Category  |  Santapan Rohani

Berontak dan Kembali

The Wild One (Orang yang Liar) adalah film tahun 1953 yang dibintangi Marlon Brando. Brando berperan sebagai Johnny Strabler, seorang pemimpin geng motor yang pemurung dan bermasalah. Dalam salah satu adegan, seorang wanita muda memperhatikan jaket anggota geng yang mencantumkan singkatan B.R.M.C. Ketika mengetahui bahwa huruf “R” tersebut berarti “rebels” (pemberontak), ia tertawa dan menyentuh lengan Brando yang sedang bermain drum. “Hai, Johnny. Kamu berontak terhadap apa?” Johnny menjawab, “Apa saja yang ada di depanku.”

Harapan yang Dihadirkan Yesus

Semuanya bermula dari sebuah surat elektronik yang saya terima dari seorang ayah yang sedang berduka. Putrinya yang bernama Alyssa, seorang mahasiswi tingkat tiga, meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Ayah tersebut mencari seseorang yang dapat memahami kepedihannya yang begitu mendalam.

Kepuasan Sejati di dalam Allah

Tiga puluh tahun lalu, saya mengikuti sebuah aktivitas dalam lokakarya bagi para pengangguran yang masih membekas dalam ingatan saya hingga kini. Saya dan rekan-rekan lain yang terkena PHK diminta untuk menulis pidato menjelang pensiun. Tentu saja kami merasa bingung, karena saat itu kami sedang mencari pekerjaan dan masih jauh dari usia pensiun. Namun, fasilitatornya menjelaskan tujuan dari aktivitas tersebut, “Pidato Anda kemungkinan tidak akan berkaitan langsung dengan pekerjaan Anda.” Ia menegaskan bahwa pekerjaan bukanlah pusat hidup kita. Kita mungkin menyesali pekerjaan yang hilang, tetapi sesungguhnya hidup kita jauh lebih bermakna daripada sekadar memiliki pekerjaan.

Kasih dan Kebaikan Hati Allah

Di Grand Rapids, Michigan, sebuah taman kota terletak berdampingan dengan penjara di suatu jalan bernama Ball Street. Teman saya, Joann, senang berada di kedua tempat itu. Di taman, ia menikmati waktunya merenungkan kebaikan Allah dan betapa ia mengasihi-Nya karena karya Allah di dalam hidupnya. Sementara itu, di penjara, Joann senang melayani para narapidana wanita, dengan menceritakan kesaksian tentang bagaimana Allah telah menebus hidupnya setelah ia sempat terjerumus dalam jalan hidup yang jauh dari-Nya. Joann bercerita kepada saya tentang kerinduannya agar semua narapidana wanita di sana dapat mengenal dan mengalami kasih Allah secara pribadi.