Category  |  Santapan Rohani

Tidak Ada Lagi Utang

Seorang dokter memutuskan pensiun setelah hampir 30 tahun merawat pasien kanker. Saat menyelesaikan urusan keuangan kliniknya bersama perusahaan penagihan, ia memilih untuk menghapus utang seorang pasien sebesar 650.000 dolar AS. Dalam sebuah wawancara, ia berkata, “Saya selalu merasa gelisah melihat pasien yang sedang sakit masih harus memikirkan hal-hal lain selain kesehatan mereka, seperti keluarga, pekerjaan, dan tekanan finansial. Itu terus membebani hati saya.”

Dapatkah Kita Hidup Selamanya?

Masuk ke kolom komentar situs berita daring memang berisiko, tetapi menarik. Dalam komentar terhadap wawancara dengan seorang jutawan yang sedang berupaya untuk hidup selamanya di dunia ini, seorang pembaca mengunggah kutipan dari Matius 16:25: “‘Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.’ —Yesus.” Menanggapi komentar itu, pembaca lain menulis, “Bukankah ada kitab yang ditulis tentang Yesus itu?” Seorang pembaca ketiga menjawab, “Ya, buku fiksi.”

Bertekad untuk Berbuat Lebih Sedikit

Ketika kita memikirkan resolusi Tahun Baru, yang mungkin muncul adalah daftar ambisi muluk-muluk yang jarang tercapai—faktanya, 80 persen resolusi biasanya gugur sebelum pertengahan Februari. Penulis Amy Wilson menawarkan pendekatan yang berbeda: ia menolak gagasan bahwa kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar hidup kita berubah menjadi lebih baik. Alih-alih menambah komitmen, saran Wilson, kita perlu melihat tahun baru sebagai kesempatan untuk berbuat lebih sedikit. Kita perlu mulai “berkata tidak” kepada sejumlah “komitmen yang terlalu besar dan berkepanjangan, yang menguras waktu dan energi kita tetapi tidak memberi imbalan yang sepadan.”

Kasih Setia Allah

Dalam kegiatan penjangkauan yang diadakan gereja kami di sebuah panti jompo, seorang penghuni lansia bernama Ed menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya bertahun-tahun silam. Hari itu, ia diantar oleh putrinya ke tempat itu lalu ditinggalkan begitu saja di trotoar. Karena duduk di atas kursi roda, Ed tidak mampu berdiri untuk mengejar putrinya. Putrinya kembali ke mobil tanpa menoleh sedikit pun, lalu pergi. Padahal sebelumnya ia sempat berkata, “Kita akan pergi ke hotel yang bagus.” Namun, hari itu adalah terakhir kalinya Ed melihat putrinya.

Resiliensi yang Penuh Sukacita

Para ilmuwan mempelajari resiliensi (daya tahan) dari 16 peradaban di berbagai belahan dunia, seperti kawasan Yukon dan pedalaman Australia. Mereka menganalisis ribuan tahun catatan arkeologi serta menelusuri dampak kelaparan, peperangan, dan perubahan iklim yang terjadi pada rentang waktu tersebut. Satu faktor menonjol yang mereka temukan adalah frekuensi kemunduran yang dialami peradaban tersebut. Sekilas, hal ini mungkin tampak melemahkan komunitas tersebut. Namun, para peneliti justru menemukan yang sebaliknya—komunitas yang sering menghadapi kesulitan cenderung lebih tahan banting dan mampu pulih lebih cepat dari tantangan di masa depan. Tampaknya, tekanan dan stres dapat membentuk resiliensi.