
Fokus kepada Allah
Setidaknya ia lulus, pikir Jess sambil memegang kertas ujian anaknya. Selama ini ia telah membantu putranya belajar matematika, tetapi dengan urusan rumah dan tambahan pekerjaan dari atasannya belakangan ini, sulit untuk melakukannya dengan teratur. Dalam keputusasaan, Jess teringat pada istrinya yang telah berpulang: Lisa, kamu pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan. Aku tidak sebaik kamu dalam mengurus rumah tangga.

Mengikuti Yesus yang Rendah Hati
Dekat rumah kami, ada sebuah taman terkenal tempat kami sering berjalan santai bersama seorang anak laki-laki yang kami asuh. Area favoritnya adalah Taman Anak-Anak, dan di sana terdapat sebuah pintu kecil yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya, tetapi cukup rendah untuk membuat saya harus membungkuk jika ingin melewatinya. Ia tertawa riang melihat saya berlutut dan menggeliat saat melewati pintu itu untuk mengejarnya.

Berlimpah dengan Kasih
Semasa remaja, saat mengikuti sebuah perkemahan musim panas, saya pernah merasa tidak nyaman dan terasing di tengah sekelompok peserta lainnya. Ketika salah seorang dari mereka mengolok-olok penampilan saya, hati saya terasa perih. Saya langsung berlari pulang ke tenda dan berpura-pura tidur ketika pemimpin grup datang memeriksa. Keesokan harinya, saya memilih untuk menghindar saat ia mencoba membicarakan kejadian itu.

Berfokus pada Allah
Suatu kali, seorang rekan kerja menelepon untuk membahas sebuah masalah. Ia sempat menanyakan kabar saya, dan saya menceritakan bahwa saya sedang mengalami infeksi sinus yang cukup menyiksa, sementara obat yang saya konsumsi belum memberikan hasil. Mendengar itu, ia bertanya, “Bolehkah aku mendoakanmu?” Setelah saya mengiyakan, ia pun menaikkan doa singkat sepanjang 30 detik kepada Allah untuk memohon kesembuhan bagi saya. Saya mengaku kepadanya, “Kadang aku lupa berdoa. Aku terlalu berfokus pada rasa sakitku hingga lupa untuk mencari Tuhan.”
