Allah yang Penuh Kejutan
Ruang konferensi berubah menjadi remang-remang, dan ribuan mahasiswa pun menundukkan kepala saat pembicara memimpin kami dalam doa komitmen. Sewaktu beliau mengundang berdiri orang-orang yang merasa terpanggil untuk melayani dalam pelayanan misi di luar negeri, saya merasakan teman saya, Lynette, meninggalkan tempat duduknya. Saya tahu ia pernah berjanji untuk tinggal dan melayani di Filipina. Namun, saya tidak merasakan dorongan untuk berdiri. Saya melihat kebutuhan di Amerika Serikat, tanah kelahiran saya, dan ingin membagikan kasih Allah di sini. Namun, sepuluh tahun kemudian, saya pun menetap di Inggris dan berusaha melayani Allah di antara orang-orang yang ditempatkan-Nya di sekitar saya. Bayangan saya tentang jalan hidup yang akan saya jalani berubah ketika saya menyadari bahwa Allah mengundang saya ke dalam sebuah petualangan yang jauh berbeda dari yang saya kira sebelumnya.
Perbuatan Baik
Berbulan-bulan setelah mengalami keguguran, Valerie memutuskan untuk menjual barang-barang yang dimilikinya. Gerald, seorang tetangga jauh yang bekerja sebagai pengrajin, dengan penuh semangat membeli tempat tidur bayi yang dijual Valerie. Selama di sana, istri Gerald mengetahui tentang kehilangan yang dialami Valerie. Setelah mendengar situasi Valerie dalam perjalanan pulang, Gerald pun memutuskan untuk membuatkan sebuah kenang-kenangan kerajinan dari tempat tidur bayi tersebut. Seminggu kemudian, dengan berlinang air mata ia mempersembahkan sebuah bangku yang indah kepada Valerie. “Ada banyak orang baik di luar sana, dan inilah buktinya,” tutur Valerie.
Aku Bukan Siapa-Siapa! Siapa Dirimu?
Dalam sebuah puisi yang dibuka dengan baris, “Aku bukan siapa-siapa! Siapa dirimu?” Emily Dickinson menyindir segala upaya yang dilakukan manusia untuk menjadi “seseorang” yang diakui dan dihargai. Sang pujangga justru menganjurkan kita untuk menikmati kebebasan penuh sukacita dengan menjalani hidup tanpa dikenali. “Alangkah menyedihkan – menjadi Seseorang! Di depan umum – seperti seekor Katak – / Namanya diserukan – di sepanjang bulan Juni / kepada seluruh Rawa yang terpesona!”
“Segala Sesuatu Melawan Aku”
“Pagi ini saya kira saya punya banyak uang; tetapi sekarang saya bahkan tidak yakin apakah saya punya satu dolar saja.” Mantan presiden AS Ulysses S. Grant mengucapkan kata-kata tersebut pada hari ia ditipu oleh seorang rekan kerja dan kehilangan seluruh tabungan yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya. Beberapa bulan kemudian, Grant didiagnosis menderita kanker yang tidak bisa disembuhkan. Dalam kekhawatiran soal menafkahi keluarganya, Grant pun menerima tawaran penulis Mark Twain untuk menerbitkan buku memoarnya, yang kemudian berhasil diselesaikannya seminggu sebelum ia meninggal dunia.
Kebaikan Tak Terhingga
Seorang karyawan restoran cepat saji bernama Kevin Ford tidak pernah membolos satu kali pun selama dua puluh tujuh tahun ia bekerja. Setelah tersebarnya sebuah videoklip yang menunjukkan rasa syukurnya saat menerima hadiah sederhana atas pengabdiannya selama beberapa dekade, ribuan orang bergandengan tangan untuk ikut menunjukkan kebaikan kepadanya. “Sungguh seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ujar Kevin saat menerima uang sejumlah $250.000 yang digalang orang-orang hanya dalam waktu seminggu.
Masker “Diberkati”
Ketika kewajiban untuk memakai masker pada masa pandemi dilonggarkan, saya sering lupa menyimpan masker untuk kebutuhan darurat—misalnya untuk digunakan saat berkunjung ke sekolah anak. Suatu hari, ketika perlu mengenakan masker, saya hanya menemukan selembar masker di mobil: masker yang selama ini selalu saya hindari untuk pakai, karena di depannya tertulis kata diberkati.
Untuk Mengenal Allah
Saat mengunjungi Irlandia, saya terpesona melihat banyaknya hiasan berbentuk shamrock. Bentuk tanaman mungil berdaun tiga itu dapat ditemukan di toko mana pun, disematkan pada benda apa pun—pakaian, topi, perhiasan, dan banyak lagi!
Kisah Agung Allah
Sampul majalah Life edisi 12 Juli 1968 menampilkan foto mengerikan dari anak-anak kelaparan di Biafra (bagian dari Nigeria pada masa perang saudara). Seorang bocah yang melihat sampul itu merasa gelisah dan bertanya kepada seorang pendeta, “Apakah Allah tahu tentang ini?” Pendeta itu menjawab, “Mungkin kamu tidak mengerti, tetapi ya, Allah tahu.” Karena kecewa, bocah itu pergi dan berkata tidak ingin mengenal Allah yang seperti itu.
Rute yang Tak Dikenal
Mungkin seharusnya saya tidak mengikuti ajakan Brian untuk lomba lari. Saya berada di negeri asing, dan tidak punya bayangan di mana atau berapa jauh kami akan lari atau seperti apa medannya. Lagi pula, Brian seorang pelari cepat. Apakah pergelangan kaki saya bakal terkilir saat mencoba mengimbanginya agar tidak tertinggal? Namun, apa lagi yang dapat saya lakukan selain percaya kepada Brian, karena ia sudah mengenal jalannya? Ketika kami mulai berlomba, kekhawatiran saya semakin menjadi-jadi. Ternyata jalurnya sulit, berkelok menembus hutan lebat di atas permukaan tanah yang tidak rata. Syukurlah, Brian berulang kali menoleh untuk mengecek keadaan saya dan mengingatkan saya akan adanya jalur sulit di depan.