Category  |  Santapan Rohani

Tanda-Tanda Kehidupan

Ketika putri saya mendapat hadiah sepasang kepiting untuk dipelihara, ia mengisi akuarium dengan pasir sehingga makhluk itu dapat memanjat dan menggali. Ia menyediakan air, protein, dan sisa-sisa sayuran sebagai makanan favorit mereka. Karena kepiting-kepiting itu tampak bahagia, kami sangat terkejut ketika suatu hari mereka menghilang. Kami mencari hewan itu ke mana-mana. Akhirnya, kami tahu bahwa kemungkinan besar mereka berada di bawah timbunan pasir, dan akan terus di sana sekitar dua bulan untuk menanggalkan cangkangnya.

Bayi Laki-Laki

Selama lebih dari satu tahun, nama resmi anak itu ialah “Bayi Laki-Laki”. Ia ditemukan seorang petugas keamanan yang mendengar tangisannya. Waktu itu ia baru berumur beberapa jam dan hanya terbungkus kantong yang ditinggalkan di tempat parkir rumah sakit.

Apakah Engkau Tetap Mengasihiku?

Lyn-Lyn yang berusia sepuluh tahun akhirnya diadopsi. Namun, ia merasa takut. Di panti asuhan tempatnya dibesarkan, ia sering dihukum hanya karena kesalahan-kesalahan kecil. Lyn-Lyn bertanya kepada ibu angkatnya, yang adalah teman saya, “Apakah Ibu menyayangiku?” Ketika teman saya menjawab “Ya, tentu,” Lyn-Lyn masih bertanya, “Kalau aku berbuat salah, apakah Ibu tetap menyayangiku?”

Masa Hidup Manusia

Pada tahun 1990, para peneliti Prancis menghadapi sebuah masalah komputer: terdapat kesalahan data dalam memproses usia Jeanne Calment. Jeanne berumur 115 tahun, dan usia tersebut berada di luar parameter program perangkat lunak yang digunakan. Para pemrogram mengira tidak ada yang dapat hidup selama itu! Jeanne bahkan hidup hingga usia 122 tahun.

Bagian Anda, Bagian Allah

Ketika teman saya Janice diminta mengepalai departemen di tempat kerjanya, ia merasa tidak sanggup. Pasalnya, ia baru beberapa tahun bekerja di sana. Ketika mendoakan hal ini, ia merasa Allah mendorongnya untuk menerima penugasan tersebut. Namun, tetap saja, ia khawatir tidak dapat memenuhi tanggung jawab itu. “Bagaimana aku dapat memimpin sementara pengalamanku hanya sedikit?” ia bertanya kepada Allah. “Mengapa menempatkan aku di sini kalau nanti aku bakal gagal juga?”

Mengucap Syukur dengan Sukacita

Sebuah studi yang dilakukan psikolog Robert Emmons membagi relawan menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok diminta menulis jurnal mingguan. Satu kelompok menulis lima hal yang mereka syukuri. Satu kelompok lagi menggambarkan lima hal yang mengganggu mereka sehari-hari. Kelompok terakhir menulis lima peristiwa yang berdampak kecil pada mereka. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa para anggota kelompok yang bersyukur merasa lebih baik mengenai kehidupan mereka, lebih optimis tentang masa depan, dan melaporkan lebih sedikit masalah kesehatan.

Kuasa Firman Allah

Stephen adalah seorang komedian yang tengah naik daun, dan ia telah meninggalkan imannya. Meski dibesarkan dalam keluarga Kristen, ia meragukan imannya setelah ayah dan dua saudara laki-lakinya tewas dalam kecelakaan pesawat. Di awal usia dua puluhan, ia kehilangan imannya. Akan tetapi, ia kembali memeluk imannya pada suatu malam di jalanan kota Chicago yang dingin. Seorang asing memberinya Alkitab saku Perjanjian Baru, dan Stephen pun membaca-baca isinya. Daftar indeks merujuk orang yang bergumul dengan kecemasan kepada Matius 6:27-34, bagian dari Khotbah Yesus di Bukit.

Menguasai Diri dengan Kuasa Allah

Pada tahun 1972, sebuah studi yang dikenal dengan “ujian marshmallow” dikembangkan untuk mengukur kemampuan anak-anak dalam menahan diri dari keinginan memuaskan kemauan mereka. Anak-anak ditawari sebutir marshmallow, tetapi diberi tahu jika mereka dapat menahan diri selama sepuluh menit untuk tidak memakannya, mereka akan diberi marshmallow kedua. Sepertiga dari anak-anak itu mampu menahan diri demi mendapat lebih, tetapi sepertiga lagi langsung melahapnya dalam waktu tiga puluh detik!

Burung-Burung di Langit

Matahari musim panas tengah merangkak naik dan tetangga saya tersenyum ketika melihat saya di halaman depan. Sambil berbisik ia meminta saya mendekat. “Ada apa?” saya balas berbisik, penasaran. Ia menunjuk kelinting angin di teras depan rumahnya, dan di sana tampak setumpuk kecil jerami teronggok di atas dudukan besi. “Sarang kolibri,” bisiknya. “Lihat bayi-bayinya?” Dua paruh semungil ujung peniti mencuat keluar, nyaris tak terlihat. “Mereka sedang menunggu induknya.” Kami berdiri di sana dengan takjub. Saya mengarahkan ponsel untuk mengabadikan momen itu. “Jangan terlalu dekat,” kata tetangga saya. “Jangan sampai induknya takut.” Sejak hari itu, kami mengadopsi—dari jauh—sebuah keluarga kolibri.