisis keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Saya juga pernah mengalami masalah-masalah tersebut. Namun, menyelesaikan tulisan dengan tepat waktu tampaknya terlalu sepele untuk dibawa kepada Allah. Namun, pandangan saya berubah setelah menemukan banyak contoh dalam Alkitab yang memperlihatkan bagaimana Allah menolong orang-orang tanpa memandang besar atau kecilnya kesulitan yang mereka hadapi.

Harapan dalam Penantian

Alida melakukan tes DNA pada tahun 2020 dan mendapatkan hasil yang cocok dengan seorang pria yang tinggal di sisi yang lain dari Amerika Serikat. Ia dan anak-anak perempuannya lalu menemukan artikel berita dari dekade 1950-an yang membawa mereka pada kesimpulan bahwa pria tersebut adalah Luis, paman Alida yang sudah lama hilang! Luis diculik di sebuah taman pada tahun 1951 ketika masih berusia enam tahun. Tes DNA tadi, yang diambil 70 tahun setelah Luis menghilang, berujung pada reuni membahagiakan antara Luis dan keluarga biologisnya. Alida berkata, “Saya harap, dengan tersebarnya cerita [kami], semoga ada keluarga lain yang terbantu. . . . Pesan saya, jangan pernah menyerah.”

Nilai Diri Kita di dalam Kristus

Mario adalah seorang pecandu kokain dan alkohol berusia 28 tahun yang dipenjara karena melakukan perampokan. Pada saat dijatuhi hukuman, ia disebut hakim sebagai “sampah masyarakat.” Walau sedih, Mario tidak menyangkalinya. Pada pertengahan masa tahanannya, ia melihat sebuah iklan tentang kompetisi jurnalisme. Hal itu menarik perhatian Mario, maka ia mendaftarkan diri untuk berkuliah di sebuah universitas lokal. Ia langsung jatuh cinta dengan dunia jurnalisme. Karena senang bekerja dalam bidang penulisan berita, setelah dibebaskan dari penjara, Mario menuntaskan pendidikan tingkat magisternya dalam bidang jurnalistik dan kini bekerja sebagai penulis untuk harian The New York Times. Ia bukan lagi seorang sampah masyarakat!