
Sungguh Ajaib Perbuatan Allah
Samuel F. B. Morse adalah putra seorang pendeta Protestan yang berjuang untuk menghidupi dirinya dengan bekerja sebagai pelukis. Pada dekade 1820-an, ia hidup pas-pasan sebagai pelukis keliling di Amerika. Namun, hidupnya dipimpin Allah ke arah yang berbeda. Morse juga memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan. Ia belajar tentang elektromagnet dan kemudian mengembangkan sebuah ide yang akan mengubah dunia. Pada tahun 1832, Morse menelurkan pemikiran tentang telegraf listrik, dan kemudian berhasil menemukan telegraf pertama yang dapat digunakan.

Mengharapkan Sukacita
Dalam blognya, Bronnie Ware mengulas berbagai penyesalan yang ia dengar saat merawat para penderita penyakit yang tidak tersembuhkan. Sebagai contoh, “Andai saja aku bekerja tidak terlalu keras,” “Aku menyesal tidak menjaga hubungan dengan teman-temanku,” dan yang mungkin paling menyentuh: “Seharusnya aku lebih membahagiakan diriku.”

Yesus Menjamah Kita
Letty, seorang petugas kebersihan di sebuah gedung perkantoran, dikenal dapat berjalan dengan sangat cepat. Berjalan cepat membuatnya bisa menghindari orang banyak. Saat melewati orang-orang, Letty, yang lama didera kemiskinan dan terbiasa direndahkan, secara refleks menutupi sebagian wajahnya dengan tangan. Ia menyatakan bahwa rasa malunya yang besar timbul karena ia merasa tidak seperti “orang lain yang normal, rupawan, dan berpendidikan.” Namun, hati Letty mulai pulih ketika seorang wanita di tempat ia bekerja mengajaknya berteman.
Menggali Hikmat
Sekelompok pekerja konstruksi di Florida yang sedang mengerjakan proyek saluran drainase telah menemukan harta karun yang sangat berharga. Jauh di dalam tanah, mereka menemukan sebuah perahu nelayan dari era 1800-an yang masih terawat baik. Di dalam perahu itu ditemukan artefak-artefak yang menarik, seperti beberapa bagian dari lampu minyak tanah, gelas yang terbuat dari tempurung kelapa, dan sejumlah uang logam. Kapal tersebut kemudian diteliti dengan harapan dapat menyediakan informasi tentang cara hidup orang di wilayah tersebut lebih dari 100 tahun yang lalu. “[Ini] lebih dari sekadar soal perahu. [Ini] merupakan pengingat tentang kehidupan orang sehari-hari pada masa itu,” kata salah seorang arkeolog maritim. Dengan menggali semakin dalam, pengetahuan dan hikmat pun diperoleh.

Tabut yang Hilang
Dalam suatu retret gereja pada musim gugur, putra saya mengajak Jeff, pendeta kami, menapaki jalan setapak menuju suatu ruangan kapel di alam terbuka. Tiba-tiba, di sana mereka menemukan tabut perjanjian! Tentu saja, itu bukan tabut yang asli, melainkan replika berukuran sebenarnya dan bersalutkan emas. Tabut tersebut awalnya dibuat oleh suami saya beberapa tahun lalu, dengan dorongan dari Jeff, dan saat itu baru saja diselesaikan oleh putra saya sebagai kejutan baginya.