Category  |  Santapan Rohani

Kasih Karunia Allah yang Cukup

Terlahir sebagai Mary Flannery O’Connor, ia lebih dikenal sebagai Flannery O’Connor, salah seorang penulis dari kawasan selatan AS yang paling terkenal. Karyanya sarat dengan kisah-kisah tentang penderitaan dan kasih karunia. Ketika ayah tercintanya meninggal karena penyakit lupus saat ia baru berusia 15 tahun, O’Connor yang terpukul membenamkan diri dalam penulisan novelnya yang pertama. Tidak lama kemudian, ia sendiri didiagnosis menderita lupus, penyakit tak tersembuhkan yang merenggut nyawanya pada usia ke-39. Tulisan-tulisan O’Connor mencerminkan penderitaan fisik dan mental yang dialaminya. Novelis Alice McDermott mengatakan, “Saya rasa penyakit itulah yang membentuknya menjadi sosok penulis yang kita kagumi sekarang.”

Kota yang Layak Dicari?

Pada tanggal 29 Mei 1925, Percy Fawcett mengirim surat terakhir kepada istrinya sebelum masuk lebih dalam ke hutan-hutan di Brasil yang belum pernah dipetakan. Dalam upayanya bertahun-tahun mencari sebuah kota terhilang yang menurut dongeng penuh dengan kemegahan, Fawcett bertekad menjadi penjelajah pertama yang berhasil membagikan lokasi kota itu kepada dunia luar. Namun, tim ekspedisi yang dipimpinnya tersesat, kota itu tidak pernah ditemukan, dan banyak ekspedisi selanjutnya yang gagal menemukan kota itu maupun membawa mereka kembali.

Ucapan Syukur yang Rendah Hati

Pada suatu hari raya Thanksgiving, saya menelepon orangtua saya. Di tengah obrolan kami, saya bertanya kepada ibu saya hal apa yang paling ia syukuri. Dengan bersemangat, ia berkata yang paling disyukurinya adalah bahwa ketiga anaknya telah mengenal Tuhan. Bagi seseorang yang selalu menekankan pentingnya pendidikan seperti ibu saya, ternyata ada yang jauh lebih bernilai bagi anak-anaknya daripada prestasi belajar dan kemandirian.

Hitunglah Berkatmu

Semasa kecil, saya menyukai lagu himne lawas “Count Your Blessings” (Hitung Berkatmu, kppk 50) Lagu tersebut menguatkan mereka yang sedang diterjang “gelombang kehidupan” dan merasa “takut dan putus asa” untuk “hitung berkat satu per satu.” Bertahun-tahun kemudian, ketika suami saya, Alan, sedang patah semangat, ia sering meminta saya untuk menyanyikan lagu tersebut kepadanya. Saya kemudian mengajaknya untuk menghitung berkat-berkat yang sudah diterimanya. Dengan melakukannya, pikiran Alan dapat teralihkan dari pergumulan dan keragu-raguan, serta dipusatkan kembali kepada Allah dan hal-hal yang dapat disyukuri.

Memohon Pertolongan Allah

Ketika saya masih muda, saya berpikir sungguh tidak pantas meminta Allah untuk menolong saya agar dapat menyelesaikan tulisan pada waktunya. Pikir saya, orang lain punya masalah yang lebih besar. Masalah keluarga, gangguan kesehatan, krisis keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Saya juga pernah mengalami masalah-masalah tersebut. Namun, menyelesaikan tulisan dengan tepat waktu tampaknya terlalu sepele untuk dibawa kepada Allah. Namun, pandangan saya berubah setelah menemukan banyak contoh dalam Alkitab yang memperlihatkan bagaimana Allah menolong orang-orang tanpa memandang besar atau kecilnya kesulitan yang mereka hadapi.