Category  |  Santapan Rohani

Memperdalam Pengenalan akan Allah

Segera setelah saya melompat ke dalam air, kacamata renang saya dipenuhi air, membuat saya hampir tidak bisa melihat. Walaupun tidak pernah mengikuti les renang, saya berjuang pelan-pelan menyelesaikan dua putaran lomba yang saya ikuti secara spontan. Namun, bertahun-tahun kemudian, setelah mengikuti les dan mempelajari teknik pernapasan serta gaya renang yang benar, saya dapat menikmati keempat gaya renang yang dilombakan.

Firman Allah Tetap

Pada awal tahun 1900-an, seorang pengusaha baja sukses bernama Charles Schwab memutuskan untuk membangun rumah yang bisa dikatakan termewah di kota New York. Kediaman Schwab di Riverside Drive yang selesai dibangun pada tahun 1906 itu terinspirasi dari bangunan kastil Prancis dan membentang sepanjang satu blok, lengkap dengan taman rimbun, aula besar, dan interior yang mewah. Bangunan itu terlihat sangat kontras dengan gedung-gedung apartemen yang menjulang tinggi dan menjadi ciri khas Manhattan di kemudian hari. Namun, setelah Schwab meninggal, rumah megah itu sulit untuk dijual kembali—terlalu besar, terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan tren perumahan masa itu. Akhirnya, rumah itu dihancurkan pada tahun 1948. Baik rumah maupun pemiliknya tidak bertahan lama.

Yesus Dinyatakan di dalam Kita

Setelah kepergian sang ibu, Joni Eareckson Tada merenungkan bagaimana tubuh manusia bagaikan “bejana tanah liat” yang menyimpan harta kehadiran Kristus. Dari dunia saat ini, ia menggambarkan tubuh duniawi kita bagaikan kotak kardus. Ia tahu bahwa “kotak kardus” ibunya, dengan sisi dan sudutnya yang usang, kini telah kosong. Namun, kata Joni, kotak itu begitu berharga, “karena pernah menjadi wadah bagi Roh Kristus untuk berdiam.”

Kenakan Perlengkapan Senjata Allah

Nafi dan Kamran pernah terlibat dalam perebutan kekuasaan di negaranya. Setelah bertempur bertahun-tahun, dan pihak mereka akhirnya menang, keduanya diberi pekerjaan sebagai karyawan kantor di ibu kota. Namun, mereka tidak menikmatinya. Sangat sedikit pekerjaan yang bisa dilakukan, sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Nafi berkata bahwa banyak rekannya, “termasuk saya, sudah kecanduan internet, terutama Twitter.” Kamran menambahkan, “Ujian dan tantangan sesungguhnya bukanlah perang, tetapi justru saat ini. Apa yang dulu sederhana sekarang menjadi jauh lebih rumit.” Tentang beragam godaan yang dijumpainya di dunia maya, ia berkata, “Banyak . . . yang terjerumus ke dalam perangkap yang tampaknya manis, tetapi sebenarnya pahit.”

Terang Hidup

Pada tahun 1905, seorang pemuda berpenampilan lusuh mengurung diri di apartemennya di Bern, Swiss. Ia sedang berkutat dengan eksperimen rumit tentang hakikat alam semesta. Dengan konsentrasi yang menggebu-gebu, fisikawan itu terus mengolah dan mengutak-atik perhitungannya. Setelah memeras otak selama empat bulan penuh, sang pemuda berhasil merumuskan ulang banyak teori yang selama ini diyakini tentang cara kerja dunia. Nama pemuda itu adalah Albert Einstein, yang saat itu berusia 26 tahun.

Bertekun dalam Doa

Setelah nenek buyut Clara meninggal dunia, keluarganya mewarisi daftar nama orang-orang yang beliau doakan dengan tekun, yang panjangnya mencapai tiga meter. Daftar yang diketik beliau terdiri dari nama-nama keluarga besar, para sahabat, orang-orang yang didoakan oleh teman-temannya, hingga nama para penginjil, pendeta, dan lembaga pelayanan yang terkenal. Pada pinggiran kertas itu, ada tulisan tangan berisi nama-nama anggota keluarga baru dan pokok doa khusus. Saya pun terharu ketika melihat nama ibu saya masuk dalam daftar tersebut, yang ditambahkan saat beliau masih kecil.