Persembahan bagi Yesus
“Kulayangkan pandangku, yang redup oleh duka / Tiada bukit abadi yang tampak di mata,” tulis penyair era Victoria, Christina Rossetti, dalam puisinya yang menyayat hati “A Better Resurrection” (Kebangkitan yang Lebih Mulia). Puisi itu menggambarkan perjuangannya untuk terus berharap di tengah rasa hampa, “terlalu lelah ‘tuk berharap atau khawatir.” Namun, Rossetti memegang teguh pengharapan yang lebih dalam daripada perasaan putus asanya. Meski ia melihat “tiada kuncup atau tunas hijau” yang menandakan kebangkitan Kristus yang memperbarui hidupnya, ia mengaku: “Kebangkitan pasti terjadi” dan berdoa, “Ya Yesus, bangkitlah di dalamku.”

Menanggalkan Kesedihan
Penyanyi dan penulis lagu asal Kanada, Gordon Lightfoot, dikenal luas lewat tembang klasik seperti “The Wreck of the Edmund Fitzgerald” dan “If You Could Read My Mind.” Namun, salah satu karyanya yang kurang populer berjudul “The Minstrel of the Dawn.” (Minstrel adalah pujangga sekaligus penyanyi yang memakai puisinya sebagai lirik lagu.) Seperti orang pada umumnya, penyanyi dalam lagu itu rindu dapat merasa “lebih gembira daripada bersedih.” Meski selalu ada hal-hal menyedihkan yang bisa diingat, si penyanyi memilih berfokus pada hal-hal yang membahagiakan, seperti bernyanyi tentang fajar yang baru menyingsing.

Menantikan Allah
Joseph menelusuri daftar lowongan pekerjaan dengan rasa frustrasi. Pekerjaan terakhirnya sebagai pelayan memang memberinya gaji yang cukup memadai, tetapi rutinitas pekerjaan di akhir pekan—suatu hal biasa dalam industri restoran—menyulitkannya sebagai orang percaya untuk beribadah di gereja. “Mengapa Allah tidak menjawab doaku?” keluhnya. “Bukankah Dia mau aku pergi ke gereja?”

Diciptakan untuk Berkomunitas
Ketika saya dan suami, Alan, memutuskan pindah ke Philadelphia demi pendidikannya, saya belum memiliki pekerjaan dan kami belum tahu bagaimana membayar biaya untuk tempat tinggal kami. Pada suatu hari Minggu, sebelum kami berangkat, seorang kenalan di gereja mempertemukan kami dengan seorang lulusan universitas tujuan Alan yang mempunyai informasi tentang apartemen yang terjangkau. Tak lama kemudian, seorang rekan kerja memberi saya informasi tentang lowongan kerja di sebuah lembaga pelayanan. Allah menjawab doa kami dan membuka pintu kesempatan—termasuk menyediakan apartemen dan pekerjaan—melalui umat-Nya. Para sahabat dan anggota keluarga ikut membantu kami pindah serta melepas kami dengan doa.

Yesus, Santapan Utama bagi Jiwa
Dibesarkan dalam keluarga kulit hitam di Amerika, kami sering menikmati hidangan lezat yang disebut “soul food” (harfiah: makanan pemuas jiwa). Istilah ini muncul pada pertengahan 1960-an, ketika kata “soul” umum digunakan untuk menggambarkan budaya kulit hitam di Amerika. Menu “soul food” biasanya mencakup ayam goreng, makaroni keju, sayuran hijau, ubi jalar, roti jagung, dan banyak lagi. Hidangan penutup menjadi bonus tersendiri, seperti pai buah favorit saya. Semuanya begitu menggiurkan!