Category  |  Santapan Rohani

Kecil dan Luar Biasa

Pada tanggal 9 Desember 1987, karena seekor tupai mengunyah kabel listrik di Connecticut, sistem komputer yang mengelola indeks pasar saham raksasa milik Nasdaq tercekat, tersendat, lalu padam. Sejumlah perusahaan besar di dunia dibuat lumpuh dan tak berdaya. Selama hampir satu setengah jam, perekonomian global menanti dengan cemas akan pengaruh yang ditimbulkannya. Semua itu terjadi karena seekor hewan pengerat kecil yang ulet.

Perang Tulang

Di kawasan barat Amerika pada akhir tahun 1800-an, pencarian tulang dinosaurus sempat memicu “Perang Tulang,” persaingan sengit antara dua paleontolog yang berlomba menemukan fosil paling bersejarah. Seorang penulis mencatat bahwa keduanya “menggunakan cara-cara curang untuk saling mengalahkan, termasuk suap, pencurian, dan penghancuran tulang.” Dalam usaha menjatuhkan satu sama lain, kedua ahli itu justru merusak reputasi mereka sendiri.

Mencari Kanak-Kanak Kristus

Ketika pengajar Peter Turchi memandang sebuah peta, ia langsung membayangkan petualangan tersembunyi di dalamnya. “Meminta sebuah peta,” katanya, “sama seperti berkata, ‘Ceritakan padaku sebuah kisah.’” Gagasan itu menginspirasi saya saat mempersiapkan bahan pembinaan bertema “Iman Orang-Orang Majus” di masa Natal. Saat mempelajari peta wilayah itu, saya menemukan bahwa orang-orang majus menempuh perjalanan hampir 1.500 km, mungkin selama beberapa bulan, demi mencari Kristus, Sang Anak. Namun, yang mereka temukan bukanlah bayi di palungan, melainkan seorang balita yang tinggal bersama orangtuanya di dalam sebuah rumah. Bagaimana respons mereka setelah perjalanan sepanjang itu? “Mereka sujud dan menyembah Anak itu” (Mat. 2:11 BIMK).

Berdoa dengan Kepedulian

Seorang wanita terlihat sangat gelisah saat memeriksakan giginya ke dokter. Beban keluarga yang berat tampak jelas membayangi wajahnya. Dokter gigi yang merawatnya merasakan kegelisahan itu, lalu menanyakan keadaannya. Setelah wanita itu bercerita, sang dokter bertanya dengan lembut, “Bolehkah saya mendoakan Anda?” Kemudian, dokter higiene gigi yang masuk ke ruangan pun ikut mendoakannya. Setelah dua kali didoakan, dan perawatan giginya selesai, wanita itu meninggalkan ruangan dengan menyadari bahwa dirinya sungguh dipedulikan.

Karya Ciptaan Allah yang Indah

Bagi orangtua, kematian seorang anak pastilah menimbulkan luka yang sangat dalam. Namun, bagaimana jika kematian itu terjadi dua kali? Sungguh tak terbayangkan kepedihannya! Itulah kenyataan pahit yang dialami oleh Nick Cave, seorang musisi, penulis, dan aktor asal Australia. Pada tahun 2015, putranya yang berusia 15 tahun terjatuh dari tebing dan meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, anak sulungnya juga berpulang. Dalam cengkeraman duka yang begitu mendalam, bagaimana Cave dan istrinya mampu bertahan? Bagaimana seseorang tetap berdiri ketika dunia seolah runtuh?