
Belas Kasihan atas Kegagalan Kita
Dalam suatu kelas sekolah Minggu, kesabaran saya terhadap seorang anak berusia tiga tahun bernama Peter mulai menipis. Ia tampak gelisah, bersikap ketus kepada anak-anak lain, dan tidak mau tenang, bahkan setelah para guru menawarkan mainan yang paling ia inginkan. Rasa iba saya perlahan berubah menjadi kekesalan. Jika ia terus bersikap keras kepala dan menyulitkan, saya pikir lebih baik ia dikembalikan saja kepada orangtuanya dan tidak perlu ada di kelas.

Jadilah Seperti Yesus
Di lorong sempit sebuah pesawat jet kecil, seorang penumpang bertubuh jangkung tampak seperti melipat dirinya ketika berdiri. Pandangan saya tertuju pada buku yang ia genggam erat: Jadilah Seperti Yesus. Namun, beberapa menit kemudian, saya melihatnya mendorong orang lain saat hendak mengambil tasnya dari troli. Bagaimana dengan panggilan menjadi seperti Yesus? Saya tidak tahu apakah ia benar-benar mengenal Kristus, tetapi sikapnya yang egois dan tidak mencerminkan kelembutan Yesus membuat saya kecewa.

Dalam Jangkauan Allah
Seorang gadis berusia 16 tahun dijatuhi hukuman 50 tahun penjara dan harus mendekam di lembaga pemasyarakatan dengan penjagaan maksimum. Karena usianya yang masih muda, ia ditempatkan di sel isolasi, terpisah dari narapidana lainnya. Selama hampir satu tahun, tak ada seorang pun yang mengunjunginya. Namun, ketika berlangsung sebuah pelayanan penjangkauan dan baptisan di penjara itu, para penjaga mengizinkan hamba Tuhan yang melayani untuk masuk ke sel gadis itu. Gadis muda itu pun mendengar Injil, mau menyerahkan hidupnya kepada Yesus, dan meminta untuk dibaptis. Awalnya, tim pelayanan berencana menggunakan air botol kemasan untuk baptisan, tetapi secara tak terduga, petugas menonaktifkan seluruh fasilitas penjagaan dan menggiring gadis itu ke sebuah kolam baptis portabel. Saat mendengar orang-orang mendoakannya, gadis muda itu pun menangis.

Selamat oleh Belas Kasihan Allah
Charles Joughin telah menjadi pelaut sejak usia 11 tahun. Ia bekerja sebagai juru roti di berbagai kapal, dan pada tahun 1912, ia bertugas di sebuah kapal pesiar yang berangkat dari Southampton, Inggris—Titanic. Di tengah pelayaran melintasi Samudra Atlantik Utara, kapal itu menabrak gunung es. Saat Titanic mulai tenggelam, Joughin membantu banyak penumpang untuk menyelamatkan diri dengan sekoci. Ia sendiri berdiri di ujung kapal ketika Titanic tenggelam tegak lurus ke dasar laut. Yang luar biasa, ia berhasil selamat.
