Kemurahan Hati yang Menyegarkan
Dalam auditorium Sekolah Kedokteran Albert Einstein, para mahasiswa berkumpul untuk menyimak dengan penuh perhatian pidato seorang wanita berusia 90 tahun bernama Ruth Gottesman. Di akhir pidatonya, Ruth mengumumkan sesuatu yang mengejutkan—ia akan menyumbangkan 1 miliar dolar AS agar para mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tanpa harus membayar biaya kuliah. Kabar tersebut disambut sorakan dan ekspresi tak percaya dari seluruh hadirin. Donasi itu menjadi yang terbesar sepanjang sejarah sekolah kedokteran. Namun, dalam berbagai wawancara setelah momen itu, Ruth berbicara seolah-oleh dirinya yang menerima anugerah. Ia merasa begitu bersyukur, bersukacita, dan terhormat karena dapat membagikan kekayaannya.
Pergi dan Ceritakan tentang Yesus
Saat bus kami menanjak di jalan sempit yang membelah Pegunungan Andes, suasana di dalam kendaraan penuh tawa dan nyanyian dari rekan-rekan saya. Sementara saya yang menatap keluar jendela begitu terkejut melihat tidak adanya pagar pembatas antara bus dan jurang di sisi jalan. Rasa cemas mulai muncul seiring perjalanan yang makin mendaki, sehingga saya mempertanyakan dalam hati mengapa tim misi kami perlu jauh-jauh datang ke wilayah terpencil di Ekuador ini. Saat itulah saya tersadar: Allah begitu mengasihi orang-orang di sana, hingga Dia rela mengutus Putra-Nya sendiri untuk mati bagi mereka. Keyakinan itu memberi saya keberanian untuk menempuh perjalanan yang menegangkan ini demi menyampaikan kasih Allah tersebut kepada mereka.
Iman Kawan-Kawan
Dalam sebuah konferensi, seorang wanita melihat kawannya yang menjadi penyaji materi hari itu tampak kurang sehat. Kawan ini bersikeras menyelesaikan tugasnya dan berjanji akan menemui dokter keesokan paginya jika masih merasa tidak enak badan. Wanita itu tidak melupakan janji tersebut, tetapi karena harus pergi lebih awal, ia meminta seorang rekan yang lain untuk mengecek keadaan kawan tadi.

Berdoa sambil Berjalan
Pikiran saya buntu. Setengah renungan telah ditulis, tetapi inspirasi seolah menguap. “Tuhan, apa yang harus kulakukan?” saya berdoa. Saya lalu teringat pada sebuah riset yang menunjukkan bahwa berjalan kaki dapat meningkatkan kreativitas hingga 60 persen. Jadi, saya pun menapaki jalan kecil di belakang rumah, sambil melanjutkan percakapan saya dengan Allah. Tiga puluh menit kemudian, pikiran saya kembali segar. Saya duduk di depan komputer dan dapat menyelesaikan tulisan itu.

Jawaban dari Pelangi Allah
Saat sedang berlibur di luar negeri, Owen menerima pesan yang kurang mengenakkan dari rekan kerjanya: “Bos sedang berpikir untuk menggantikanmu dengan orang lain.” Dengan hati yang cemas, ia berdoa di suatu subuh, “Di manakah Engkau, Tuhan?” Kemudian, saat membuka tirai jendela, ia melihat pelangi yang indah dan megah terbentang di atas danau. Hatinya langsung diliputi kehangatan. “Aku merasa seperti Allah berkata, ‘Jangan khawatir, Aku di sini,’” kenangnya di kemudian hari.

Menyalahgunakan Nama Allah
Selembar foto lama, yang merekam adegan di luar markas besar Nazi di sebuah kota pada masa Perang Dunia II, mengandung peringatan yang penting bagi kita semua. Di dalamnya tampak seorang wanita berbusana rapi sedang menyeberang jalan, seorang pria berjas berjalan di trotoar, dan seorang lainnya membaca papan pengumuman di sudut gedung. Mereka semua tampaknya tidak menyadari spanduk besar yang tergantung di atas pintu masuk markas besar itu, dengan tulisan: “Dengan menolak orang Yahudi, saya berjuang di jalan Tuhan.”