Category  |  Santapan Rohani

Kebesaran dan Kepedulian Allah

Mungkinkah Allah peduli kepada semua orang ini? Pikiran itu muncul saat saya melangkah keluar dari peron kereta yang sibuk di suatu kota yang padat, ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Saat itu saya masih remaja dan baru pertama kalinya bepergian ke luar negeri, sehingga saya tidak kuasa membayangkan besarnya dunia di sekeliling saya. Saya merasa begitu kecil dan bertanya-tanya bagaimana Allah dapat mengasihi begitu banyak orang.

Menyerahkan Kekhawatiran

Saya berjalan ke kios di bandara untuk melakukan check in dengan menggunakan nomor konfirmasi yang tersimpan dalam ponsel saya. Pada saat itu saya baru sadar, ternyata ponsel saya hilang! Ponsel itu tertinggal di dalam mobil yang tadi mengantar saya. Bagaimana saya dapat menghubungi pengemudi taksi daring yang mengantar saya itu?

Sikap Berdoa

Perjuangan panjang melawan suatu penyakit kronis telah membuat Jimmy menderita. Walau rindu meluangkan waktu bersama Allah setiap pagi, dengan berdoa dan merenungkan firman-Nya, Jimmy kesulitan menemukan posisi duduk yang tidak membuatnya kesakitan. Ia sudah menggeser tubuhnya dari satu sisi ke sisi yang lain, tetapi tidak juga menemukan posisi yang nyaman. Akhirnya, dalam keputusasaannya, ia berlutut. Namun, tanpa diduga, sikap seperti berdoa itu ternyata dapat mengurangi rasa sakit pada tubuhnya. Jadi, di hari-hari berikutnya Jimmy pun mengambil waktu bersama Allah dengan berlutut—posisi yang membuatnya nyaman sembari berdoa kepada-Nya.

Jalan Allah adalah Kasih

Dengan kelebihan waktu yang saya punya, saya sudah berencana akan melayani orang-orang semampu saya selama beberapa bulan ke depan. Namun, ketika sedang membantu seorang teman, saya tersandung dan jatuh hingga lengan saya patah di tiga bagian. Kini sayalah yang membutuhkan pertolongan. Saudara-saudari seiman menunjukkan kepedulian mereka dengan menjenguk, memberikan hadiah, mengirim bunga, menelepon, mengirim pesan pendek, doa, menyediakan makanan (bahkan sekotak cokelat), dan membantu saya berbelanja. Saya sungguh terharu mengalami betapa baiknya anggota keluarga, teman-teman, dan rekan-rekan gereja saya! Saya merasa seolah-olah Allah berkata kepada saya, “Tenang saja. Kamu membutuhkan pertolongan, dan kamu akan melihat seperti apa kepedulian itu.” Berkat kepedulian itu, saya lebih memahami apa artinya melayani dengan sepenuh hati dan mengucap syukur kepada Allah atas kehadiran sesama.