
Menjadi Terang bagi Kristus
Saat pandemi virus corona, sekolah-sekolah di seluruh dunia memutuskan siswa-siswi harus belajar dari rumah demi alasan kesehatan dan keselamatan. Gedung sekolah dan arena olahraganya menjadi kosong dan tidak terpakai. Menyadari banyaknya orang yang mengalami penderitaan berat, para guru berusaha melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa mereka merindukan para siswa dan menyemangati murid-murid itu agar tetap giat belajar. Karena itu, banyak sekolah mengadakan tantangan “Jadilah Terang” dengan menyalakan lampu-lampu di arena olahraga mereka yang kosong setiap malam.

Waktu Allah
Sebelum tahun 1967, satuan waktu diukur berdasarkan pola astronomi: rotasi bumi dan revolusinya mengelilingi matahari. Namun, setelah berabad-abad, ternyata ditemukan masalah: bumi bergerak melambat dalam orbitnya. Para ilmuwan menemukan bahwa satu detik menjadi lebih panjang daripada biasanya. Meski terjadi secara perlahan-lahan, dunia telah “kehilangan” tiga jam dari waktu yang terhitung sejak zaman Kristus hidup.

Mendampingi Mereka yang Menderita
“Ayah, kepalaku sakit.” “Ayah, aku kedinginan.” “Ayah, boleh gosok kakiku?” Belum lama ini, putri saya yang berusia remaja mengalami demam tinggi, menggigil, dan sakit di sekujur tubuh. Ia ingin saya membuatnya merasa lebih nyaman, dan yang terutama, agar saya selalu berada di sisinya. Kami pun membawanya ke unit gawat darurat dan diberi tahu bahwa penyebab penyakitnya adalah virus. Tidak ada yang bisa dilakukan selain bertahan melewatinya.

Harga dari Komitmen
Dua puluh dua orang pemimpin Kristen melakukan perjalanan rahasia setengah hari untuk bersekutu dan belajar dari seorang pendeta asing. Jika tertangkap, sang pendeta akan dideportasi, sementara para peserta terancam hukuman tiga tahun dalam penjara. Delapan belas dari anggota kelompok itu sudah pernah dipenjara karena iman mereka kepada Yesus.
