
Selamat oleh Belas Kasihan Allah
Charles Joughin telah menjadi pelaut sejak usia 11 tahun. Ia bekerja sebagai juru roti di berbagai kapal, dan pada tahun 1912, ia bertugas di sebuah kapal pesiar yang berangkat dari Southampton, Inggris—Titanic. Di tengah pelayaran melintasi Samudra Atlantik Utara, kapal itu menabrak gunung es. Saat Titanic mulai tenggelam, Joughin membantu banyak penumpang untuk menyelamatkan diri dengan sekoci. Ia sendiri berdiri di ujung kapal ketika Titanic tenggelam tegak lurus ke dasar laut. Yang luar biasa, ia berhasil selamat.

Kerinduan yang Terpenuhi
Blaise Pascal pernah berkata bahwa dalam diri manusia ada “kehampaan yang tak terbatas” yang hanya dapat diisi oleh Allah yang tak terbatas. Doa Agustinus menggemakan hal yang sama: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan pernah tenang sebelum menemukan peristirahatannya di dalam Engkau.” Dalam Alkitab, Daud sendiri menyatakan bagaimana seluruh diri kita “rindu” kepada Allah, bagaikan orang yang haus akan air di tengah padang gurun (Mzm. 63:2).

Interupsi Ilahi
Sara memulai harinya pada dini hari dengan membuat daftar kegiatan yang harus ia selesaikan hari itu. Namun, rencananya terusik oleh permintaan dari sebuah keluarga muda yang membutuhkan bantuan. Mereka sedang menantikan kupon pembelian bahan bakar dari gereja, dan di tengah kesibukannya, Sara merasa Allah menggerakkannya untuk mengantar sendiri kupon itu. Ia pun menyanggupi untuk menghampiri keluarga itu di hotel tempat gereja menempatkan mereka selama beberapa minggu. Namun, ketika menemukan bahwa alamatnya lebih jauh daripada perkiraannya, ia sempat berkata kepada Allah dengan kesal, Begitu banyak bensin yang harus kukeluarkan demi menyampaikan kupon ini kepada mereka!
![Jika [Anda] menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah . . . malu, melainkan hendaklah [Anda] memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. (1 Petrus 4:16) Jika [Anda] menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah . . . malu, melainkan hendaklah [Anda] memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. (1 Petrus 4:16)](https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2025/12/27004701/SOCIAL-POST_20260120-940x1175.jpg)
Hak Istimewa Kita dalam Kristus
Pemilik tim bola basket NBA Dallas Mavericks pernah menawarkan 100.000 dolar AS (lebih dari 1,6 milyar rupiah) kepada seorang pembawa acara olahraga asal Chicago untuk secara resmi mengganti namanya menjadi “Dallas Maverick.” Ia juga berjanji akan menyumbangkan jumlah yang sama kepada badan amal yang dipilih oleh sang pembawa acara. Setelah mempertimbangkan dengan serius, pembawa acara tersebut tetap teguh pada pendiriannya dan menolak tawaran itu. Ia menjelaskan, “Kalau saya mengiyakan, berarti saya mau melakukan apa saja demi uang, dan itu mengusik hati nurani saya. Nama saya adalah hak istimewa saya sejak lahir. Saya ingin menjaga integritas dan kredibilitas saya.”
