Category  |  Santapan Rohani

Kepuasan Sejati di dalam Allah

Tiga puluh tahun lalu, saya mengikuti sebuah aktivitas dalam lokakarya bagi para pengangguran yang masih membekas dalam ingatan saya hingga kini. Saya dan rekan-rekan lain yang terkena PHK diminta untuk menulis pidato menjelang pensiun. Tentu saja kami merasa bingung, karena saat itu kami sedang mencari pekerjaan dan masih jauh dari usia pensiun. Namun, fasilitatornya menjelaskan tujuan dari aktivitas tersebut, “Pidato Anda kemungkinan tidak akan berkaitan langsung dengan pekerjaan Anda.” Ia menegaskan bahwa pekerjaan bukanlah pusat hidup kita. Kita mungkin menyesali pekerjaan yang hilang, tetapi sesungguhnya hidup kita jauh lebih bermakna daripada sekadar memiliki pekerjaan.

Kasih dan Kebaikan Hati Allah

Di Grand Rapids, Michigan, sebuah taman kota terletak berdampingan dengan penjara di suatu jalan bernama Ball Street. Teman saya, Joann, senang berada di kedua tempat itu. Di taman, ia menikmati waktunya merenungkan kebaikan Allah dan betapa ia mengasihi-Nya karena karya Allah di dalam hidupnya. Sementara itu, di penjara, Joann senang melayani para narapidana wanita, dengan menceritakan kesaksian tentang bagaimana Allah telah menebus hidupnya setelah ia sempat terjerumus dalam jalan hidup yang jauh dari-Nya. Joann bercerita kepada saya tentang kerinduannya agar semua narapidana wanita di sana dapat mengenal dan mengalami kasih Allah secara pribadi.

Satu dalam Kristus

Pada Januari 1967, kota Winneconne tidak sengaja terhapus dari peta jalan yang diterbitkan oleh pemerintah negara bagian Wisconsin. Akibatnya, pendapatan penting dari sektor pariwisata pun hilang. Karena itu, kota tersebut memutuskan untuk memisahkan diri dari Wisconsin dan menjadi negara bagiannya sendiri pada tanggal 21 Juli. Sebagian orang menilai tindakan pemisahan diri itu sebagai upaya mempermalukan pemerintah, sementara yang lain melihatnya sebagai keisengan semata. Namun, pada akhirnya, pemerintah dan kota tersebut berdamai serta bersatu kembali pada 22 Juli 1967.

Kebaikan Allah

“Oh, tidak!” Itulah reaksi saya saat membuka sarang lebah dan mendapati koloni yang sebelumnya makmur kini mati mendadak. Sarang yang penuh madu itu telah saya rawat dengan cermat sepanjang musim dingin yang relatif ringan. Tadinya saya berharap mendapat panen lebih awal. Sayangnya, cuaca dingin yang tiba-tiba melanda di tengah suhu hangat membuat semuanya gagal.