Category  |  Santapan Rohani

Apa yang akan datang? 

Pada malam tanggal 3 April 1968, Dr. Martin Luther King berpidato untuk terakhir kalinya dengan judul “Saya Sudah Pernah ke Puncak Gunung.” Dalam pidato itu, Dr. King mengisyaratkan bahwa ia yakin hidupnya tidak akan lama lagi. Katanya, “Hari-hari ke depan akan sulit. Namun, itu tidak masalah bagi saya sekarang. Karena saya sudah pernah ke puncak gunung. Dari sana saya melayangkan pandangan saya. Dan saya sudah melihat tanah perjanjian itu. Mungkin saya tidak akan sampai di sana bersama kalian. . . . [Namun] saya bahagia malam ini. Tidak ada yang saya khawatirkan. Tidak ada yang saya takutkan. Mata saya telah melihat kemuliaan Tuhan yang akan datang.” Keesokan harinya, ia tewas dibunuh. 

Memberi dengan Sukacita

Bertahun-tahun lalu, istri saya menerima sejumlah kecil potongan harga dari barang yang dibelinya. Ia sama sekali tidak mengharapkannya, tetapi potongan itu tiba suatu hari melalui surat. Di saat yang hampir bersamaan, teman baiknya bercerita tentang kebutuhan mendesak dari beberapa wanita di negara lain. Mereka adalah para wanita berjiwa wirausaha yang sedang berusaha meningkatkan taraf hidup mereka melalui jalur pendidikan dan…

Berdoa Seperti Yesus

Setiap mata uang memiliki dua sisi. Sisi depan disebut “kepala” dan, sejak zaman Romawi kuno, biasanya menampilkan gambar kepala negara. Sisi belakang disebut “ekor”, suatu istilah yang kemungkinan berasal dari mata uang sepuluh pence di Inggris yang mencantumkan gambar ekor terangkat dari sosok seekor singa yang menjadi lambang negara.

Warisan Hanya Perlu Diterima

“Terima kasih untuk traktiran makan malamnya, Ayah,” saya berkata sambil meletakkan serbet di atas meja restoran. Saat itu saya sedang pulang ke rumah semasa libur kuliah dan, setelah sekian lama meninggalkan rumah, saya merasa janggal ketika orangtua mentraktir saya. “Sama-sama, Julie,” jawab ayah saya, “tetapi kamu tidak perlu selalu berterima kasih. Ayah tahu kamu sudah hidup sendiri, tetapi kamu tetap anak Ayah dan bagian dari keluarga.“ Saya tersenyum. “Terima kasih, Ayah.”

Roti yang Diberkati

Ketika putri tertua kami beranjak remaja, saya dan istri memberinya sebuah buku harian yang sudah kami tulis sejak kelahirannya. Di dalamnya, kami mencatat hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, polah tingkah dan celetukan-celetukannya yang menggemaskan. Di beberapa bagian, tulisan di dalamnya lebih terlihat seperti surat, berisi penggambaran apa yang kami lihat dari dirinya serta karya Allah dalam dirinya. Ketika kami memberikan buku harian itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas, ia begitu terpesona. Ia menerima kesempatan yang berharga untuk mengetahui bagian penting dari permulaan identitas dirinya.

Tersambung Dengan Allah

Di sebuah toko barang bekas, saya menemukan lampu yang rasa-rasanya cocok untuk ruang kerja saya di rumah—warna, ukuran, dan harganya pas. Namun, ketika saya mencolokkan lampu itu ke stop kontak di rumah, tidak terjadi apa-apa. Lampunya tidak menyala. Tidak ada daya yang mengalir.

Penebang Pohon

Suatu kali semasa kuliah, saya pernah bekerja memotong, menyusun, menjual, dan mengantarkan kayu bakar. Sungguh pekerjaan yang sangat berat, karena itu saya sangat berempati kepada penebang kayu malang dalam kisah 2 Raja-Raja 6.

Kematian yang Berharga

Pameran yang diadakan oleh pemahat Liz Shepherd pada tahun 2018 berjudul “The Wait” disebut koresponden surat kabar Boston Globe telah “mengingatkan kita pada sesuatu yang berharga, gamblang, dan istimewa dalam hidup.” Pameran karya-karya Shepherd yang terilhami oleh masa-masa ketika ia menemani ayahnya yang sekarat tersebut berusaha mengungkapkan perasaan rindu, hampa, dan rapuh yang dialami setelah orang yang dikasihi pergi meninggalkan kita.

Melihat Keselamatan

Di usia lima puluh tiga tahun, Sonia sama sekali tidak pernah terpikir akan meninggalkan usahanya dan negaranya, lalu bergabung dengan sekelompok orang yang mencari suaka ke negara lain. Setelah keponakan laki-lakinya dibunuh oleh komplotan perusuh dan mereka juga memaksa anak laki-lakinya yang berusia 17 tahun untuk masuk dalam komplotan mereka, Sonia merasa bahwa melarikan diri menjadi satu-satunya pilihan. “Saya berdoa kepada Allah . . . apa pun akan saya lakukan,” Sonia menjelaskan, “asalkan kami berdua tidak mati kelaparan. . . . Saya lebih senang melihat anak saya menderita di sini daripada hidupnya berakhir di selokan atau di dalam karung.“