Category  |  Santapan Rohani

Menyalahgunakan Nama Allah

Selembar foto lama, yang merekam adegan di luar markas besar Nazi di sebuah kota pada masa Perang Dunia II, mengandung peringatan yang penting bagi kita semua. Di dalamnya tampak seorang wanita berbusana rapi sedang menyeberang jalan, seorang pria berjas berjalan di trotoar, dan seorang lainnya membaca papan pengumuman di sudut gedung. Mereka semua tampaknya tidak menyadari spanduk besar yang tergantung di atas pintu masuk markas besar itu, dengan tulisan: “Dengan menolak orang Yahudi, saya berjuang di jalan Tuhan.”

Gagal Mengenali Allah

Banyak orang menjauhi George Chase. George tinggal di sebuah pondok kecil berukuran 13 meter persegi di tengah hutan yang terletak pada pertemuan Sungai Pawcatuck dan Teluk Little Narragansett, New England. Penduduk setempat tahu bahwa George tidak memiliki bak mandi—fakta yang terbukti dari aroma tubuhnya.

Kepemimpinan yang Rendah Hati

Teman saya, Butch Briggs, telah bekerja sebagai pelatih renang di sebuah sekolah menengah di kotanya selama 51 tahun. Suatu hari saya bertanya, “Berapa banyak piala kejuaraan negara bagian yang telah kamu raih dalam lima dekade?” Dengan rendah hati, ia berujar, “Tidak satu pun—karena saya tidak ikut berlomba.” Saya lalu mengubah pertanyaannya, “Kalau murid-muridmu, berapa kali mereka juara?” Butch tersenyum sambil berkata, “Tiga puluh sembilan kali.” Jawaban Butch memberi saya pelajaran berharga. Sebagai pelatih, perannya memang penting, tetapi ia tidak ingin mengklaim kemenangan timnya sebagai jasanya sendiri.

Dididik dalam Kasih

Woody Cooper pernah berdiri di antara kerumunan yang mengolok-olok Dorothy Counts, seorang gadis berkulit hitam yang mendaftar ke sekolah menengah bagi siswa kulit putih di Carolina Utara. Ketika para siswa mengejek dan melemparkan sampah ke arah Dorothy, Woody tidak menegur mereka. Bahkan saat seorang siswi berteriak, “Ayo, teman-teman, ludahi dia!” Woody tetap tidak berkata apa-apa. Di kemudian hari, ia merenung, Kenapa aku tidak angkat suara sedikit pun? Padahal ia hanya siswi biasa yang ingin bersekolah. Empat puluh sembilan tahun setelah peristiwa tersebut, setelah didera rasa bersalah dan melihat dirinya dalam foto yang merekam kejadian itu, Woody memutuskan untuk menghubungi Dorothy dan meminta maaf.

Mengingat untuk Melupakan

Penulis Richard Mouw menceritakan tentang seorang teolog berkulit hitam dari Afrika Selatan yang bergumul dengan kenangan kelam dari masa hidupnya di bawah politik rasialisme apartheid. Mouw menulis, “Ia mengutip kisah seorang anak Afrika yang ditanya oleh gurunya tentang arti kata ‘memori.’ Setelah berpikir sejenak, anak itu menjawab, ‘Memori adalah sesuatu yang membantu saya untuk melupakan.’” Jawaban yang luar biasa dari seorang gadis kecil! Karena masa lalunya begitu menyakitkan, ia hanya ingin mengingat hal-hal yang baik.