
Menjadi Saluran Kasih Allah
Semasa remaja, relasi saya dengan teman gereja saya, Lisa, sempat retak. Karena itu, saya cemas ketika mengetahui bahwa kami akan tinggal sekamar di sepanjang kamp musim panas. Namun, seminggu pertama kamp berlalu dengan lancar, karena kami berdua memilih untuk bersikap sopan.

Meneladan Pengampunan Allah
Saya pernah bekerja bersama Madge, seorang juru masak yang hebat. “Ayo cicipi sup kacang polong dan ham buatanku!” katanya suatu hari. Saya berkata bahwa saya tidak suka kacang polong, tetapi Madge hanya tersenyum dan berkata, “Kamu akan suka setelah mencicipi sup buatanku.” Keesokan harinya, ia memberi saya tempat makan berisi sup yang dimasaknya khusus untuk saya.

Menantikan Allah
Semasa kecil, saya selalu bersemangat setiap kali melihat rambu-rambu tertentu muncul di tepi jalan. Saya mengira papan rambu warna-warni itu menandakan bahwa kami sudah tiba di taman hiburan yang kami tuju. Saya yang tadinya mulai mengemasi barang-barang dengan gembira, akhirnya kecewa ketika menyadari masih ada banyak rambu berikutnya dan perjalanan kami masih berlanjut. Akhirnya saya mengerti bahwa rambu-rambu itu hanya menyatakan kepada pengunjung bahwa lokasi yang dituju sudah dekat, tetapi masih beberapa kilometer di depan.

Itu Salah Saya
Dalam sebuah film komedi lama, seorang pemrogram komputer yang ceroboh nan jenius terpilih untuk mengikuti misi berawak manusia pertama ke planet Mars. Meski terus membuat kesalahan-kesalahan konyol, ia punya kebiasaan spontan untuk berseru, “Bukan salahku!” Sewaktu awak pesawat luar angkasa itu mendarat di Mars, sang pemrogram tergelincir dari atas tangga dan jatuh ke permukaan planet, tepat sebelum rekannya menjejakkan kaki di sana. Jadi, kata-kata pertama yang terucap di Mars adalah, “Bukan salahku!”
